Segala Sesuatu yang Keluar dari Hati, maka akan Kembali ke Hati

Semoga dapat diambil hikmahnya, cerita nyata dari seseorang di belahan Indonesia Timur.

Bismillahirrahmanirrahim..

Abi cinta Ummi

Penyesalan memang selalu datang terlambat pada kehidupan kita, dan penyesalan terkadang hanya memberi duka yang mendalam pada kita, disaat mengenang kembali sejarah silam yang menjadi penyebab penyesalan itu muncul…, demikan yang aku alami saat ini. Duka yang teramat mendalam itu kini masih mendera dalam lubuk hatiku yang paling dalam, saat menyadari bahwa saat ini aku tengah kembali menyendiri, setelah setahun silam orang yang sangat mengasihi aku, orang yang sangat peduli padaku telah dipanggil oleh Allah.

Aku adalah seorang lelaki yang telah membina mahligai rumah tangga bersama seorang wanita sholehah sejak tahun 2004 silam, kuakui, memang pernikahan itu terjadi karena perjodohan yang diinginkan oleh Orang tua kami masing-masing, sebab orang tuaku dan orang tua maryam (Nama istriku,-samaran) adalah memiliki ikatan keluarga, meskipun ikatan itu tidak terlalu dekat, akan tetapi masa kecil mereka hingga dewasa dan menikahnya hampir selalu bersama (Ayahku dan ayahnya maryam berteman sejak kecil) sehingga kesepakatan untuk menjodohkan kami selaku anak-anaknya tak bisa dielakkan lagi. Jujur aku sendiri awalnya tidak begitu respek dengan perjodohan itu, dan ketidak respekan itu bukan tanpa alasan, betapa tidak, pertama usiaku dan maryam terpaut 4 tahun, saat menikah saat itu usia maryam memasuki 28 tahun sementara aku masih berusia 24 tahun. Yang kedua maryam memiliki latar belakang pemahaman agama yang sangat kuat, sementara aku mengenal islam hanya dari kulitnya saja (Islam KTP). Maka dari perbedaan itulah membuat aku jadi tidak respek dengan rencana perjodohan itu, sementara kudengar dari beberapa teman kampusku yang mengenal organisasi dimana maryam bernaung, katanya hampir semua bahkan mungkin semua wanita seperti maryam yang taat dalam memegang syariat islam, memiliki impian bisa menikah dengan lelaki  yang memiliki ketaatan yang sama seperti mereka, lelaki sholeh, berjenggot dengan celana diatas mata kaki. Dan aku sendiri yakin saat perjodohan itu direncanakan, ada sejuta protes dihati maryam menyadari bahwa lelaki seperti akulah yang dijodohkan dengannya, tetapi kondisilah yang tidak membuatnya sanggup untuk melawan keinginan orang tuanya, apalagi aku juga sangat mengenal watak orang tua maryam yang keras.

Begitulah.., tak pernah terlintas dalam benak kami berdua bahwa justru berbagai perbedaan itu menyatukan kami berdua dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci, dan setuju atau tidak, ikhlas atau tidak akhirnya tahun 2004 itulah awal kebersamaan kami menjalani biduk rumah tangga.

Usai pernikahan tersebut dilaksanakan, terasa ada banyak hal yang lain kurasakan, betapa tidak, aku lelaki yang tidak memiliki bekal pengetahuan agama lantas harus menikah dengan seorang gadis muslimah yang taat pada Allah dan RasulNya, banyak hal berkecamuk dalam benakku, haruskah aku hidup dalam bayang-bayang istriku dan turut ikut arus dengan kehidupannya yang kental dengan agama itu?, atau sebaliknya haruskah aku memaksanya untuk ikut arus dengan kehidupanku yang santai dan apa adanya?, fikiran2 itulah mulai muncul dalam benakku diawal pernikahan kami, dan aku sendiri bingung mau dibawa kemana biduk rumah tangga kami yang dibangun dengan banyak perbedaan ini, jujur, sebenarnya aku melihat dan menyaksikan sendiri bahwa istriku adalah istri yang sangat baik, melayaniku sepenuh hati dalam segala hal, meskipun aku tahu mungkin tidak ada cinta dihatinya untukku, tetapi tak sedikitpun kata-kata protes keluar dari bibirnya. Setiap hari aktifitas ibadahnya pun masih terus berlangsung tanpa sedikitpun mengusik ketenanganku, maksudku, tak sedikitpun dia mengoceh memintaku untuk sholat bila tiba waktu sholat, semuanya berlalu begitu saja. Demikian pula aku sering mendapatinya selalu eksis mendirikan sholat malam dan akupun tak pernah memprotesnya.

Waktu terus berlalu dan tanpa terasa pernikahan kami telah membuahkan hasil, dimana setahun setelahnya lahirlah bayi mungil hasil pernikahan kami, bayi laki-laki yang akhirnya kuberi nama frans meskipun ibunya cenderung memanggilnya ahmad, lucu memang, bila bayi itu berada ditanganku, maka aku memanggil dia dengan sebutan frans, biar keren dan ikut perkembangan zaman (Cara pandangku terhadap nama-nama anak dizaman modern ini), sementara bila sikecil mungil itu berada dalam buaian maryam, maka namanya berubah menjadi ahmad, pernah bebrapa kali aku menegurnya: ‘Hei.., dizaman semodern ini koq masih pakai nama ahmad sih..yang keren dikit dong, seperti nama yang sudah kukasi padanya “FRANS”, supaya gak malu-maluin.., zaman modern koq masih pakai nama ahmad, apa kata dunia…’  itulah celotehku setiap kali mendengar istriku memanggil frans sikecil jagoanku dengan sebutan ahmad. Tetapi tak ada sedikitpun maryam menanggapi celotehku, dan semua berlalu begitu saja.

Jujur, ada satu hal yang paling membuat aku jengkel dari istriku, ditengah aktifitas kantorku yang padat, dari dulu sampai memasuki setahun pernikahan kami pasti setiap hari selasa dia selalu meminta diantarkan kerumah Gurunya (Murobbiyah-), katanya tarbiyah, dan pasti setiap hari selasa itu pertengkaran pun sering terjadi, betapa tidak, aku yang sibuk dengan pekerjaan kantor harus menerima telepon dan sms darinya meminta diantarkan kerumah gurunya itu, dan kalau telepon dan sms2nya gak dibalas pasti akan disusul dengan telepon dan sms susulan “Abi, tolong antarkan ummi ngaji dong, tinggal sejam lagi ngaji akan dimulai” begitu gambaran smsnya padaku menjelang waktu ngaji nya dimulai, dan selalu dikirimnya dengan sms susulan yang bunyinya tambah memelas penuh pengharapan, dan akhirnya membuatku mau tidak mau harus pulang kerumah dan mengantarnya ketempat ngaji nya, pokoknya sejak saat itulah setiap hari selalsa pasti masalah yang timbul itu2 saja, dan aku sangat jengkel sekali bila haru pulang rumah dari kantor hanya untuk mengantar dan menjemputnya lagi. Jadinya sebelum mengantar dan menjemputnya pasti selalu diawali dengan pertengkaran kecil. aku sendiri sudah pernah memperingatnya untuk berhenti menekuni ngaji nya itu, tetapi disetiap permintaan itu kulontarkan, pasti air matanya akan mengucur deras sambil berujar “abi, maafkan ummi, bukannya ummi tidak mentaati perintah abi, tapi ummi mohon jangan putuskan tarbiyah ummi, sebab bila itu terjadi, pasti hati ummi akan terasa gersang karenanya, sebab dari waktu sepekan, hanya ada satu hari ummi berkumpul dengan teman-teman ummi dan membicakan kondisi ummat saat ini serta hal-hal lain yang bisa membuat ummi merasa damai dalam menjalani hidup ini”

Hmm.., jujur mendengar permintaannya yang memelas itu sedikit membuatku tergugah dan sedikit penasaran, apa sih tarbiyah itu?, koq istriku selalu memberi alasan bahwa hatinya akan selalu tenang dan damai kalau ikut tarbiyah, maksudnya apa sih, gak faham deh…’ ujarku dalam hati. Dan hal lain yang membuatku tidak suka adalah panggilan sayangnya padaku “Abi”, huhhggg..apa gak ada panggilan yang lebih keren apa??, papi kek, kang mas kek, koq panggil Abi…, pernah beberapa kali saat tamuku dari kantor datang kerumah kupanggil dia dengan sebutan mami saat aku minta dibuatkan minuman, tetapi malah di jawabnya iya abi, huuhhgg jengkelnya aku saat itu, entahlah, mungkin karena sudah terbiasa jadinya dia selalu keceplosan, padahal sudah ada kesepakatan sebelumnya bahwa panggilan abi dan ummi itu kuizinkan diberlakukan saat berdua saja, selebihnya harus komitmen dengan panggila papi dan mami, tetapi dasar dikarenakan apa, selalu saja dia lupa dengan kesepakatan itu.

Kuakui bahwa istriku begitu baik padaku, bahkan dimataku hampir-hampir tak ada cacat dan celahnya kebaktiannya padaku, dari sisi biologis aku selalu dipenuhi, keperluan hariankupun tak sedikitpun terlalaikan olehnya, tetapi yang membuat aku sangat jengkel aktifitas dakwahnya masih terus jalan, bahkan teman-temannya selalu datang kerumah

untuk menimba ilmu darinya, katanya Mutarrobbinya, jujur aku sebenarnya gak masalah bila ada yang datang bertamu kerumah, tetapi kalau sudah ditentukan hari yang rutin kemudian dengan jumlah tamu yang berpakaian sama dengan jumlah yang tidak sedikit, apa nantinya tanggapan para tetangga, dan hal itupun menjadikan pertengkaran kecil diantara kami.

“Mi, aku malas jadi bahan omongan orang, katanya kita memelihara aliran sesatlah, aliran yang tidak jelaslah, bisa nggak sih untuk yang satu ini mami ikuti permintaan papi, tolong.., jangan bawa teman2 mami itu kerumah.., apalagi mereka ngumpul hampir setiap pekan sekali…” celotehku disuatu hari.

“Astagfirullah abi, mengapa abi mempersoalkan pandangan tetangga ketimbang pandangan Allah, insya Allah dalam rutinitas trabiyah ummi ini tidak sedikitpun kaitannya dengan aliran sesat atau apalah yang mereka tuduhkan, semua ini hanyalah pengajian biasa yang hanya memperdalam hafalan al-qur’an dan hadist dan mengevaluasi diri-diri kita melalui majelis ilmu seperti ini, tidak lebih abi..demi Allah…”

“Hahh.., pokoknya papi tidak setuju, apapun alasannya…, kalau mami mau menghidupkan majelis-majelis ilmu seperti yang mami bilang itu, maka silahkan cari tempat lain, jangan dirumah ini…”ujarku lagi

“Tapi abi.., kalau ummi mencari tempat lain itu artinya akan menjadi 2 hari dalam sepekan ummi keluar rumah, dan itu artinya akan menyita waktu abi untuk antar-jemput ummi, bukankah abi tidak suka direpotkan..?, ummi mohon sama abi.., mohon diizinkan.., semoga dengan berlalunya waktu para tetangga perlahan-lahan akan faham, dan insya Allah ummi pula akan bersilaturahim kerumah ibu-ibu tetangga untuk bersosialisasi dengan mereka tentang hal ini, insya Allah mereka faham dan akan balik mendukung majelis ini, ummi hanya memohon dukungan abi..”

“hah..terserah mami saja deh..pokoknya papi tidak akan ikut campur bila ada para tetangga yang mengamuk gara-gara masalah ini.., dan kalaupun itu terjadi, silahkan mami sendiri yang berurusan dengan mereka..!!” celotehku sambil berlalu meninggalkan istriku yang tertunduk diam, kudengar suara paraunya berujar “Insya Allah abi..”

Perjalan waktu semakin membawa pernikahan kami pada usia yang lebih dewasa, dan Alhamdulillah ditahun ke 3 pernikahan kami, lahir lagi bayi mungil kecil dari rahim istriku, bayi mungil berjenis kelami perempuan itu kuberi nama Jesica (agar lebih keren), meskipun seperti halnya frans, istriku memberi nama lain jesica dengan panggilan fatimah, aduhh…kuno bangett..ujarku dalam hati mendengar panggilan fatimah dari mulut istriku saat menggendong jesica. Dan begitulah, terasa aneh memang, persatuan kami dalam sebuah ikatan pernikahan tidak lantas membuat kami bersatu dalam hal-hal yang prinsip, termasuk pada pemberian nama putra-putri kami, jadilah 2 nama sekaligus disandang oleh Putra-putri kami, FRANS dan JESICA sapaan akrabku untuk kedua permata hatiku, sementara AHMAD dan FATIMAH sapaan akrab ibunya untuk keduanya, terasa aneh memang tetapi itulah yang telah terjadi dalam pernikahanku, tidak hanya itu saja, dalam panggilan aku dan istrikupun sering ada perbedaan yang kontras diantara kami, aku terbiasa menggunakaan sapaan PAPI dan MAMI untuk kami berdua, sementara istriku terbiasa dengan gelar ABI dan UMMI, pokoknya aneh banget kalau di bayangkan, tetapi itu realita.

Suatu hari terjadi pertengkaran hebat antara aku dan maryam, seperti biasa masalahnya adalah mengantarnya ketempat tarbiyahnya, saking jengkelnya karena sudah kuperingati agar berhenti dari aktifitas itu, akhirnya aku tidak menggubris permintaannya, kumarahi dia dengan kemarahan yang luar biasa marahnya menanggapi permintaan itu, bahkan kepadanya kulontarkan makian tak layak dilontarkan karena saking ngototnya istriku meminta diantarkan ketempat tarbiyahnya. “dasar istri durhaka, ditaru dimana ilmu yang kau pelajari hah sampai-sampai begitu kerasnya membatah keinginan suami?, atau memang kau mau cari-cari alasan ya supaya papi murka dan naik pitam?, bukankah papi sudah ingatkan kalau masalah mengantar saja yang selalu jadi soal, maka berhenti…, apa susahnya sih?, tapi kalau mami mau ngotot ikut tarbiyah itu lagi, silahkan.., jalan sendiri dan pulang kerumah juga sendiri, amankan..?, jujur sebenarnya papi dari dulu tidak rspek dengan aktifitasmu ini, tapi karena setiap kali kau memohon dengan tetean air mata maka papipun mengizinkannya, tapi kalau begini caranya kayaknya papi sudah tidak respek lagi deh, jadi untuk kali ini mami dengarkan papi ‘TOLONG BERHENTI IKUT TARBIYAH itu, titik..!!!” ujarku dengan kemarahan yang sudah memuncak sampai keubun, hingga akhirnya dia melontarkan kata-kata yang membuatku sedikit terdiam tak berkutik.

“Abi, andai tidak menjaga kehormatanku sebagai seorang istri yang tak pantas keluar rumah tanpa mahrom, maka mungkin ummi tidak akan pernah memelas seperti ini pada abi, dan mungkin ummi sudah keluyuran sendiri sesuka hati ummi layaknya wanita-wanita lain yang kelayapan sesuka hati mereka mesti tanpa sepengtahuan suami-suami mereka, ummi hanya ingin, agar kemurkaan Allah tidak menimpa ummi mana kala ummi harus bepergian tanpa mahrom, padahal ummi telah memiliki mahrom, apalagi kantor abi sangat dekat dengan rumah kita dan waktu tarbiyah ummipun selama ini bertepatan dengan waktu istirahat kantor abi, apa ummi salah bila ummi meminta sedikit waktunya abi untuk sekedar mengantar ummi ketempat tarbiyah. Maafkan ummi bila sudah membuat abi marah, hukum ummi bila salah..cambuk ummi bila ummi khilaf.., tapi sekali lagi semua ini ummi lakukan untuk menjaga kehormatan ummi sebagai seorang istri, terus terang ummi sering merasa cemburu dengan teman-teman tarbiyah ummi, ummi cemburu melihat keahagiaaan mereka yang begitu datang tarbiyah diantar oleh suami-suami mereka dengan penuh cinta, dikecup sebelum mereka berpisah, dan dijemput lagi dengan penuh kesabaran meskipun suami-suami mereka jauh lebih sibuk dari abi. Bahkan ummi sangat cemburu melihat salah seorang teman ummi yang rumahnya tidak jauh dari tempat tarbiyahnya, tetapi suaminya tak sedikitpun membiarkan istrinya keluar rumah tanpa didampinginya lalu ditinggalkalah pekerjaannya hanya untuk mengantar istrinya ketempat tarbiyah yang sebetulnya tak jauh dari rumahnya, sekali lagi maafkan ummi abi…” jawab istriku dengan deraian air mata, mendengar semua itu hatiku sedikit tersentuh, ada semacam kaeharuan mengalir dari dalam hatiku, akan tetapi buru-buru perasaan itu kutepis dan berlalu meninggalkannya.

Hingga suatu hari ketika usia pernikahan kami memasuki tahun ke lima, terjadi kejadian tragis pada istriku, sebuah kejadian yang membuat mata hatiku terbuka dan menyadari kekhilafanku selama ini, yah, suatu hari istriku meminta diantarkan tarbiyah dan dengan hati yang menggerutu aku mengantarnya ketempat tarbiyahnya, tetapi sebelumnya aku sudah ingatkan dia agar setelahnya dia naik angkot sendiri untuk pulang kerumah, pada hari itu aku sebetulnya tidak sedang banyak kerjaan, bahkan saat itu aku sedang santai dirumah bersama kedua permata hatiku yang memang hari itu aku minta pada istriku untuk meninggalkan mereka dirumah bersama ibuku (nenek dari anak-anakku), hingga beberapa waktu kemudian datang sebuah sms di hpku, ya, sebuah sms dari istriku yang berbunyi “Assalamu ‘alaikum, afwan abi, alhamdulillah ummi sudah selesai tarbiyah, bisa jemput ummi sekarang??” begitulah isi sms dari istriku yang hanya akubaca saja lalu kuletakkan kembali hpku.

Beberapa menit kemudian masuk lagi sms darinya dengan bunyi “afwan abi, semua teman-teman ummi sudah dijemput suami-suaminya, tinggal ummi sendiri disini, tuan rumahnya mau keluar sekelurga (maksudnya murobbiyahnya sekeluarga), sementara waktu mau maghrib, tolong jemput ummi ya..?” isi sms itu lagi, tapi lagi-lagi sms itu hanya kubaca dan kuletakkan kembali hpku di meja TV, beberapa kali kudengar hpku berdering dan aku berfikir bahwa itu telepon dari istriku, hingga sms terakhir darinya kembali masuk ke hpku “afwan abi, abi sakit ya, ya udah kalau gitu, ummi mohon izin naik angkot aja, doakan ummi semoga sampai dengan selamat kerumah ya, uhibbuka fillah” isi sms istriku yang ke tiga kalinya, hatiku lega saat membaca sms itu, dan itu artinya aku tak perlu lagi menjemputnya, aku sendiri berharap bahwa ini adalah awal yang baik baginya, supaya kedepannya dia bisa mandiri dan berangkat sendiri ke tempat tarbiyahnya sendiri.

Malam semakin larut namun istriku tak kunjung tiba kerumah, padahal prediksiku dua jam yang lalu seharunya dia tiba dirumah, tapi kok hingga 2 jam berlalu dia tak kunjung tiba, ada apa gerangan??, apa dia tidak tahu jalan pulang?, aduh gimana nih..? ujarku dalam cemas, beberapa kali aku hubungi nomor hpnya tapi tidak dijawab-jawab dan itu membuat aku lebih bertambah cemas, ditambah lagi dengan frans yang mulai rewel karena mungkin rindu dengan ibunya, sebab memang hari ini adalah hari pertama ibunya tarbiyah tannpa mengajak frans dan jesica, ada apa dengan maryam ya.., ya Allah ada apa dengan istriku?, ujarku semakin cemas, dan entah mengapa mala itu perasaanku sedikit berbeda dari biasanya, aku merasakan seperti sangat mencinta istriku dan begitu takut kehilangnnya, bahkan aku merasa bahwa hari itu entah mengapa rasa rinduku tiba-tiba mulai menyelinap dalam bathinku, ada apa ini. hingga beberapa jam kemudian hpku berdering dan Alhamdulillah ternyata nomor istriku menelpon, hatiku sangat girang saat itu, dengan buru-buru kuangkat  teleponnya “hallo..,mami dimana..?, koq belum nyampe-nyampe?” tanyaku dengan nada cemas, tetapi alangkah kagetnya aku ketika kudengar bukan suaranya yang menjawab melainkan suara seorang wanita yang sangat asing ditelingaku.

“maaf pak, hp ini milik istri bapak ya?, begini pak, tadi sore sekita 3 jam yang lalu istri bapak menalami kecelakaan, beliau di tabrak mobil saat keluar dari mesjid dan tubuhnya menghatam tembok pagar mesjid, sepertinya beliau lagi nunggu angkot dan singgah sebentar untuk sholat magrib dimesjid, mobil yang menabraknya sudah melarikan istri bapak kerumah sakit terdekat tetapi ditengah perjalanan karena banyaknya darah yang keluar istri bapak meninggal dunia, sekarang istri bapak di RS FULAN tepatnya dikamar jenazah, mohon bapak segera datang” jawab wanita itu terbata memberikan keterangan atas kondisi istriku, dengan sedikit gemetar seakan tak percaya tiba-tiba HP yang ada dalam genggamanku terlepas dan terjuntal kelantai, air mataku tiba-tiba turun dengan deras dari kelopak mataku, sedih.., menyesal atas semua tindakanku selama ini padanya, dan dengan masih perasaan tak percaya aku segera bergegas menuju RS yang telah ditunjukan padaku, bergegas aku kekamar zenajah mengikuti arahan salah seorang petugas jaga, dan Subhanallah, kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri tubuh istriku yang terbaring kaku bersimbah darah, ditubuhnya masih lengkap dengan pakaian syar’i, menurut salah seorang wanita yang berdiri tak jauh dari ranjang dimana istriku dibaringkan (Wanita yg menelpon aku dan mengabarkan istriku kecelakaan), menurutnya mereka dan tim medis sengaja tidak membuka pakaian yg dikenakan wanita itu atas permintaannya saat sekarat manakala dilarikan ke RS, beliau meminta agar jangan sampai ada lelaki yang menyentuhnya dan membuka auratnya sampai keluarganya datang menjemputnya, wanita tersebut menuturkan dengan deraian air mata, menurutnya lagi saat sekarat takan ada sedikitpun tanda-tanda kesakitan pada wajah istriku, bahkan hingga nyawanya berpisah dari raganya.

Ya Allah, betapa mulianya hati istriku, hingga dalam keadaan sekaratpun dia masih meminta agar kehormatannya tetap dijaga, perlahan bayangan masa lalu kami kembali terpampang dalam benakku, betapa istriku takut bepergian sendiri tanpa ada mahrom, bahwa betapa kuatnya dia menjaga kehormatannya sebagai seorang muslimah, tetapi aku telah lalai dari menjaganya, ya Allah ampuni aku…, ampuni aku…, terlalu banyak dosa yang telah kuperbuat selama hidupku. Hingga saat ini kesedihan itu masih terus menggerogoti perasaanku, meskipun sebuah kesyukuran sendiri buatku sebab setelahnya Hidayah itu menyapaku. Tetapi sungguh, hanya Allah yang tahu isi hati ini, bahwa hingga hari ini aku belum bisa melupakannya dan memafkan diriku sendiri, apalagi mengingat betapa mulianya hati istriku, jujur selama pernikahan kami, tak pernah satupun dia kuberikan uang gajiku, bahkan dia tidak tahu berapa penghasilanku setiap bulannya, subhanallah, begitu sabarnya dia padaku, dan yang lebih membuatku sangat bersedih lagi adalah tak pernah satu kalipun selama pernikahan kami aku membelikannya pakaian yang syar’i, seingatku pakaian muslimah syar’i yang dipakainya selama menikah denganku adalah pakaian yang memang telah dimilikinya sebelum menikah denganku dan lagi-lagi dia tidak pernah mengeluh padaku, kudapati pula jilbab yang dipakainya saat kecelakaan itu telah sobek dibagian punggungnya, dan dari sobekan itu sudah ada jahitan-jahitan sebelumnya yang telah lapuk, andai saja dia tidak memakai jilbab besar, mungkin sobekan itu akan terlihat jelas. dan hal lain yang mebuat aku semakin pilu adalah dokter memberikan keterangan bahwa ada janin yang diperkirakan berusia 6 pekan dalam kandungan istriku, Yaa Allah ampuni aku…ampuni aku ya Allah..kasihan istriku..betapa sabarnya dia menghadapiku selama ini.

Alhamdulillah saat ini aku telah aktif tarbiyah, andai istriku masih ada, pasti dia akan bahagia melihat aku saat ini yang Alhamdulillah telah tersentuh oleh hidayah-Nya, tetapi sayang dia telah tiada, yang tersisa hanyalah kenangannya dan juga Ahmad dan Fatimah. Duhai mujahidaku tersayang, maafkan abi yang telah melalaikanmu.. Abi tahu berlarut-larut dalam kesedihan ini tak baik.., tetapi kesedihan ini entah mengapa tak pernah lekang dari perasaan abi.. Abi janji pada ummi, akan menjaga Ahmad dan Fatimah, mujahid dan mujahidah kitatercinta…, insya Allah mereka akan tumbuh dengan akhlak seperti umminya atau mungkin lebih dari abi dan umminya..

Selamat jalan wahai mujahidahku tersayang, semoga Allah menerima semua amal ibadahmu dan menempatkanmu di Jannahnya yang tertinggi…Aamiin

Waktu Untuk Sendiri di Sepenggal Bandung Selatan

Jumat malam tepatnya setelah sholat maghrib, aku dan temanku, liza berangkat ke Bandung. Tidak hanya baju ganti yang ku bawa, tapi juga persiapan hati dan fisik. Siap bertemu teman-teman yang sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mereka. Besok, sabtu nya aku berencana mengunjungi ‘ibu dosen’ yang baru melahirkan anak ke 3 nya. Hari ini aku menginap di kos adik kelas, gara-gara ‘diculik’ secara paksa. Ehmmm.. Mungkin karena dia kangen sama aku. Sudah sekitar 5 bulan aku belum ke bandung. (PD banget) ^^

Ilmi namanya, salah satu adik yang lucu banget, ndud, mirip sapi (sebutanku kepadanya, karena dulu aku sempat beli sendal boneka sapi untuknya). Setelah ke kosan ilmi dan mempersiapkan untuk tidur, aku bertemu dan cipika-cipiki dengan adik-adik yang lainnya. Ada serli, tika, hely, nisa, dan ada 1 calon kader. Seruuuuuu,, kita cerita tentang semua cerita ‘cinta’ kita. Cinta dakwah, cinta ukhuwah, cinta kangen, dan cinta yang lain.

Sebelum tidur, ilmi menceritakan kegiatan selama ini dikampus, begitu pula sebaliknya aku menceritakan kegiatanku di jakarta. Ada canda, ada cerita, ada tawa, ada sedih, ada susah, semua akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Besok, sabtu harus bangun pagi-pagi karena ada kajian diMSU (Masjid Syamsul Ulum), sebutan seluruh umat di IT Telkom untuk satu-satunya masjid tercinta disana. Kajian besok akan membahas tentang “Politik dalam Islam”. Cukup berat pembahasannya, tapi cukup menarik untuk dicermati. (Maklum, udah lama ga ikut kajian politik, setelah lulus wisuda. Hehe..)

Sabtu, 15 Oktober 2011..

Jalan-Jalan
Alhamdulillah, tibalah saatnya aku berada di tempat Allah yang sangaaaaaat aku rindukan, Masjid Syamsul Ulum Institut Teknologi Telkom. Dengan tiupan angin dingin pagi hari, dengan suara ‘kruuuuk… Kruuuukkkk’ perut yang belum sarapan, aku bergegas ke masjid bersama ilmi. Setelah sampai sana (dengan sengaja memakai slayer warna ungu, kaya’ naik motor) ternyata pertemuan dengan dilandasi ukhuwah itu sangat indah. Bertemu karena cintaNya dan berpisah karena cintaNya, maka semua pasti terasa indah. Meskipun kehilangan cinta yang lain.

“Mba vinaaaaaa,,, kangeeeennn bangeeeet..”,
Beberapa orang adik menghampiriku dengan memeluk erat dan saling melepas rindu. Subhanallah, begitu sangat indah rasa rindu ini, Engkau pertemukan aku dengan saudara-saudara seperjuanganku.
“SSsssssttttt… Jangan berisik”, ucapku.
Sambil memperhatikan udztad yang memberikan ceramah, ada sms masuk yang membuatku tiba-tiba terdiam membisu, meneteskan air mata, dan aku harus sendiri. Aku harus tenang dan tidak panik dalam keadaan apapun.

Rasanya tiba-tiba berubah ingin sendiri-menyepi, dari keramaian dan kerumunan orang-orang. Ingin sendiri, hanya berdua dengan Allah. Tidak lama kemudian, kajian belum selesai 5 menit lagi. Aku sudah pamit untuk dhuha, untuk sendiri, untuk meneteskan air mata, untuk mengadu kegundahan seluruh hati ini. Karena tidak ada yang dapat membuat hatiku tenang kecuali pelukan Allah, kecuali kasih sayang Allah, kecuali sentuhan ‘tangan-tangan’ Allah yang begitu menyayangi aku. Sangat deras air mata ini mengalir, sangat rindu hati ini dengan sentuhan Allah Sang Maha Rahman dan Rahim..

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhamu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Masuklah ke dalam surgaKu”
(QS Al-Fajr :27-30)

Alhamdulillah, setelah ‘ketenangan’ itu muncul karena Allah telah membuat aku ‘bersemangat’ lagi, aku segera meluncur ke kos liza dan kania, rencananya kita pengen ‘main-main ke ITB’, mengejar cita-cita yang lain, bangkit lagi dari ‘kesedihanku’ yang tadi, dan memulai kehidupan yang baru, tanpa ‘cinta yang lain’ dan dengan ‘cinta yang baru’.
Kita langsung meluncur ke ITB dengan motor pinjeman. Hehe.. Maklum, anak jakarta yang lagi hijrah ke Bandung.

Setelah kita ‘jalan-jalan’ dan ‘bercanda’, kita balik ke kos untuk packing barang-barang yang ingin di pindah, karena besok mau pindahan kos.^^
Sebelum kita pulang, kita sholat dzuhur di Masjid Salman ITB yang gaya dan arsitekturnya mirip MSU ITT (sebenernya siapa ya yang njiplak? ^^). Tanpa disangka, ternyata aku bertemu dengan adik-adik ku di Salman, Subhanallah.. Kasih sayang Allah padaku tak henti-hentinya. Allah mempertemukan aku dengan saudara-saudaraku, itu berarti Allah ‘menambal perih hatiku’. Allah akan selalu ada untukku dimanapun dan kapanpun.

Hari ini, merupakan hadiah terindah di bulan Oktober yang Allah berikan untukku dengan ‘pertemuan antara beberapa hati’. Ukhuwah itu tidak dapat tergantikan dengan uang dan harta benda. Alhamdulillaaaah.. Thanks ya Allah..
🙂

Tulislah Rencanamu dan serahkan pada Allah

“Berpegang teguhlah kepada Yang Menciptakanmu dan Yang Memberi rezeki kepadamu. Tundukkanlah seluruh jiwamu, raihlah keridhaan Allah. Buktikan totalitas ibadah di haribaanNya, pusatkan seluruh harapanmu semata-mata kepadaNya, dan buktikan segenap cintamu hanya untukNya”
(Ali Ibn Abu Thalib RA)

BERFIKIRLAH, Apakah Kita Bisa Seperti ini?

Kisah ini benar dan tidak direkayasa.
Pada suatu hari ada seseorang yang cerita kepadaku tentang kematian, begini ceritanya… (kaya di mistis aja..)

Suatu hari di sebuah kota Indramayu, pada sore menjelang malam/hampir maghrib saya dan teman ngelayat ibu dari teman saya.
“Innalilahi wainailaihi rojiun…. Aku turut berduka… Mudah-mudahan seluruh amal ibadahnya diterima disisi Allah. Amin…”
, Kataku. Beliau meninggal di Rumah Sakit karena Sakit. Setelah ditanya sebab akibat mengapa dan dimana meninggalnya, Kakak
dari temanku tadi bercerita…

Kakak : “Pada awalnya kejadian ini di Rumah Sakit dimana ibu dirawat. Pada saat itu tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar
ibu, dengan menyerupai seorang manusia. Tapi anehnya, hanya ibu yang mendengarnya.”
Ibu : “Nak, sepertinya ada tamu, tolong bukakan pintunya nak…”
Kakak : “Ibu, tidak ada siapa-siapa ibu”
Ibu : “Sepertinya dia ingin segera masuk”
Kakak : “Ibu, tidak ada siapa-siapa ibu” (Sambil membuka pintu dan mengikuti apa yang diminta ibu)
Ibu : “Tolong sediakan makanan yang seadanya”
Kakak : “Ibu, tidak ada siapa-siapa ibu”
Ibu : “Mereka makin banyak, tidak hanya satu orang sediakan makan ya nak…”
Kakak : “Ibu, tidak ada siapa-siapa ibu”
Ibu : “Mereka nanti juga akan menghampirimu, jika sudah ada waktumu. Saat ini mereka mencari ibu dan ingin menjemput ibu”
Kakak : “Ibu, tidak ada siapa-siapa ibu”
Ibu : “Mereka sangat baik dan semua tersenyum pada ibu”
Kakak : “Ibu, tidak ada siapa-siapa ibu”
Ibu : “Nak, ibu ingin pergi dulu.. Sudah ada yang menjemput. Mereka baik-baik semua.. Allahu Akbar…”
Kakak : “IBU………………..” (Sambil menangis karena ibu sudah meninggal)

Sekarang jawab pertanyaan saya siapakah makhluk yang tiba-tiba datang ke kamar ibunya dengan keadaan yang tersenyum dan
menyambut sang ibu dengan baik? Jawabannya adalah Malaikat pencabut nyawa (Izrail). Bayangkan jika yang menjadi ibu itu diri kita.
Apakah kita bisa di datangkan oleh malaikat sebaik itu?

Saya juga masih teringat ketika pada hari Kamis, tanggal 23, bulan Januari, Tahun 2009 adikku bercerita. Salah satu teman adikku baru kelas X (setaraf dengan kelas 1 SMA dan 1 sekolah dengan adikku) meninggal dunia karena terlindas tronton (sejenis truk TNI yang besar), dengan keadaan badan yang remuk dan otak yang berceceran di jalan. Ketika ibu dari sang anak itu melihat
betapa mirisnya mayat sang anak. Kejadian ini benar dan tidak di rekayasa. Terjadi di Pintu masuk tol bintara, daerah Stasiun
Cakung, Jakarta Timur.

Setelah kita tau bersama-sama cerita ini, apakah kita masih bisa mengucapkan “ah, kita kan masih muda”, “tenang aja, besok juga
masih bisa ngerjain”, “besok aja kalo udah tua tobatnya…”. Kata-kata itu tidak ada yang menjamin kita hidup berapa detik, berapa menit, berapa jam, berapa hari, berapa minggu, berapa bulan, atau bahkan berapa tahun lagi kita hidup di dunia yang notabene cuma sementara ini.

TiAnShi… I HaTe IT!!!!!

Suatu hari ini menyangkut harga diriku..

Disuatu ruangan, aku bertemu dengan seorang wanita yang menawarkan aku bisnis. Ya, aku sangat suka dengan bisnis.. Dan ternyata keuntungannya sangat besar…

Tapi, aku tdk punya uang untuk membayarnya.. karena saaaaangaaaaat mahal!!

Jujur, aku hutang dengannya demi bisnis itu.. (Alhamdulillah yang 85Ribu aja, bukan yang 2 Juta!!!) Tapi, entah kenapa hatiku masih ragu.. Dan sekitar 2-3 minggu, aku ditawarkan mau melanjutkan bisnis ini/tidak? Karena aku belum bayar yang 2 Juta itu..

Wanita itu dulu sangat giat sekali masuk dakwah dan punya cita-cita yang sangat mulia. Apa cita-cita bliau? Bliau ingin, jika sudah punya duit banyak, akan mengabdikan dirinya dan uangnya akan dipakai untuk berdakwah. Wah, Subhanallah..

Bliau selalu cerita tentang dakwahnya, perjuangannya di Sebuah organisasi External Kampus (World Class) dan Terkenal di Seluruh Indonesia. Jujur, aku bangga dengan semangat yang seperti itu. Aku juga berfikir, seperti itu ketika bliau mengajak aku masuk bisnis MLM ini.

Tapi, beberapa hari kemudian… Aku dapat kabar kalau bliau sangat jarang bahkan hampir tidak pernah datang sYuRa (baca Syuro=Musyawarah/Rapat) di Organisasi tersebut..

WAH!!!!ADA APA GERANGAN PADA BISNIS ITU?

Setelah aku selidiki dan kebetulan ada teman yang tau seluk beluk tentang TIANSHI, aku baru tau bahwa “T” itu sangat amat “MONEY ORIENTED”..

Mulai dari situ aku benci “T”. Bukan orang-orang yang bekerja dibawahnya.. Tapi pemimpin-pemimpin yang diatasnya. Mereka semakin kaya, tapi yang bawahannya semakin miskin. Kemudian aku tabayun dengan bliau. Dan, apa kata bliau? (”Teh, kayanya aku ga akan masuk organisasi apapun di kampus ini lagi. Aku mau fokus ke keluargaku dan bisnis ini..”)

Loh, ada apa gerangan kok sampai seperti ini? Bliau meninggalkan dakwah di kampus bahkan di Indonesia ini??? Apakah hanya karena uang, manusia bisa hidup di dunia ini? Lebih baik aku hidup tanpa uang banyak asalkan dibayar dengan Surganya Allah, saat aku mati SYAHID..

JIKA ADA 10.000 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA SALAH SATUNYA ADALAH AKU..

JIKA ADA 1.000 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA SALAH SATUNYA ADALAH AKU..

JIKA ADA 100 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA SALAH SATUNYA ADALAH AKU..

JIKA ADA 10 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA SALAH SATUNYA ADALAH AKU..

JIKA ADA 1 ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA SALAH SATUNYA ADALAH AKU..

JIKA TIDAK ADA LAGI ORANG YANG BERJIHAD DI JALAN ALLAH, MAKA AKU TELAH MATI SYAHID..

Duhai Istriku, Aku bangga kepadamu…

Duhai Istriku, Aku bangga kepadamu…

“Zakat penghasilan bulan ini sudah dikeluarkan, bang. Pasti belum dikeluarkan sama Abang kan?” Sebuah pesan pendek masuk ke telepon selular saya pagi ini. Biasa, isteri yang senantiasa mengingatkan urusan zakat penghasilan. Sejak menikah, saya yang tak pernah menutup-nutupi jumlah penghasilan sempat dibuat jengkel gara-gara isteri kerap menanyakan adakah penghasilan lain selain yang didapat setiap akhir bulan. Awalnya saya menganggap dia tak percaya dan curiga saya tak memberitahu penghasilan saya yang lain, padahal penghasilan saya memang cuma segitu-gitunya.

Setelah ia jelaskan maksudnya, barulah diri ini tersenyum sekaligus malu. Ia teramat perhatian untuk mengeluarkan zakat yang duasetengah persen dari setiap penghasilan yang kami terima, baik itu penghasilan bulanan maupun penghasilan dari hasil lainnya. Beruntunglah saya karena ada yang rajin mengingatkan.

“Diberikan ke siapa zakat kita dik,” tanya saya sekembalinya dari mengantar anak saya ke sekolah. “Baru separuhnya ke tukang sampah langganan, separuhnya lagi terserah Abang besok deh mau diberikan kemana,” jelasnya.

Cerita pun mengalir, tukang sampah langganan yang setiap 2 x sepekan mengangkut sampah di lingkungan tempat kami tinggal usai mengangkut sampah dari depan rumah. Isteri saya pun memanggilnya dan menawarkan dua buah sepeda bekas anak-anak saya yang mereka sudah enggan memakainya karena sudah ada yang baru. Tentu saja ia tak menampik tawaran isteri saya dan diangkutlah dua sepeda kecil itu. “Dijual harganya nggak seberapa, lebih baik diberikan kepada yang membutuhkan. Semoga lebih ada nilainya,” timbang isteri saya.

Belum beranjak tukang sampah itu dari rumah, isteri saya pun teringat bahwa kami belum mengeluarkan zakat penghasilan bulan ini. Maka ia pun memberikan sebagian dari yang seharusnya kami keluarkan kepada tukang sampah itu. Haru dan nyaris tak sanggup membendung bulir air yang siap tumpah dari pelupuk mata ketika isteri saya mendengar ungkapannya saat menerima uang buat sebagian orang itu tak seberapa nilainya, “Alhamdulillah, makan anak dan isteri dua jumat ke depan terjamin nih bu, terima kasih.”

Tak hanya isteri, saya yang tak mendengar langsung dari mulutnya pun merasakan getaran yang mengharukan. Betapa kecilnya uang yang kami berikan bisa membuat ia merasa ada jaminan makan selama dua jumat ke depan, lalu bagaimana dengan hari-hari sebelumnya ? Dan bagaimana dengan pekan-pekan yang akan dating ?

“Jum’at yang berkah buat saya, semoga hari ini keberkahan juga tercurahkan atas ibu sekeluarga,” tak lupa ia meninggalkan doa untuk keluarga kami. Lega lah sudah, sebagian rezeki yang Allah titipkan sudah diberikan kepada yang berhak. Diam-diam isteri saya mengamini doa bapak tukang sampah, agar Sang Pemberi rezeki pun memberkahi setiap pemasukan dan pengeluaran kami. **

Sore harinya saya pergi ke Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk mengambil sedikit dari tabungan kami guna keperluan belanja. Maha Suci Allah, puji syukur saya yang tiada bandingannya, ketika melihat saldo tabungan saya bertambah hampir enam kali dari yang pagi tadi dikeluarkan isteri saya. Rupanya Jum’at hari ini tidak hanya berkah bagi bapak tukang sampah itu, tapi juga bagi kami. “Mungkinkah Allah menjawab doa tukang sampah itu untuk kami? Hanya Allah yang tahu”.
Ketika saya menceritakan perihal ini kepada isteri, tak cukup kalimat syukur yang keluar dari mulutnya, tapi saya sudah bisa menebak apa yang ada di kepalanya. Saya yakin ia tengah menghitung lagi dua setengah persen yang harus dikeluarkan. Aih…