Bukan Hanya Sekedar Kata Maaf

Idul Fitri kali ini berbeda dengan yang dulu. Ya.. Aku sudah kehilangan nenek terbaik ku, yang sangaaaat berarti dan membuatku mengerti arti kehidupan. Aku biasa memanggil mbah putri. Ya Allah bebaskan lah dari siksa kubur dan api neraka. Amiiinn

Sekiranya ada salah dan dosa,

Ampun dipinta dihari mulia.

Taqabballahu minna wa minkum

Taqabballahu ya Kariim

Shiyamanna wa shiyamakum

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H

Minal Aidil walfaizin Mohon maaf lahir dan bathin
تقبل الله مناومنكم صيمنا وصيمكم 

منالآعيدين والفائزين

Biasanya semua orang mengucap maaf lahir batin. Menurutku bukan hanya sekedar kata maaf. Yang paling terpenting kita bisa memaafkan dan tidak mengulang kesalahan yang sama lagi.

Bisa menJadi pribadi yang lebih baik, lebih bersih, lebih shalih dan shalihah. Idul fitri bisa jadi patokan kadar iman kita apakah lebih baik atau lebih buruk. Nauzubillahimindzalik jika lebih buruk, hayuk fastabiqul Khairat-berlomba-lomba dalam kebaikan.

Minimal standar orang shalih bagi laki-laki adalah seperti Nabi Muhammad SAW. Kenapa aku bilang minimal? Karena kalau punya target lebih kecil dari standar Rasul, pasti yang tercapai adalah dibawahnya. Itu yang biasa terjadi. Kalau dibilang sih, minimal sholat tepat waktu ke Masjid, shaum Senin-Kamis, shaum Ramadhan, sholat Dhuha, tahajjud, Rawatib, dll. Minimal!!

Berat, memang.. Masuk surga itu tidak gampang. Rasul saja yang sudah dijamin masuk surga oleh Allah, tidak pernah meninggalkan sholat tahajjud. Apalagi berleha-leha dan melalaikan ibadah. Nah kita yang belum tentu masuk surga aja kebanyakan gaya, Ibadah ogah-ogahan, enak-enakan di dunia, mencari harta tapi untuk akhirat di lupakan. Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang shalih dan shalihah sehingga bisa di Rahmati olehMu.

Bumi Jawa, 17 Juli 2015

22.25

Ketika…

Ketika

1. KETIKA AKAN MENIKAH
Janganlah mencari isteri, tetapi carilah ibu bagi anak-anak kita Janganlah mencari suami, tetapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2. KETIKA MELAMAR
Kita bukan sedang meminta kepada orang tua/wali si gadis, tetapi meminta kepada Allah melalui orang tua/wali si gadis.

3. KETIKA AKAD NIKAH
Kita berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan Allah

4. KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
Catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendo’akan kita, karena kita harus berfikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila kita berfikir untuk BERCERAI karena menyia-nyiakan do’a mereka.

5. SEJAK MALAM PERTAMA
Bersyukur dan bersabarlah. Kita adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.

6. SELAMA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA
Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.

7. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG
Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.

8. KETIKA BELUM MEMILIKI ANAK.
Cintailah isteri atau suami anda 100%. Kita bukan menikah karena fisik, tapi karena Allah memilihnya untuk membuat kita lebih sabar.

9. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK.
Jangan bagi cinta kita kepada (suami) isteri dan anak kita, tetapi cintailah isteri atau suami kita 100% dan cintai anak-anak kita masing-masing 100%.

10.KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUM MEMBAIK.
Yakinlah bahwa pintu rizki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami dan isteri.

11.KETIKA EKONOMI MEMBAIK
Jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita. Karena tanpa istri/suami kita, kita tidak akan menjadi lebih baik, karena suami/istri kita selalu mengingatkan kita kepada Allah.

12.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan kita.

13.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

14.KETIKA MENDIDIK ANAK
Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak .

15.KETIKA ANAK BERMASALAH
Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orangtua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

16.KETIKA ADA PIL.
Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.

17.KETIKA ADA WIL
Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

18.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA
Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia karena Allah.

19.KETIKA INGIN LANGGENG DAN HARMONIS
Gunakanlah formula 7 K
1 Ketaqwaan
2 Kasih sayang
3 Kesetiaan
4 Komunikasi dialogis
5 Keterbukaan
6 Kejujuran
7 Kesabaran

Allah, Ijinkan aku bersandar di tembok Iman Mu

Aku sadar.., apa yang menjadi milikku bukanlah ketetapan yg menyeluruh. Apa yang menjadi ketetapanku juga bukanlah hak atas milikku..

Allah, hanya Engkaulah yg menjadi ketetapan atas diriku, Yang sudah pasti menjadi milikMu seutuhnya.
Hanya padaMu, aku taat dan hanya padaMu aku berserah diri..

Allah,  ambillah aku selalu dalam ketetapanMU, Agar semua yang aku lakukan biarlah ini menjadi ketetapanMu.

Allah, jiwa dan ragaku hanya milikMu. Tak satu kaum pun bisa memilikinya.. Sadarku atas semua ini. Karena suatu kebaikan untukku, Belum tentu itu menjadi kebaikan menurutMu,

Dan kebaikan menurutMu.. Pasti menjadi kebaikkanku.
Dan kebaikanku mungkin bukanlah hal yg baik atas diriku..

Disitulah amalku bertambah, Disitulah aku bisa dekat denganMu
Disitulah aku bisa mengendalikan kesenangan duniawi-ku
Dan disitulah aku bisa menciptakan keindahan diri sejatiku

Bisa memahami sejati murniku, Bisa mensyukuri bahwa aku dapat ‘HIDUP’
Ya, dapat menghidupkan yg mati dalam imanku

Menghidupkan yg semestinya dihidupkan olehMu..
Hidup dalam diri yang sesungguhnya..
Hidup dalam alam akhiratku, bersamaMu…

Ya Ilahii Rabbii, Biarkanlah yang semestinya itu berjalan apa adanya..
Mengalir dalam hulu tak berbatas..
Berjalan dalam aliran sungaiM tak bertepi..

Air Mata

Air mata yang telah jatuh,
Membasahi bumi..
Takkan sanggup menghapus penyesalan,
Penyesalan yang kini ada,
Jadi tak berarti..
Kar’na waktu yang bengis terus pergi..
Menangislah bila harus menangis..
Karena kita semua manusia,
Manusia bisa terluka,
Manusia pasti menangis..
Dan manusia pun bisa mengambil hikmah..

Di balik segala duka,
Tersimpan hikmah..
Yang bisa kita petik pelajaran

Di balik segala suka,
Tersimpan hikmah..
Yang kan mungkin bisa jadi cobaan

Serahkan semua pada Allah

 “Dan permudahlah bagi kami pintu-pintu karunia-Mu.” [H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi]

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling menyampaikan salam kepadaku dari umatku.” [H.R. Nasa’i dan Hakim]

Fathimah a.s. bercerita: Rasulullah SAWW pernah bertanya kepada para sahabat mengenai wanita apakah dia?

“(Wanita adalah) sebuah rahasia (yang harus dijaga)”, jawab mereka pendek.

“Kapankah ia lebih dekat kepada Tuhannya?”, tanya Rasulullah SAW kembali. Mereka tidak dapat menjawab. Ketika ia (Fathimah a.s.) mendengar hal itu, spontan ia menjawab: “Ketika ia berada di dalam rumahnya”.“Fathimah a.s. adalah penggalan tubuhku”, sabda Rasulullah SAW menimpali.

Muslimah (Akhwat) Sejati

Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang Akhwat sejati?”

Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.

Anakku…
Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa banyak laki-laki yang menyukainya, tetapi dilihat dari sejauh mana ia dapat menjaga hati untuk tidak berpacaran dan menjaga hatinya untuk tidak mencintai lawan jenisnya yang belum menjadi muhrim / suaminya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.

Akhwat sejati bukan dilihat dari kelembutan suaranya pada orang lain, tetapi dilihat dari seberapa lembut hatinya untuk banyak menolong orang lain.

Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.
“Lantas apa lagi Abi?” sahut putrinya.

Ketahuilah putriku…
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian, tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari Kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang
ia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

Dan ingatlah…
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.

Setelah itu sang anak kembali bertanya, “Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?”

Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka!” Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan “Istri Rasulullah”.

Muslimah

Bersabarlah!

kesedihan itu hanya sesaat
agar kita lebih mendekatkan diri padaNya
kelemahan kita adalah seringnya kita lupa, akan janji tulusNya

dibalik segala kesedihan
ada hikmah yang dapat di ambil

dibalik segala kesusahan
ada kemudahan yang telah disediakan olehNya

lantas kapankah kita akan bersyukur?
akan nikmat,rahmat,dan segala yang telah di berikan
olehNya?

lantas akankah kita bahagia?
ketika kita lupa membahagiakan orang lain?

apakah kita dapat mengerti?
akan semua yang telah tersedia untuk kita

kini saatnyalah
memulai sesuatu dari hal yang kecil
memulainya sejak sekarang

janganlah lupa karena dunia yang sementara.

kembali ke niat, kembali ke niat, kembali ke niat..

karena semua akan diminta pertanggungan oleh Nya,

Ya Rabb,, jaga tolong jaga diri ini untuk selalu mencintaiMu, hingga diujung waktuku..

“Semua” ku serahkan pada Mu ya Rabb, hanya kepada Engkaulah aku mengadu dan hanya kepada Engkaulah aku berserah diri..

Nabi Ayub yang diberi penyakit bertahun-tahun, tetap beriman..

Nabi Ibrahim yang belum di beri anak bertahun-tahun, tetap beriman..

Nabi Nuh yang keluarganya kafir, tetap beriman..

Lalu, apa yang aku keluhkan?

Ya Allah, ampuni aku untuk kehidupanku yang lebih baik..

Inilah aku, karena Jilbabku Bukanlah Topeng

 Siapapun akan merasa senang menyambut setiap perubahan positif yang muncul dalam dirinya. Kita semua sepakat keputusan memakai jilbab (penutup aurat yang syar’i) adalah keputusan yang baik dan tepat. Bahkan perlu disambut dengan keceriaan yang akan semakin menyemangati seorang muslimah memperdalam keislamannya. Sesemangat keinginan untuk segera merasakan nikmatnya pertemuan dengan Sang Khalik. Ya, bertemu dan itu merupakan kepastian yang akan ada suatu saat nanti..

Jilbab adalah salah satu cara kita memupuk kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Jilbab adalah cara kita menghargai diri dan orang disekitar kita. Betulkah?? Apa itu berarti muslimah yang belum berjilbab tidak menghargai dirinya atau orang lain disekitarnya? Ibarat tanaman nih, kalau mau tumbuh subur itukanharus di rawat, di pupuk dan disiram. Sama seperti kita yang beranjak dewasa. Harus di rawat mulai dari perbuatan, sikap, rasa cinta kita pada Allah dan Rasulullah.

Penasaran?? Maka mari kita simak surat cinta dari Allah berikut ini:

”Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Al Ahzab : 59)

dan ayat ini:

”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian dan pakaian yang indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang terbaik. Yang demikian itu adalah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (QS. Al-A’raf : 26).

Sampai disini aku yang saat itu belum berjilbab pun paham, bahwa Allah hanya menginginkan yang terbaik bagi hamba-Nya. Pakaian taqwa adalah pakaian terbaik agar kita lebih mudah dikenal dan tidak diganggu. Mengapa Allah menggunakan perumpamaan ”diganggu”? Apa maksudnya? Saat itu aku mencoba memaknai sendiri makna kata ”diganggu” tersebut. Benerkah ketika belum berjilbab wanita akan ”diganggu”? Satu per satu aku temukan jawabannya lewat rentetan kejadian yang menimpa tidak hanya aku sendiri tapi saudari-saudari saya yang notabene juga belum berjilbab saat itu.

Subhanallah, aku pun tertegun akan janji Allah memberikan perlindungan pada muslimah yang menutup auratnya dengan syar’i. Maka Dia lah yang Maha Pelindung. Ia memutus harapan laki-laki iseng pada wanita beriman yang mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Bukan lagi godaan bagi mereka yang tidak bisa menahan diri. Dan adalah Allah yang menjadikan kita penguji iman para laki-laki yang dipanggil Allah dalam surat An-Nur ayat ke tiga puluh:

”Katakanlah kepada laki-laki beriman agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (QS. An-Nur : 30).

Kalau kita mau mencoba menjelajah ke alam syetan, maka syetan merasa akan meraih prestise yang tinggi apabila dapat menjerumuskan hamba-hamba yang beriman. Mereka pun (para syetan) tahu, ”ngapain capek-capek ngejerumusin manusia yang tidak beriman. Lah wong ga usah dijerumusin aja mereka udah kejerumus sendiri kok! Gak ada prestise dan prestasi yang dicapai lagi”. Nah bagaimana dengan kita?

Saat aku mulai memutuskan untuk berjilbab, banyak hal yang merintanginya. Diantaranya aku belum merasa terpanggil dan belum merasa memiliki hidayah untuk menggunakannya. Padahal panggilannya sudah menggema dari jaman Rasulullah SAW. Lain halnya dengan saudariku yang memutuskan untuk berjilbab lantaran merasa hidayah itu telah sampai padanya, hanya saja rintangan dari orang tua yang menundanya untuk berbusana taqwa, klasik memang. Dan masalah hidayah, belakangan ini aku sadari dan inilah yang semakin memantapkan hati ku untuk menggunakan jilbab, aku berfikir bahwa: ”Hidayah itu akan datang dengan upaya keras kita untuk mencari hidayah”

Tidak mungkin mau mendapat hidayah, tapi berdiam diri di rumah, ga ada ikhtiar atau usaha yang dilakukan. Ya, bisa baca buku fiqih wanita, ikut mentoring atau pengajian dekat rumah, sekolah, atau bahkan kuliah. Tapi harus dilakukan secara kontinyu / berkelanjutan. Jangan hanya ingin mendapat hidayah kita mau ngaji / mentoring, setelah dapat hidayah, di lupakan mentoring nya. Jangan ya…

Nah ini ada surat cinta lagi dari Allah:

”Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Kami. Sungguh anak Kami tunjukkan pada mereka jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah membersamai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Ankabut: 69)

Terkadang orang sering berfikir dan berharap mendapat hidayah dulu, baru akan beramal. Sungguh, pola pikir ini telah keliru alias salah. Demi Allah, bersungguhlah dalam beramal maka titik terang hidayah akan semakin membesar. Karena amal-amal itu adalah penyubur. Jadi, ternyata proses menjadi muslimah yang shalihah bukan menunggun akhlaq menjadi baik, baru kemudian berjilbab. Kalau sudah mampu berjilbab, maka lakukanlah dengan keikhlasan karena Allah, baru kemudian Allah yang akan memberi jalan dan menolong untuk memperbaiki Akhlaq, memperindah perangai dan menghapus segala ke –khawatiran.

Setelah berjilbab, cobaan pun mulai hadir dengan jenis dan cara berbeda. Ada persepsi masyarakat yang bagi ku begitu memberatkan. Sempat timbul resah dalam hati ketika menghadapi opini masyarakat, bahwa muslimah berjilbab itu haruslah lembut, halus tutur katanya, dan feminin dalam arti yang sebenar-benarnya. Jadi jilbaber tidak boleh begini dan begitu (maka izinkanlah aku untuk sedikit tersenyum) ^_^.

Padahal jilbab bukanlah lakon sandiwara yang mengharuskan kita menjadi orang lain saat memakainya. Bahkan Islam tidak menghapus karakter khas dari pribadi pemeluknya yang tidak bertentangan dengan akidah ketika memutuskan ber-islam secara paripurna. Islam justru membingkainya menjadi kemuliaan karakter yang menyejarah. Bahkan Rasulullah mengatakan: ”Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah, akan menjadi yang terbaik di masa keislamannya”

Kalau mengingat sosok Abu Bakar dan Umar, mereka adalah dua sahabat yang sangat kontras. Baik dalam fisik maupun karakter. Rasulullah pernah bersabda tentang kedua karakter sahabatnya: ”Sesungguhnya Allah melunakkan hati orang-orang tertentu sampai ada yang lebih lunak dari susu dan Allah mengeraskan hati orang-orang tertentu sampai ada yang lebih keras dari batu. Sesungguhnya engkau wahai Abu Bakar, bak Ibrahim yang berkata: ”Barangsiapa mengikutiku, maka sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ibrahim: 36).

Dan engkau wahai Umar, tak ubahnya seperti Musa yang berkata: ”Wahai Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka, karena mereka tidak beriman hingga mereka menyaksikan siksa yang pedih.” (QS. Yunus: 88).

Allahu Akbar! Maka adalah konyol memaksakan dan menjadi orang lain setelah berjilbab, alangkah sunyinya dunia jika semua orang seragam secara karakter dan pemikiran. Maka biarkan semua sesuai fitrahnya, sehingga akan tetap ada akhwat (muslimah) yang jago karate seperti Nusaibah binti Ka’ab yang melindungi kemanapun Rasulullah bergerak dalam perang. Bahkan akan tetap ada akhwat yang berkepribadian kuat dan pemberani seperti Ummu Hani binti Abi Thalib. Akan tetap ada akhwat yang suka bermanja dan ceria seperti Aisyah. Ada akhwat yang tetap bisa membentak dan tertawa terbahak seperti Hafshah. Dan akan tetap ada akhwat yang lembut dan keibuan seperti Khadijah.

”Celupan warna Allah. Dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya daripada Allah. Dan pada-Nya sajalah kami beribadah” (QS. Al-Baqarah: 138).

Wahai diriku dan akhwat (muslimah) lain disekelilingku, tidak ada yang perlu kita risaukan pada karakter-karakter mendasar kita. Karena jilbab bukan lakon sandiwara yang membuat kita harus menjadi orang lain ketika memakainya. Sekali lagi, jangan sirnakan / hilangkan keunikan yang ada di dalam diri kita. Biarkan keindahan warna itu hidup dengan pelangi akhlaq. Dengan catatan, ada juga hal-hal yang harus disesuaikan dengan apa yang sudah diatur dan digariskan oleh Islam.

Jangan sampai pakai jilbab, tapi pakaiannya masih ketat, atau jilbabnya transparan. Kalau itu mah, tidak diajarkan pada jaman Rasulullah.. Ingatlah Allah dan Rasul-Nya mengajak ke syurga sedangkan syetan mengajak ke neraka.

Hanya untuk kemuliaan diri, MAKA INILAH AKU, KARENA JILBABKU BUKANLAH TOPENG!!

Wallahualam bi shawab.

Created by : Arvina Irkantini (Jakarta Timur, Sabtu, 7 Mei 2011 pukul 15.46)

Catatan:

Boleh meng-copy paste, tapi harus ditulis ya, siapa yang mengarang tulisan ini. Ya, diijinkan jika kamu menuliskan siapa penulisnya. Kalau tidak, itu berarti mencuri karya orang lain. Jazakallah khairan katsir.