Nafkah, dahulukan Istri & Anak atau Keluarga Suami?

Assalamualaikum wr. Wb.
Ustad/ustdzah saya Iva, wanita dan sudah menikah. Saya bekerja dan memiliki anak 1 masih balita. Saya ingin bertanya, bagaimana islam memandang apabila dalam rumah tangga istri harus memenuhi kebutuhan sendiri & anak, dikarenakan suami harus membyar cicilan pinjaman di bank & memberikan nafkah ke ibunya, sedangkan ibu mertua mampu & msih dapat nafkah dari bapak mertua & dari kakak ipar setiap bulannya.
Suami takut ibunya marah jika tidak dikasih. Jadi suami tidak bisa menafkahi istri dan anak. Apakah dalam islam berdosa ustad/ustdzah ? Apakah islam memandang apabila tidak memberi nafkah ke ibunya, suami saya berdosa ? Apakah tidak bisa memberi nafkah istri dan anak termasuk mendzalimi istri & anak ? Mana yang harus didahulukan istri & anak atau ibunya? Sblm menikah saya seorang yatim & saya juga msih menjadi tulang punggung keluarga untuk menafkahi ibu saya dan adik saya sampai saat ini. Bagaimana islam memandang permasalahan ini, mohon jwabanya ustad/ustadzah. Sukron. Wassalam,

Jawaban
Assalamu alaikum wr.wb Alhamdulillahi Rabbil alamin. Washshalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du:
Dalam Islam jelas bahwa seorang suami bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surat an-Nisa ayat 34 dan al-Baqarah 233. 

Meskipun kondisi isteri mampu, berkecukupan, bahkan kaya, kewajiban untuk memberikan nafkah keluarga tetap menjadi tanggung jawab suami, kecuali kalau isteri ridha dg keadaan yang ada. Namun jika tidak, dan suami tetap tidak mau memberikan nafkah kepada isteri dan anak, maka sang suami berdosa. 

Rasul saw bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Jika seorang suami tidak pernah memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, bisa dilihat berapa banyak dosa yang ia tanggung sampai menjadi pertanggungjawaban di akhirat karena dituntut oleh Allah SWT.

Selanjutnya seorang suami memang dituntut untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak, serta kepada kedua orang tuanya jika mereka berada dalam kondisi membutuhkan dan kekurangan. Kalau suami bisa memenuhi kebutuhan mereka semua, maka wajib baginya untuk memenuhi.  
Namun jika penghasilan atau hartanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, maka harus ada prioritas. Yaitu yang harus didahulukan adalah isteri dan anak yang memang berada dalam tanggung jawab utamanya sebagai seorang suami.

Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw, “Mulailah dari dirimu dengan bersedekah (memberikan nafkah) untuknya. Lalu jika ada yang tersisa maka untuk keluargamu (isteri dan anakmu). Jika masih ada yang tersisa, maka untuk karib kerabatmu (orang tua, saudara dst), dan begitu seterusnya.”

Imam an-Nawawi berkata, “Apabila pada seseorang berhimpun orang-orang membutuhkan dari mereka yang harus ia nafkahi, maka bila hartanya cukup untuk menafkahi semuanya, ia harus menafkahi semuanya, baik yang dekat maupun yang jauh. Namun apabila sesudah ia menafkahi dirinya, yang tersisa hanya nafkah untuk satu orang, maka ia wajib mendahulukan isteri daripada karib kerabatnya yang lain.(Raudhah ath-Thalibin).

Melihat pada kasus Anda, hendaknya suami mendahulukan yang menjadi kewajibannya, yaitu menafkahi isteri dan anak. Jika kondisinya benar-benar tidak mampu menafkahi ibunya, maka suami tidak berdosa karena Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Hanya saja, hal ini harus dibicarakan secara baik-baik disertai dg pemberian pemahaman. Kalau ibu masih tetap bersikeras untuk mendapat nafkah suami, sementara Anda sebagai isteri ridha demi untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga, maka Anda mendapatkan pahala yang besar insya Allah. Namun jika tidak ridha, Anda berhak untuk menuntut suami.  
Semoga Allah memberikan keberkahan dan jalan keluar terbaik bagi Anda sekeluarga.

Wallahu a’lam.
Wassalamu alaikum wr.wb.

Tim syariahonline.com 

~Cintai Anakmu untuk Selamanya~

Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi… 

Mereka bertebaran di muka bumi utk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan. 

Sebagian di antara mereka mungkin ada yg memilih utk berkarya & tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. 

Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan utk meraih dunia krn ingin meraih kemuliaan akhirat dgn menemani & melayani kita. 
Tetapi pd saatnya, kitapun akan pergi meninggalkan mereka. 

Entah kapan. 

Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini….
Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yg sesungguhnya; berpisah & tak pernah lagi berkumpul dlm kemesraan penuh cinta. 

Orangtua & anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. 

Anak-anak yang terjungkal ke dlm neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan shg menuntut tanggung-jawab orangtua yg tlh mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.
Adakah itu termasuk kita? 

Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak & ortu saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala.
Inilah hari ketika kita tak dpt membela pengacara & para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri. 

Lalu apakah yg sdh kita persiapkan utk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat? 

Dan dunia ini adalah ladangnya

Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati. 
Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding. 

Tapi Allah Ta’ala saling susulkan di antara mereka kpd yg amalnya lebih tinggi.
Allah Ta’ala berfirman:

“والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين”

“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini? 

Saling disusulkan kepada yg amalnya lbh tinggi. Termasuk kitakah?
Adakah kita benar-benar mencintai anak kita? 

Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. 

Kita tangisi mereka saat terluka. 

Tapi adakah kita juga khawatiri nasib mereka di akhirat? 

Kita bersibuk menyiapkan masa depan mereka. 

Bila perlu sampai letih badan kita. 
Tapi adakah kita berlaku sama utk “masa depan” mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?
Tengoklah sejenak anakmu. Tataplah wajahnya. Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya? 

Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. 
Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala krn lalai menanamkan tauhid dlm dirinya?

Ada hari yg pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. 

Adakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?
Maka, cintai anakmu untuk selamanya! 

Bukan hanya utk hidupnya di dunia. 

Cintai mereka sepenuh hati utk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta’ala. 

Cintai mereka dgn pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga. 

Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya utk kariernya di dunia yg sesaat. Lebih dari itu utk kejayaannya di masa yg jauh lebih panjang. 

Masa yang tak bertepi.

(Mohammad Fauzil Adhim)

Fiqh Prioritas (Fiqh Al-Awlawiyyat)

“fiqh prioritas” atau (fiqh al-awlawiyyat) adalah sebuah kajian ini sebetulnya dimaksudkan untuk menyoroti sejumlah prioritas yang terkandung di dalam ajaran agama, berikut dalil-dalilnya, agar dapat memainkan peranannya di dalam meluruskan pemikiran, membetulkan metodologinya, dan meletakkan landasan yang kuat bagi fiqh ini. Sehingga orang-orang yang memperjuangkan Islam dan membuat perbandingan mengenainya, dapat memperoleh petunjuk darinya; kemudian mau membedakan apa yang seharusnya didahulukan oleh agama dan apa pula yang seharusnya diakhirkan; apa yang dianggap berat dan apa pula yang dianggap ringan; dan apa yang dihormati oleh agama dan apa pula yang disepelekan olehnya. Dengan demikian, tidak akan ada lagi orang-orang yang melakukan tindakan diluar batas kewajaran, atau sebaliknya, sama sekali kurang memenuhi syarat. Pada akhirnya, fiqh ini mampu mendekatkan pelbagai pandangan antara orang-orang yang memperjuangkan Islam dengan penuh keikhlasan.

Yang dimaksud Dr. Yusuf Al Qardhawy ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal. “… Cahaya di atas cahaya…” (an-Nuur: 35). Sehingga sesuatu yang tidak penting, tidak didahulukan atas sesuatu yang penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang lebih penting. Sesuatu yang tidak kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Dan sesuatu “yang biasa-biasa” saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama, atau yang paling utama. Sesuatu yang semestinya didahulukan harus didahulukan, dan

yang semestinya diakhirkan harus diakhirkan. Sesuatu yang kecil tidak perlu dibesarkan, dan sesuatu yang penting tidak boleh diabaikan. Setiap perkara mesti diletakkan di tempatnya dengan seimbang dan lurus, tidak lebih dan tidak kurang. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT: “Dan Allah SWT telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (ar-Rahman:7-9).

Dasarnya ialah bahwa sesungguhnya nilai, hukum, pelaksanaan, dan pemberian beban kewajiban menurut pandangan agama ialah berbeda-beda satu dengan lainnya. Semuanya tidak berada pada satu tingkat. Ada yang besar dan ada pula yang kecil; ada yang pokok dan ada pula yang cabang; ada yang berbentuk rukun dan ada pula yang hanya sekadar pelengkap; ada persoalan yang menduduki tempat utama (esensi) tetapi ada pula yang hanya merupakan persoalan pinggiran; ada yang tinggi dan ada yang rendah; serta ada yang utama dan ada pula yang tidak utama. Persoalan seperti itu telah dijelaskan di dalam nas al-Qur’an, sebagaimana difirmankan Allah SWT: “Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Muslim yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (at-Taubah, 19-20)

Di samping itu Rasulullah saw juga bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih; yang paling tinggi di antaranya ialah ‘la ilaha illa Allah,’ dan yang paling rendah ialah ‘menyingkirkan gangguan dari jalan.'”1

Para sahabat Nabi saw memiliki antusiasme untuk mengetahui amalan yang paling utama (atau yang diprioritaskan), untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu banyak sekali pertanyaan yang mereka ajukan kepada baginda Nabi saw mengenai amalan yang paling mulia, amalan yang paling dicintai Allah SWT; sebagaimana pertanyaan yang pernah dikemukakan oleh Ibn Mas’ud, Abu Dzarr, dan lain-lain. Jawaban yang diberikan Nabi saw atas pertanyaan itupun banyak sekali, sehingga tidak sedikit hadits yang dimulai dengan ungkapan ‘Amalan yang paling mulia…”; dan ungkapan ‘Amalan yang paling dicintai Allah’. Dia akan melihat bahwa sejumlah parameter yang berkaitan dengan penjelasan amalan, nilai, dan kewajiban yang paling utama, paling baik, dan paling dicintai Allah SWT telah diletakkan di depan kita. Misalnya: “Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian; dengan kelebihan sebanyak dua puluh tujuh tingkatan.”4

“Satu dirham dapat menandingi seratus dirham.”5

“Berjaga dalam jihad selama sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa dan qiyamul-lail selama sebulan.”6

“Sesungguhnya keikutsertaan salah seorang dari kamu dalam jihad di jalan Allah adalah lebih baik daripada shalat yang dilakukan olehnya di rumahnya selama tujuh puluh tahun.”7

Sebaliknya, ada juga parameter yang berkaitan dengan penjelasan mengenai pelbagai perbuatan buruk, dengan berbagai tingkat perbedaannya di sisi Allah SWT; berupa dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil; perkara yang syubhat dan perkara makruh. Kadang-kadang sebagian perbuatan ini dikaitkan satu dengan lainya; Kita juga diperingatkan untuk tidak melakukan perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan jahat daripada yang lainnya, atau yang lebih buruk daripada perbuatan lainnya. Al-Qur’an juga telah menjelaskan bahwa derajat manusia itu tidak sama meskipun kemanusiaan mereka sama, karena mereka sama-sama diciptakan sebagai manusia. Akan tetapi, sesungguhnya ilmu dan amal perbuatan mereka sama sekali berbeda satu dengan lainnya.

Begitulah kita menemukan bahwa manusia berbeda satu dengan lainnya, dan mereka memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lainnya. Amal perbuatan mereka berbeda; dan yang membedakan kedudukan mereka satu sama lainnya ialah ilmu, amal, ketaqwaan, dan perjuangannya. Apabila kita memperhatikan kehidupan kita dari berbagai sisinya –baik dari segi material maupun spiritual, dari segi pemikiran, sosial, ekonomi, politik ataupun yang lainnya– maka kita akan menemukan bahwa timbangan prioritas pada umat sudah tidak seimbang lagi. Kita dapat menemukan di setiap negara Arab dan Islam berbagai perbedaan yang sangat dahsyat, yaitu perkara-perkara yang berkenaan dengan dunia seni dan hiburan senantiasa diprioritaskan dan didahulukan atas persoalan yang menyangkut ilmu pengetahuan dan pendidikan. Dalam aktivitas pemudanya kita menemukan bahwa perhatian terhadap olahraga lebih diutamakan atas olah akal pikiran, sehingga makna pembinaan remaja itu lebih berat kepada pembinaan sisi jasmaniah mereka dan bukan pada sisi yang lainnya. Lalu, apakah manusia itu hanya badan saja, akal pikiran saja, ataukah jiwa saja? Akan tetapi kita sekarang ini menyaksikan bahwa manusia dianggap sebagai manusia dengan badan dan otot-ototnya, sebelum menimbang segala sesuatunya.

Pada musim panas tahun lalu (1993), tiada perbincangan yang terjadi di Mesir kecuali perbincangan di seputar bintang sepak bola yang dipamerkan untuk dijual. Harga pemain ini semakin meninggi bila ada tawar-menawar antara beberapa klub sepak bola, sehingga mencapai 750.000 Junaih (satuan mata uang Mesir). Jarang sekali mereka yang mengikuti perkembangan dunia olahraga, khususnya olahraga yang bermanfaat bagi manusia dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mereka hanya menumpukan perhatian terhadap pertandingan olahraga, khususnya sepak bola yang hanya dimainkan beberapa orang saja, sedangkan yang lainnya hanya menjadi penonton mereka. Sesungguhnya bintang masyarakat, dan nama mereka yang paling cemerlang bukanlah ulama atau ilmuwan, bukan pemikir atau juru da’wah; akan tetapi mereka adalah apa yang kita sebut sekarang dengan para aktor dan aktris, pemain sepak bola, dan sebagainya.

Surat kabar dan majalah, televisi dan radio, hanya memperbincangkan kehidupan, tingkah laku, “kejayaan,” petualangan, dan berita di sekitar mereka, walaupun tidak berharga. Sedangkan orang-orang selain mereka tidak pernah diliput, dan bahkan hampir dikesampingkan atau dilupakan. Apabila ada seorang seniman yang meninggal dunia, seluruh dunia gempar karena kematiannya, dan semna surat kabar berbicara tentang kematiannya. Namun apabila ada seorang ulama, ilmuwan, atau seorang profesor yang meninggal dunia, seakan-akan tidak ada seorangpun yang membicarakannya. Kalau dilihat dari segi material, perhatian mereka kepada dunia olahraga dan seni memakan biaya sangat tinggi; yaitu untuk membiayai publikasi, dan keamanan penguasa, yang mereka sebut sebagai biaya “keamanan negara”; dimana tidak ada seorang pun dapat menolak atau mengawasinya. Mengapa semua itu bisa terjadi? Pada saat yang sama, lapangan dunia pendidikan, kesehatan, agama, dan perkhidmatan umum, sangat sedikit mendapat dukungan dana; dengan alasan tidak mampu atau untuk melakukan penghematan, terutama apabila ada sebagian orang yang meminta kepada mereka sumbangan untuk melakukan peningkatan sumber daya manusia dalam rangka menghadapi perkembangan zaman.

Persoalannya adalah seperti yang dikatakan orang: “Penghematan di satu sisi, tetapi di sisi lain terjadi pemborosan”; sebagaimana yang pernah dikatakan Ibn al-Muqaffa,: “Aku tidak melihat suatu pemborosan terjadi kecuali di sampingnya ada hak yang dirampas oleh orang yang melakukan pemborosan itu.”

Judul FIQH PRIORITAS : Sebuah kajian baru berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah
No. ISBN
Penulis Dr. Yusuf Qardhawi
Penerbit Robbani Press 
Tanggal terbit 2008
Jumlah Halaman 336

Game yang Menghina ISLAM

Assalamualaykum Semuanya..

Kebetulan banget lagi buka-buka blog, salah satunya ini. Boleh Copy Paste dari sebuah web. Ternyata game-game yang dibuat oleh orang2 tidak bertanggung jawab, ada yang menghina Islam. Buat yang suka main game, let’s check it!

Salam Islam, Kali ini saya akan share kepada sobat semuanya mengenai Game Yang Menghina Islam. Saya sebagai salah satu dari berjuta umat islam di dunia, merasa memiliki kewajiban untuk menyampaikan berita ini . Game adalah salah satu hiburan yang sangat dan sangat digemari orang , apalagi remaja dan anak-anak. tapi tanpa kita sadari, lewat permainan game tersebut kita telah di jajah oleh orang kafir. dijajah dalam hal waktu, yang bisa membuat kita lupa sholat, dijajah dalam hal keimanan melalui game.
orang-orang kafir secara tidak langsung menghipnotis kita, agar kita tertarik dengan apa yang kita mainkan, dan lama-kelamaan kita menggilainya, bahkan merasa bahwa apa yang dimainkan tersebut adalah nyata. Ok sob , ini ada beberapa game yang mungkin secara sengaja atau tidak telah menghina islam . Saya sangat prihatin sob , karena game-game ini  justru game yang disukai remaja dan anak-anak islam, bahkan saya mengaku dengan jujur, pernah memainkan game ini dan sempat menggilainya “Ya Allah Ampun ya Allah ”. ini sob daftar game-gamenya :
DEVIL MY CRY 3
                                                                           
Nah Game ini belum pernah say
a mainkan sob,secara garis besar game ini menceritakan seseorang yang bertugas untuk menentang syaitan , dan caranya adalah dengan memasuki sarang setan yang terdiri dari 12 pintu. Dan Mari kita lihat unsur penghinaanya.

Sobat bisa melihat pintu tersebut, pintu tersebut adalah jalan menuju alam setan. pertama kali saya lihat pintunya saya merasa biasa saja, tidak ada yang aneh. dan setelah saya bandingkan dengan gambar yang ini…

Sobat tau ini gambar apa ??? ini adalah Pintu Ka’bah,dengan sengaja pintu dalam game ini dibuat persis menyerupai pintu ka’bah. dengan maksud, tidak lain dan tidak bukan adalah dengan maksud menghina kita semua umat islam, karena telah menyembah sarang setan (ka’bah). Mari kita telusuri lagi…

Sobat bisa lihat dengan JELAS , gambar yang dilingkari tersebut adalah lafadz ALLAH. Akankah sobat semua terima dengan penghinaan ini, kalau saya sangat tidak terima sob…
lanjut ke game berikutnya :
CLIVE BARKER UNDYING

                                                                               

Game garapan EA Games ini juga belum pernah saya mainkan sob, tapi saya sering melihat anak-anak kecil memainkan game ini dengan khusu’ dan serius sob , ya saya merasa maklum. namanya juga anak kecil, tapi ternyata yang membuat mereka betah memainkan game ini adalah karena mereka digoda sama setan sob. secara tidak sadar mereka sambil bermain game juga sambil ditemanin setan. makanya betah sob. game ini juga mengisahkan perlawanan terhadap setan. dan letak penghinaannya adalah di saat memasuki istana setan. terdapat lafadz Allah di dindingnya :

Gambar diatas merupakan gambar istana setan. dan sobat bisa lihat sendiri. dengan jelasssss !!! terpampang tulisan arab dan Lafadz Allah. Nauzubillah… ini seolah-olah mengatakan bahwa siapa saja yang menyembah Allah adalah sekutu setan.
Astagfirullah…semoga yang buat game ini di azab oleh Allah .Aminn !! Lanjut ke game berikutnya :
PRINCE OF PERSIA

                                                                               

Game yang berlatar tempat di Persia atau sekarang adalah Kawasan Iran,Irak,Mesir ini secara keseluruhan memang bertemakan islam, seorang pangeran yang ceritanya membalas dendam ini memang dengan kasat mata tidak ada unsur penghinaanya terhadap islam. tapi setelah di selidiki,unsur penghinaanya adalah :

Sobat bisa lihat pedangnya pangeran dastan. bertuliskan Arab yang Artinya ”“Sebarkanlah ajaranku walau satu ayat pun” (Sabda Rasulullah SAW). lantas dimana unsur penghinaanya ??? didalam Game ini pangeran membunuh siapa saja yang menghalanginya … dan membunuh prajurit-prajurit persia, tahukah sobat bahwa prajurit persia adalah muslim. secara tidak langsung game ini mengatakan bahwa ajaran Rasullulah yang disebarkan adalah ajaran membunuh. dan mengatakan bahwa umat islam adalah kaum barbar. Nauzubillahmindzalik..
GUITAR HERO 3

                                                                                     

Orang yang memainkan game ini sob , dibuat mabuk !!! seolah-olah merasakan lantunan lagu dan jingkrak-jingkrak seperti yang di game,tanpa mereka sadari .Game ini menghina islam dengan Telak dan Jelas.mari kita lihat :

Apakah sobat terima ???? kalo saya Sangat TIDAK terima. Lafadz ALLAH dengan jelas terpampang dilantai panggung dan di injak-injak.dan coba sobat lihat latar belakang panggung adalah setan-setan semua. Nauzubillah,semoga Allah yang maha perkasa menghukum dengan hukuman yang pedih  :
RESIDENT EVIL 4

                                                                             

Game yang bisa dibilang seru dan digemari remaja ini merupakan salah satu game yang menghina Islam sob, di dalam Game ini diceritakan seorang yang bertugas mengemban misi menyelamatkan dunia dari ancaman zombie (mayat hidup) dan zombie disini adalah dikategorikan jahat dan wajib di bunuh. Unsur penghinaannya sebenarnya sudah ada sejak pertama kali main, tapi yang sangat Jelas adakah saat Leon memasuki Sarang Zombie . Pintu tersebut terdapat simbol Iluminati dan pintu tersebut dibuat persis dengan pintu Pintu Omar Bin Khattab, Masjid Nabawi. Mari kita lihat :

Lambang Asli Iluminati pada pintu tersebut

di bawah ini adalah pintu Umar Bin Khattab

Gabungan dan Unsur penghinaannya adalah :

sangat jelas bukan??! gambar kaligrafi dari pintu umar bin khattab dibuat sama persis tanpa diubah Tulisan Kaligrafi yang Berlafadz Nabi Muhammad. dan di tindih dengan lambang iluminati .Nauzubillah…kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sarang zombi , berpintu dengan lafadz Nabi Muhammad SAW, jadi maksud dari penghinaan ini adalah , kita semua umat islam pengikut nabi Muhammad SAW digambarkan zombie yang wajib dimusnahkan dari muka bumi. NAUZUBILLAHMINZALIK…ok sob , itu tadi penelusuran saya tentang Game yang Menghina Islam. mari kita musnahkan game tersebut dengan cara tidak memainkannya, saya harap setelah sobat membaca artikel ini, sobat memberitahukan kepada sobat-sobat yang lainnya yang belum tahu, sebenarnya hampir semua game memiliki unsur yang sedikit menyinggung Islam, tapi saya rasa game yang telah saya bahas ini , sangat telak dan wajib dijauhi. wajib  ya sob !!!! saran saya, marilah kita menggunakan waktu dengan hal yang berguna , sebelum saya mengetahui Game-game ini menghina Islam, saya juga seorang yang suka bermain game , tapi setelah saya mengetahuinya  , degan jujur saya mengatakan,saya mulai memilih-milih game untuk dimainkan.Ok sob terimakasih sudah berkunjung , semoga bermanfaat ya…

Sumber:

Ketika…

Ketika

1. KETIKA AKAN MENIKAH
Janganlah mencari isteri, tetapi carilah ibu bagi anak-anak kita Janganlah mencari suami, tetapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2. KETIKA MELAMAR
Kita bukan sedang meminta kepada orang tua/wali si gadis, tetapi meminta kepada Allah melalui orang tua/wali si gadis.

3. KETIKA AKAD NIKAH
Kita berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan Allah

4. KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
Catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendo’akan kita, karena kita harus berfikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila kita berfikir untuk BERCERAI karena menyia-nyiakan do’a mereka.

5. SEJAK MALAM PERTAMA
Bersyukur dan bersabarlah. Kita adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.

6. SELAMA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA
Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.

7. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG
Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.

8. KETIKA BELUM MEMILIKI ANAK.
Cintailah isteri atau suami anda 100%. Kita bukan menikah karena fisik, tapi karena Allah memilihnya untuk membuat kita lebih sabar.

9. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK.
Jangan bagi cinta kita kepada (suami) isteri dan anak kita, tetapi cintailah isteri atau suami kita 100% dan cintai anak-anak kita masing-masing 100%.

10.KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUM MEMBAIK.
Yakinlah bahwa pintu rizki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami dan isteri.

11.KETIKA EKONOMI MEMBAIK
Jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita. Karena tanpa istri/suami kita, kita tidak akan menjadi lebih baik, karena suami/istri kita selalu mengingatkan kita kepada Allah.

12.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan kita.

13.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

14.KETIKA MENDIDIK ANAK
Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak .

15.KETIKA ANAK BERMASALAH
Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orangtua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

16.KETIKA ADA PIL.
Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.

17.KETIKA ADA WIL
Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

18.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA
Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia karena Allah.

19.KETIKA INGIN LANGGENG DAN HARMONIS
Gunakanlah formula 7 K
1 Ketaqwaan
2 Kasih sayang
3 Kesetiaan
4 Komunikasi dialogis
5 Keterbukaan
6 Kejujuran
7 Kesabaran

Bahasa Arab Tak Boleh Kalah dari Bahasa Inggris

Selama ini Bahasa Arab seakan kalah prestisius dengan Bahasa Inggris. Tak heran jika tak banyak masyarakat di Indonesia yang berminat mempelajarinya. Padahal, memahami Bahasa Arab sangat penting karena merupakan bahasa Al-Qur’an. Untuk itulah, World Assembly of Moslem Youth (WAMY) Indonesia bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ushuluddin (STIU) Dirasat Islamiyah Al-Hikmah mengadakan Olimpiade Bahasa Arab tingkat Jabodetabek.

 

“Bahasa Arab tidak boleh kalah dengan Bahasa Inggris,” ujar Ketua Divisi Kewanitaan WAMY Yennie Kurniawati Yennie, di Jakarta, Ahad (30/5). Kegiatan ini telah berlangsung lima tahun. Dalam rangkaian kegiatan olimpiade itu terdapat beberapa kegiatan untuk peningkatan kualitas berbahasa Arab. “Ada lomba debat Bahasa Arab, karya ilmiah berbahasa arab, cerdas cermat Bahasa Arab, dan mading (majalah dinding) berbahasa arab,” jelasnya. Yennie mengatakan, pada penyelenggaraan tahun ini, pihaknya melakukan langkah yang berbeda. “Tahun lalu kita tidak mengadakan lomba karya ilmiah, cerdas cermat, dan mading,” ujarnya. Tidak hanya itu, pihaknya juga kini lebih mengedepankan peningkatan kualitas berbahasa arab pada siswa aliyah. Dari ke-4 lomba tersebut, dua di antaranya diperuntukkan bagi siswa aliyah.

 

Lomba karya ilmiah menjadi salah satu kegiatan yang menjadi sorotan pihaknya. Dengan kemampuan menulis bahasa arab, dia mengharapkan hal itu menjadi suatu langkah maju bagi para mahasiswa muslim di Indonesia. Ke depan, Yennie berharap dapat membuat kegiatan serupa dengan lingkup kerja lebih luas. “Semoga saja kita dapat melakukan kegiatan ini dengan lingkup nasional,” ujarnya. Namun Yennie mengakui terdapat beberapa kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan ini. Salah satunya adalah pemilihan waktu kegiatan. “Kegiatan ini dilaksanakan saat menjelang ujian siswa dan UTS mahasiswa,” ujarnya. Akibatnya, jumlah peserta tidak terlalu banyak. Total terdapat 13 kelompok yang mengikuti lomba cerdas cermat dan majalah dinding. Selain itu juga terdapat 10 peserta lainnya yang mengikuti lomba karya ilmiah. Direktur Eksekutif WAMY Indonesia, Aang Suandi mengatakan pemuda menjadi aset penting bagi

 

Muslim Indonesia. “Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia,” ujarnya. Oleh karena itu, potensi mengembangkan kebudayaan yang berbau islami di Indonesia harus lebih ditingkatkan. “Salah satunya adalah Bahasa Arab,” ujarnya. Salah seorang peserta lomba majalah dinding, Syauqi Syahbani mengatakan sangat senang dengan adanya lomba ini. Siswa Madrasah Aliah Khusnul Khotimah ini mengaku rela menghabiskan uang sebesar 150 ribu untuk menyiapkan diri mengikuti lomba ini. “Saya ingin membuat mading dengan tema batik dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

By moslemsmiles Posted in Tak Berkategori Dengan kaitkata

Menjadi Bapak yang Idaman…1

penulis:Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah
Sakinah Mengayuh Biduk 19

Membangun kehidupan rumah tangga yg harmonis memang menjadi dambaan. Namun tentu saja utk mencapai bukan persoalan mudah. Butuh kesiapan dlm banyak hal terutama dari sisi ilmu agama. Sesuatu yg mesti dipunyai seorang istri terlebih sang suami.

Tidak salah jika ada yg mengatakan bahwa menikah berarti menjalani hidup baru. Karena dlm kehidupan pasca pernikahan memang dijumpai banyak hal yg sebelum tdk didapatkan saat melajang. Tentu semua itu bisa dirasakan oleh mereka yg telah membangun mahligai rumah tangga.

Pernikahan juga merupakan kehidupan orang dewasa. Sebab banyak hal yg harus dihadapi dan diselesaikan dgn pikiran orang yg dewasa bukan dgn pikiran kanak-kanak. Masalah hubungan suami istri pendidikan anak ekonomi keluarga hubungan kemasyarakatan dan lain sebagai mau tdk mau akan hadir dlm kehidupan mereka yg telah berkeluarga.

Maka tdk salah pula bila dikatakan utk menikah itu butuh ilmu syar‘i baik pihak istri terlebih lagi pihak suami sebagai qawwam bagi keluarganya. Karena dgn ilmu yg disertai amalan akan tegak segala urusan dan akan lurus jalan kehidupan. Namun sangat disayangkan sisi yg satu ini sering luput dari persiapan dan sering terabaikan baik sebelum pernikahan terlebih lagi pasca pernikahan.

Pendidikan Keluarga

Allah berfirman:
“Kaum laki2 adl qawwam1 bagi kaum wanita .”

Salah satu tugas suami sebagai qawwam adl memberikan pendidikan agama kepada istri dan anak-anak meluruskan mereka dari penyimpangan dan mengenalkan mereka kepada kebenaran. Karena Allah telah berfirman:
“Wahai orang2 yg beriman jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yg bahan bakar adl manusia dan batu.”

Menjaga keluarga yg dimaksud dlm butiran ayat yg mulia ini adl dgn cara mendidik mengajari memerintahkan mereka dan membantu mereka utk bertakwa kepada Allah serta melarang mereka dari bermaksiat kepada-Nya. Seorang suami wajib mengajari keluarga tentang perkara yg di-fardhu-kan oleh Allah . Bila ia mendapati mereka berbuat maksiat segera dinasehati dan diperingatkan.

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di berkata: “Menjaga jiwa dari api neraka bisa dilakukan dgn mengharuskan jiwa tersebut utk berpegang dgn perintah Allah melaksanakan apa yg diperintahkan menjauhi apa yg dilarang dan bertaubat dari perkara yg mendatangkan murka dan adzab-Nya. Di samping itu menjaga istri dan anak-anak dilakukan dgn cara mendidik dan mengajari mereka serta memaksa mereka utk taat kepada perintah Allah. Seorang hamba tdk akan selamat kecuali bila ia menegakkan perkara Allah pada diri dan pada orang2 yg berada di bawah perwalian seperti istri anak-anak dan selain mereka.”

Ayat ini menunjukkan wajib suami mengajari anak-anak dan istri tentang perkara agama dan kebaikan serta adab yg dibutuhkan. Hal ini semisal dgn firman Allah kepada Nabi-Nya :

“Perintahkanlah keluargamu utk melaksanakan shalat dan bersabarlah dlm menegakkannya.”

“Berilah peringatan kepada karib kerabatmu yg terdekat.”

Ini menunjukkan keluarga yg paling dekat dgn kita memiliki kelebihan dibanding yg lain dlm hal memperoleh pengajaran dan pengarahan utk taat kepada Allah.

Malik Ibnul Huwairits mengabarkan: “Kami mendatangi Rasulullah dan ketika itu kami adl anak-anak muda yg sebaya. Lalu kami tinggal bersama beliau di kota Madinah selama sepuluh malam. Kami mendapati beliau adl seorang yg penyayang lagi lembut. Saat sepuluh malam hampir berlalu beliau menduga kami telah merindukan keluarga kami krn sekian lama berpisah dgn mereka. Beliau pun berta tentang keluarga kami mk cerita tentang mereka pun meluncur dari lisan kami. Setelah beliau bersabda:

“Kembalilah kalian kepada keluarga kalian tinggallah di tengah mereka dan ajari mereka serta perintahkanlah mereka.”

Dalam hadits di atas Nabi memerintahkan kepada shahabat utk memberikan taklim kepada keluarga dan menyampaikan kepada mereka ilmu yg didapatkan saat bermajelis dgn seorang ‘alim.

Dengan penjelasan yg telah lewat dapat dipahami bahwa seorang suami/ kepala rumah tangga harus memiliki ilmu yg cukup utk mendidik anak istri mengarahkan mereka kepada kebenaran dan menjauhkan mereka dari penyimpangan.

Namun sangat disayangkan kenyataan yg kita lihat banyak kepala keluarga yg melalaikan hal ini. Yang ada di benak mereka hanyalah bagaimana mencukupi kebutuhan materi keluarga sehingga mereka tenggelam dlm perlombaan mengejar dunia sementara kebutuhan spiritual tdk masuk dlm hitungan. Anak dan istri mereka hanya dijejali dgn harta dunia bersenang-senang dengan namun bersamaan dgn itu mereka tdk mengerti tentang agama.

Paling tdk bila seorang suami tdk bisa mengajari keluarga mungkin krn kesibukan atau keterbatasan ilmu ia mencarikan pengajar agama utk anak istri atau mengajak istri ke majelis taklim menyediakan buku-buku agama kaset-kaset ceramah/ taklim sesuai dgn kemampuan dan menganjurkan keluarga utk membaca/ mendengarnya.

By moslemsmiles Posted in Tak Berkategori Dengan kaitkata

Menjadi Bapak yang Idaman…2

Mendidik Istri Memasuki masa-masa awal pernikahan semesti seorang suami telah merencanakan pendidikan agama bagi istrinya. Minimal ia mempunyai pandangan ke arah sana. Dan sebelum menjadi seorang ayah semesti ia telah menyiapkan istri utk menjadi pendidik anak-anak kelak karena: “Ibu adl madrasah bagi anak-anaknya” kata penyair Arab. Perlu juga diperhatikan bahwa mendapatkan pengajaran agama termasuk salah satu hak istri yg seharus ditunaikan oleh suami dan termasuk hak seorang wanita yg harus ditunaikan walinya. Namun pada praktek hak ini seringkali tdk terpenuhi sebagaimana mestinya.

Sehingga tepat sekali ucapan Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i yg membagi manusia menjadi tiga macam dlm mengurusi wanita: Pertama: Mereka yg melepaskan wanita begitu saja sekehendak membiarkan bepergian jauh tanpa mahram bercampur baur di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di tempat kerja seperti kantor dan di rumah sakit. Sehingga mengakibatkan rusak keadaan kaum muslimin. Kedua: Mereka yg menyia-nyiakan wanita tanpa taklim membiarkan seperti binatang ternak sehingga ia tdk tahu sedikit pun kewajiban yg Allah bebankan padanya. Wanita seperti ini akan menjatuhkan diri kepada fitnah dan penyelisihan terhadap perintah-perintah Allah bahkan akan merusak keluarganya. Ketiga: Mereka yg memberikan pengajaran agama kepada wanita sesuai dgn kandungan Al Qur’an dan As Sunnah krn melaksanakan perintah Allah : “Wahai orang2 yg beriman jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yg bahan bakar adl manusia dan batu.” Dan krn Rasulullah bersabda: “Setiap kalian adl pemimpin dan tiap kalian akan ditanya/ dimintai tanggung jawab tentang apa yg dipimpinnya.”2 Seorang istri perlu diajari tentang perkara yg dibutuhkan dlm kehidupan sehari-hari siang dan malam tentang tauhid bahaya syirik maksiat dan penyakit-penyakit hati berikut pengobatannya. Rasulullah sendiri menyediakan waktu khusus utk mengajari para wanita. Abu Sa’id Al-Khudri berkata: “Datang seorang wanita kepada Rasulullah lalu ia berkata: “’Wahai Rasulullah! Kaum laki2 telah pergi membawa haditsmu mk berikanlah utk kami satu hari yg khusus di mana kami dapat mendatangimu utk belajar kepadamu dari ilmu yg Allah telah ajarkan padamu.’ Beliau pun bersabda: ‘Berkumpullah kalian pada hari ini dan itu di tempat ini ’. Hingga mereka pun berkumpul pada hari dan tempat yg dijanjikan utk mengambil ilmu dari beliau sesuai dgn apa yg diajarkan Allah kepada beliau.” Bahkan istri-istri Rasulullah “lahir” dari madrasah nubuwwah dan mereka menuai bekal ilmu yg banyak terutama Ummul Mukminin Aisyah yg besar dlm asuhan madrasah yg mulia ini. Sepeninggal suami mereka Rasulullah mereka menjadi pendidik umat bersama dgn para shahabat yg lain semoga Allah meridhai mereka.

Gambaran Pengajaran Seorang ‘Alim terhadap Keluarga Mereka Para pendahulu kita yg shalih sangat mementingkan pendidikan agama bagi keluarga mereka. Di samping mereka berdakwah kepada umat di luar rumah mereka juga tdk melupakan orang2 yg berada dlm rumah mereka . Tidak seperti kebanyakan manusia pada hari ini yg sibuk dgn urusan mereka di luar rumah sehingga melalaikan pendidikan istrinya. Bahkan sangat disayangkan hal ini juga menimpa keluarga da‘i. Ia sibuk berdakwah kepada masyarakat sementara istri di rumah tdk mengerti tata cara shalat yg diajarkan oleh Nabi tdk tahu cara menghilangkan najis dan sebagainya. Yang lbh parah istri atau anak tdk mengerti tentang tauhid dan syirik3. Bandingkan dgn apa yg ada pada salaf! Lihatlah keluarga Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani . Beliau demikian bersemangat menyebarkan ilmu di tengah keluarga dan kerabat sebagaimana semangat menyampaikan ilmu kepada orang lain. Kesibukan beliau dlm dakwah di luar rumah dan dlm menulis ilmu tidaklah melalaikan beliau utk memberi taklim kepada keluarganya. Dari hasil pendidikan ini lahirlah dari keluarga beliau orang2 yg terkenal dlm ilmu khusus ilmu hadits seperti: saudara perempuan Sittir Rakb bintu ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Hajar Al-’Asqalani istri Uns bintu Al-Qadhi Karimuddin Abdul Karim bin ‘Abdil ‘Aziz putri Zain Khatun Farhah Fathimah ‘Aliyah dan Rabi`ah. Lihat pula bagaimana Sa’id Ibnul Musayyab membesarkan dan mengasuh putri dlm buaian ilmu hingga ketika menikah suami mengatakan ia mendapati istri adl orang yg paling hapal dgn kitabullah paling mengilmui dan paling tahu tentang hak suami. Demikian pula kisah keilmuan putri Al-Imam Malik . Dengan bimbingan ayah ia dapat menghapal Al-Muwaththa’ karya sang Imam. Bila ada murid Al-Imam Malik membacakan Al-Muwaththa’ di hadapan beliau putri berdiri di belakang pintu mendengarkan bacaan tersebut. Hingga ketika ada kekeliruan dlm bacaan ia memberi isyarat kepada ayah dgn mengetuk pintu. mk ayah pun berkata kepada si pembaca: “Ulangi bacaanmu krn ada kekeliruan”. Perhatian pendahulu kita rahimahumullah terhadap pendidikan keluarga ternyata juga kita dapatkan dari ulama yg hidup di zaman kita ini seperti Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i . dlm sehari beliau menyempatkan waktu utk mengajari anak istri tentang perkara-perkara agama yg mereka butuhkan hingga mereka mapan dlm ilmu dan dapat memberi faedah kepada saudara mereka sesama muslimah dlm majelis yg mereka adakan atau dari karya tulis yg mereka hasilkan. Demikian kisah ulama kita dgn keluarga lalu di mana tempat kita bila dibanding dgn mereka ? Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

By moslemsmiles Posted in Tak Berkategori Dengan kaitkata