Tanggung Jawab Ayah terlepas setelah Anak Gadisnya Menikah

By: Udztad Felix Siauw

seorang anak perempuan itu milik ayahnya sampai dia dinikahi | maka datangilah ayahnya bila engkau betul-betul berani

karena ayahnya yang telah mengajarinya, memberinya makan | melindunginya, dan membuatnya mengenal Allah

karenanya ayahnya pula yang paling tahu perihal putrinya | jelas-jelas lebih tahu lelaki mana yang sanggup menggantikannya

karena menikahi seorang perempuan itu berarti menggantikan ayahnya | mengambil semua tanggungan ayahnya atas diri perempuan itu

memberinya makan, pakaian, kediaman, bersama-sama kita | mencintai, menyayangi, melindungi, jadi sandaran baginya

suami itu pemimpin dalam taat, yang harus lebih ibadahnya | pembimbing di jalan surga dan pengawal dari murka Allah

kesemuanya itu, segalanya itu, adalah ayah yang menilainya | Allah berikan kepada ayah, penilaian cocoknya calon suami

bukan berarti tak ada hak pada putrinya, hanya ayahnyalah wali | maka lelaki sejati, mendatangi dan meyakinkan walinya

bahwa dia pantas menjadi wali menggantikan ayahnya | bahwa tugas berat itu hendak dia pikul dengan sama baiknya

maka awalnya suami baik itu dari yang taat pada Allah | yang mendatangi walinya bukan hanya sibuk dengan putrinya

dan calon suami yang baik itu, tak pernah mengajak maksiat | berpacaran dan berkhalwat, atau amal nista sebelum menikah

yang meminang dengan hamdalah pada ayahnya | itulah yang bakal mengajak pada jalan bahagia ūüôā

Nafkah, dahulukan Istri & Anak atau Keluarga Suami?

Assalamualaikum wr. Wb.
Ustad/ustdzah saya Iva, wanita dan sudah menikah. Saya bekerja dan memiliki anak 1 masih balita. Saya ingin bertanya, bagaimana islam memandang apabila dalam rumah tangga istri harus memenuhi kebutuhan sendiri & anak, dikarenakan suami harus membyar cicilan pinjaman di bank & memberikan nafkah ke ibunya, sedangkan ibu mertua mampu & msih dapat nafkah dari bapak mertua & dari kakak ipar setiap bulannya.
Suami takut ibunya marah jika tidak dikasih. Jadi suami tidak bisa menafkahi istri dan anak. Apakah dalam islam berdosa ustad/ustdzah ? Apakah islam memandang apabila tidak memberi nafkah ke ibunya, suami saya berdosa ? Apakah tidak bisa memberi nafkah istri dan anak termasuk mendzalimi istri & anak ? Mana yang harus didahulukan istri & anak atau ibunya? Sblm menikah saya seorang yatim & saya juga msih menjadi tulang punggung keluarga untuk menafkahi ibu saya dan adik saya sampai saat ini. Bagaimana islam memandang permasalahan ini, mohon jwabanya ustad/ustadzah. Sukron. Wassalam,

Jawaban
Assalamu alaikum wr.wb Alhamdulillahi Rabbil alamin. Washshalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du:
Dalam Islam jelas bahwa seorang suami bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surat an-Nisa ayat 34 dan al-Baqarah 233. 

Meskipun kondisi isteri mampu, berkecukupan, bahkan kaya, kewajiban untuk memberikan nafkah keluarga tetap menjadi tanggung jawab suami, kecuali kalau isteri ridha dg keadaan yang ada. Namun jika tidak, dan suami tetap tidak mau memberikan nafkah kepada isteri dan anak, maka sang suami berdosa. 

Rasul saw bersabda, ŔÉŔéŔĀŔéŔČ ō®ŔźōßŔĄŔíŔÖŔéōĪŔíō°Ŕź ō•ŔźōęŔíŔÖŔčōß ō£ŔéŔÜŔí ŔäŔŹō∂ŔéŔäŔźŔĎōĻŔé ŔÖŔéŔÜŔí ŔäŔéŔāŔŹŔąō™ŔŹ

‚ÄúCukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.‚ÄĚ (HR. An-Nasa‚Äôi dan Al-Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Jika seorang suami tidak pernah memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, bisa dilihat berapa banyak dosa yang ia tanggung sampai menjadi pertanggungjawaban di akhirat karena dituntut oleh Allah SWT.

Selanjutnya seorang suami memang dituntut untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak, serta kepada kedua orang tuanya jika mereka berada dalam kondisi membutuhkan dan kekurangan. Kalau suami bisa memenuhi kebutuhan mereka semua, maka wajib baginya untuk memenuhi.  
Namun jika penghasilan atau hartanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, maka harus ada prioritas. Yaitu yang harus didahulukan adalah isteri dan anak yang memang berada dalam tanggung jawab utamanya sebagai seorang suami.

Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw, “Mulailah dari dirimu dengan bersedekah (memberikan nafkah) untuknya. Lalu jika ada yang tersisa maka untuk keluargamu (isteri dan anakmu). Jika masih ada yang tersisa, maka untuk karib kerabatmu (orang tua, saudara dst), dan begitu seterusnya.”

Imam an-Nawawi berkata, “Apabila pada seseorang berhimpun orang-orang membutuhkan dari mereka yang harus ia nafkahi, maka bila hartanya cukup untuk menafkahi semuanya, ia harus menafkahi semuanya, baik yang dekat maupun yang jauh. Namun apabila sesudah ia menafkahi dirinya, yang tersisa hanya nafkah untuk satu orang, maka ia wajib mendahulukan isteri daripada karib kerabatnya yang lain.(Raudhah ath-Thalibin).

Melihat pada kasus Anda, hendaknya suami mendahulukan yang menjadi kewajibannya, yaitu menafkahi isteri dan anak. Jika kondisinya benar-benar tidak mampu menafkahi ibunya, maka suami tidak berdosa karena Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Hanya saja, hal ini harus dibicarakan secara baik-baik disertai dg pemberian pemahaman. Kalau ibu masih tetap bersikeras untuk mendapat nafkah suami, sementara Anda sebagai isteri ridha demi untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga, maka Anda mendapatkan pahala yang besar insya Allah. Namun jika tidak ridha, Anda berhak untuk menuntut suami.  
Semoga Allah memberikan keberkahan dan jalan keluar terbaik bagi Anda sekeluarga.

Wallahu a’lam.
Wassalamu alaikum wr.wb.

Tim syariahonline.com 

Petuah Orang Tua

Pernah ya dapat pesan dari orang tua kita? Pastinya dooong, setiap orang tua pasti akan memberikan pesan-pesan nya ke semua anaknya.

Karena dari mereka lah pengalaman dan perjalanan hidupku dimulai.

Karena dari mereka lah lahir aku.

Karena dari mereka lah aku bisa seperti ini.

Karena dari mereka lah, Allah mengirimkan Ar-Rahman dan Ar-Rahim Nya untukku.

Alhamdulillah sejak aku kecil, aku dilatih mandiri dan dilatih untuk survive di suatu tempat. Beberapa pesan yang tidak akan aku lupakan dari orang tuaku adalah:

  • Ucapkan TERIMA KASIH kepada orang yg telah membantu kita. Baik materi atau sekedar motivasi. Dan hal ini juga disampaikan oleh Rasulullah, dalam hadistnya:

” ŔÖŔÜ ŔĄŔÖ ŔäōīŔÉōĪ ōßŔĄŔÜōßō≥ ŔĄŔÖ ŔäōīŔÉōĪ ōßŔĄŔĄŔá ”
“Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Ahmad)


Dalam hadits yang lain disebutkan :

” ō£ōīŔÉōĪ ōßŔĄŔÜōßō≥ ŔĄŔĄŔá ō£ōīŔÉōĪŔáŔÖ ŔĄŔĄŔÜōßō≥ ”
“Orang yang paling bersyukur kepada Allah adalah mereka yang paling bersyukur kepada manusia” (HR. Al Baihaqi)


Dalam hadits yang lain disebutkan :

ŔąŔéŔÖŔéŔÜŔí ōĶŔéŔÜŔéōĻŔé ō•ŔźŔĄŔéŔäŔíŔÉŔŹŔÖŔí ŔÖŔéōĻŔíōĪŔŹŔąŔĀŔčōß ŔĀŔéŔÉŔéōßŔĀŔźō¶ŔŹŔąŔáŔŹ
“dan barangsiapa yang berbuat kebaikan kepadamu maka balaslah dia” (HR. Abu Daud no. 1672, An-Nasai: 5/82, dan Ahmad dalam Al-Musnad: 2/68,99)


Kalau ingat dulu waktu kecil, apapun yang dikasih ke kita dari orang/ saudara harus mengucap terima kasih. Mau itu pertolongan, material atau apapun itu. Dan kalo kata ayah & ibu, kita harus bisa membalas jasa orang tersebut. Misal, dulu waktu kecil aku sering dititip Bude karena orang tuaku kerja. Pastinya dong banyak yg dikeluarkan Bude buatku, sekarang Bude udah meninggal. Nah gimana coba membalas kebaikan Bude?

Caranya sebisa mungkin Kita ucapkan terima kasih sama semua anak-anaknya Bude. Bude dan Pakde juga pasti punya cucu kan. Beberapa waktu kalau kita punya rezeki lebih karena hasil gaji kita, balaslah kebaikan-kebaikan Bude dulu kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya. Kasih Lah 100ribu atau sekedar makanan buatan kita yang enak. Insya Allah suatu saat nanti Allah akan membalas kebaikan untuk anak-anak dan cucu-cucu kita.

Begitupun sebaliknya, kalau kita pelit, masa bodo sama yang sudah pernah menolong kita, lebih parah lagi tidak peduli. Udah dapat keenakan hidup di dunia, gaji besar, tapi tidak mau membalas kebaikan orang, suatu saat nanti anak-anak dan cucu-cucu kita tidak akan peduli sama kita. Believe or Not, IF you do It, you Will get it.



  • Mencoba untuk CARE dengan orang lain. Apalagi dengan orang dekat. Contoh: istri/suami, saudara (nenek, kakek, adik, kakak, tante, om, pakde, budhe), tetangga, dll. Care disini dalam arti kalau tidak bisa memberikan bentuk materi, coba untuk rasa empati. Menanyakan, bukan berarti ikut campur urusan orang. SMS/Telp/BBM dan sebagainya, karena sekarang banyak media sosial yang bisa dipakai hanya untuk sekedar bertanya.

‚ÄúAnak yatim bukanlah anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tua hingga ia menjadi miskin. Akan tetapi, anak yatim yang sebenarnya ialah seorang anak yang menemukan ibunya yang kurang mendidiknya dan menemukan ayah yang sibuk dengan pekerjaannya.‚ÄĚ (baca kitab Tarbiyatu al-Aulaad Fii al-Islaam halaman 103-104)

ŔÉŔéŔĀŔéŔČ ō®ŔźōßŔĄŔíŔÖŔéōĪŔíō°Ŕź ō•ŔźōęŔíŔÖŔčōß ō£ŔéŔÜŔí ŔäŔŹō∂ŔéŔäŔźŔĎōĻŔé ŔÖŔéŔÜŔí ŔäŔéŔāŔŹŔąō™ŔŹ

‚ÄúCukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.‚ÄĚ (HR. An-Nasa‚Äôi dan Al-Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)


Apalagi kalau kita di rumah orang, dulu waktu mbah masih ada dan kalau lagi nginep di rumah mbah, ayah & ibu selalu bilang: “bangun pagi, cuci piring, nyapu, ngepel.. Kamu jangan enak-enakan aja, udah jadi gadis Ga boleh males harus rajin. Apalagi nginep di rumah orang. Masih mending kamu nginep di rumah mbah, kalau kami nginep di rumah orang lain, Temen kamu atau siapapun itu kamu harus rajin bantu-bantu. Jangan tidur terus, emang ya kamu raja di sini..”

Mak jleb ya kata2 nya.. Tapi itu yang jadi Ingatanku sampai sekarang bahwa dari kecil diajarkan harus rajin. Kalau perlu Ga boleh tuh berdiam diri di kamar. Harus silaturahim, keluar rumah, sosialisasi dengan saudara dan tetangga. Karena kata Rasul, “Barangsiapa yang rajin silaturahim, akan dipanjangkan umurnya. Aaamiiin.. ūüėä



  • Biasakan ucapkan MAAF pada siapapun baik itu keluarga dekat apalagi keluarga jauh, teman, orang yg tidak kita kenal sekalipun.

    PASTINYA dong semua manusia tidak luput dari yang namanya salah. Sengaja ataupun tidak disengaja. Bercanda ataupun serius. Itu bisa menyebabkan yang namanya sakit hati. 

     ‚ÄúTidak halal seorang muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.‚ÄĚ (Riwayat Abu Daud).

     Jadi kita tidak usah takut resiko meminta maaf, sebab jika kita sudah meminta maaf maka kita justru terbebas dari dosa karena kita tidak minta maaf. Dimaafkan atau tidak, kita telah mengaku bersalah dan meminta maaf.

    Minta maaf adalah hal terpenting yang harus diajarkan setiap orang tua kepada anaknya. Kakak salah harus minta maaf kepada adik. Orang tua salah harus minta maaf kepada anak. Suami salah harus minta maaf kepada istri. Presiden salah harus minta maaf kepada rakyat. Guru salah harus minta maaf kepada murid.

    Orang tua yang mengaku salah pada anak adalah orang tua yang baik. Orang tua bukan Tuhan yang tidak ada salah. Kita semua akan menjadi orang tua dan jika kita salah, minta maaf Lah pada anak-anak kita.

    Apa sih susahnya minta maaf? Mungkin terdengar kalau kita minta maaf duluan, berarti kita yang salah begitu. Belum tentu, orang yang minta maaf duluan akan dimuliakan Allah. Waktu kecil setiap melakukan kesalahan fatal aku hampir dikurung dikamar mandi kalau belum minta maaf sama orang. ^_^

    Rasulullah bersabda:

    ‚ÄúMaukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, tentu. Rasul bersabda, ‚ÄėKamu bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.‚Äô‚ÄĚ (HR Thabrani)


    Membangun sikap mental pemaaf bukanlah perkara yang mudah. Munculnya kualitas pribadi pemaaf membutuhkan proses panjang dan pembinaan diri terus menerus. Maaf dan memaafkan biasannya terkait dengan telah tersakitinya harga diri dan fisik kita oleh orang lain. Merupakan watak khas manusia dan mungkin sebagian besar makhluk hidup lainnya, bahwa mereka cenderung tidak suka disakiti. Orang ‚Äď orang yang matang dan sehat jiwanya akan memiliki perilaku yang dikendalikan oleh pertimbangan akalnya yang sehat.

    Sebaliknya banyak pula orang yang gagal atau belum mampu menggunakan sumber daya akalnya secara maksimal, sehingga seluruh hidupnya di kendalikan oleh hawa nafsu dan instingnya saja. Kecenderungan nafsu yang gemar dengan hal ‚Äď hal yang mengenakkan dan memuaskan diri, kalau tidak diimbangi dengan kemampuan akal untuk menghasilkan pertimbangan yang sehat akan menjerumuskan manusia pada perilaku rendah yang tidak sesuai dengan martabat kemanusiaan.

    Sangat disayangkan orang tua yang tidak mengajarkan 3 hal diatas kepada anaknya waktu kecil. Yang membuat anak tersebut ketika dewasa bersikap apatis, egois, dan keras kepala. Nauzubillahimindzalik, semoga kita dan anak cucu kita dijauhkan dari hal-hal buruk.

    By: Arvina Irkantini

    Jakarta, 070715

    KEMBALIKAN ANAK LELAKIKU

    Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya:‚ÄúSubhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!‚ÄĚ
    Suamiku menjawab:‚ÄúBukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.‚ÄĚ
    Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

    Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:

    ‚ÄúSupaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.‚ÄĚ
    Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: ‚ÄúOh ya. Ide bagus itu.‚ÄĚ
    Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.
    Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

    Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.
    Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.
    Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:

    ‚ÄúSubhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!‚ÄĚ Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. ‚ÄúSalahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!‚ÄĚ
    Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu.
    Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, ‚ÄúAh, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!‚ÄĚ Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
    Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.
    Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: ‚ÄúDulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!‚ÄĚ
    Allahumma Shalii ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, ‚ÄúBekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?‚ÄĚ
    Aku memandang suamiku yang terpaku.
    Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

    Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.
    Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan. Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.
    Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: ‚ÄúTak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.‚ÄĚ
    Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu
    Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu.

    Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

    Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
    Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Amin, Alhamdulillah.
    ūüĎÜItu Sepenggal Kisah Nyata Kehidupan Bunda Neno Warisman utk para Ayah Indonesia dalam buku “Izinkan Aku Bertutur”

    ADHD, AUTIS, dan HIPERAKTIF

    Penyembuhan ADHD, AUTIS, n HIPERAKTIF bukan lagi hal yang mustahil, peluang penyembuhan n perbaikan kondisi bagi penderita ini sangat besar…
    ‪#‎Fakta‬ menunjukkan : seseorang dgn ADHD , AUTIS, n HIPERAKTIF mengalami kesembuhan dengan melakukan pengobatan pada susunan syaraf dgn memperbaiki 3 hal, yakni:
    -Sitem komunikasi antar sel yg rusak
    -Sistem kekebalan tubuh
    -saluran pencernaan n kondisi biokimia ( hormon 2 )
    Berdasarkan buku Breakthroughs in health – benefit Glutathione, vol 1, issue 5, 2006,
    Glutatione mampu memperbaiki permasalahan tersebut, kandungan Glutathione ini dapat kita temukan di dalam kandungan MOMENT GLUCOGEN.

    MOMENT GLUCOGEN adalah minuman susu serbuk dalam sachet yg mengandung Glutathione
    +Collagen+ALA
    +Premix Vitamin
    +Premix Mineral
    Dengan rasa susu strawberry.

    # Bolehkah Glucogen di berikan pada anak ?
    BOLEH , dengan beberapa persyaratan yang memang memerlukan terapy.

    # Dosis yg sy berikan kepada anak2 umur 1 – 10 th adalah sbb:
    5gram Glucogen ( 1/3 sachet ) √ó 1 hari, di campur dengan air suhu biasa setengah gelas.
    Di minum 2 jam sebelum tidur.

    11598_902706549739675_714911091301004737_n moment-glucogen-150x150

    Sms/telp/WA:085624635165
    Moment ID:8046209
    Line:andalusia_store
    BB:7D0FE0A7

    Instagram:andalusia_store

    Twitter:@vinpun
    Fb:mix shop
    Instagram:andalusia_store
    Twitter:@vinpun
    Fb:mix shop

    Hari ini, Jatah Hidupku Berkurang

    Kamis, 01 Desember 2011

    Bertepatan dengan hari kelahiranku dulu,
    Kamis 01 Desember 1988. Tak terasa, jasad ini mulai bertambah tua, hati pun bertambah keinginan..
    Allah, kaki ini mulai menapaki jalan penuh duri dan hanya Engkaulah sebagai obatnya..

    Ijinkan aku memohon 1 permohonanku di usia 23 ku hari ini,
    Ku mohon CintaMu yang tak akan pernah habis mencintaiku,
    Membimbingku,
    Menegurku,
    Menyapaku,
    Menemaniku,
    Menyayangiku,

    Dan, tidak akan cukup kata-kata terbaik yang akan keluar dari mulutku untukMu, ya Allah..

    Karena Engkau Maha Segalanya, untukku. Hingga umurku saat ini pun Kau memberikan cerita indah dari detik-detik kehidupanku..
    Tak sanggup aku membendung air mata karena kecintaanku padaMu dan pada RasulMu…
    Allah, Engkau mengetahui apa yang tidak aku ketahui..

    Saat manusia itu datang dalam hidupku, sebagai “pewarna” dalam hidupku.
    Ya, jatah hidupku berkurang hari ini.

    Detik yang berjalan, waktu yang terus berputar mengantarkanku kepada dekatnya kematian.

    Saat tadi malam ku berbincang, aku tatap dengan dalam mata ayah dan ibu.
    Sungguh, aku tak sanggup memikirkan 1000 masalah bahkan lebih banyak lagi yang ada di alam otak ayah dan ibuku.
    Waktu yang terus berputar, pasti tidak akan bisa kembali seperti semula.

    Ya, waktu itu juga tidak dapat memutar umurku kembali dan memori-memori indah.
    Waktu yang semakin berkurang untuk hidup di dunia ini.

    Allah, hanya 1 yang aku minta padaMu di hari ini, CintaMu dan cinta orang-orang mukmin yang mencintaiku karenaMu.

    Allah, ku mohon CintaMu

    Allah, aku Mohon CintaMu

    Atas Nama Cinta dan Kasih Sayangku padaMu
    Allah,

    Jakarta, 01 Desember 2011
    at 08.22 am

    Allah, Ijinkan aku bersandar di tembok Iman Mu

    Aku sadar.., apa yang menjadi milikku bukanlah ketetapan yg menyeluruh. Apa yang menjadi ketetapanku juga bukanlah hak atas milikku..

    Allah, hanya Engkaulah yg menjadi ketetapan atas diriku, Yang sudah pasti menjadi milikMu seutuhnya.
    Hanya padaMu, aku taat dan hanya padaMu aku berserah diri..

    Allah,  ambillah aku selalu dalam ketetapanMU, Agar semua yang aku lakukan biarlah ini menjadi ketetapanMu.

    Allah, jiwa dan ragaku hanya milikMu. Tak satu kaum pun bisa memilikinya.. Sadarku atas semua ini. Karena suatu kebaikan untukku, Belum tentu itu menjadi kebaikan menurutMu,

    Dan kebaikan menurutMu.. Pasti menjadi kebaikkanku.
    Dan kebaikanku mungkin bukanlah hal yg baik atas diriku..

    Disitulah amalku bertambah, Disitulah aku bisa dekat denganMu
    Disitulah aku bisa mengendalikan kesenangan duniawi-ku
    Dan disitulah aku bisa menciptakan keindahan diri sejatiku

    Bisa memahami sejati murniku, Bisa mensyukuri bahwa aku dapat ‘HIDUP’
    Ya, dapat menghidupkan yg mati dalam imanku

    Menghidupkan yg semestinya dihidupkan olehMu..
    Hidup dalam diri yang sesungguhnya..
    Hidup dalam alam akhiratku, bersamaMu…

    Ya Ilahii Rabbii, Biarkanlah yang semestinya itu berjalan apa adanya..
    Mengalir dalam hulu tak berbatas..
    Berjalan dalam aliran sungaiM tak bertepi..

    Air Mata

    Air mata yang telah jatuh,
    Membasahi bumi..
    Takkan sanggup menghapus penyesalan,
    Penyesalan yang kini ada,
    Jadi tak berarti..
    Kar’na waktu yang bengis terus pergi..
    Menangislah bila harus menangis..
    Karena kita semua manusia,
    Manusia bisa terluka,
    Manusia pasti menangis..
    Dan manusia pun bisa mengambil hikmah..

    Di balik segala duka,
    Tersimpan hikmah..
    Yang bisa kita petik pelajaran

    Di balik segala suka,
    Tersimpan hikmah..
    Yang kan mungkin bisa jadi cobaan

    Serahkan semua pada Allah

    ¬†‚ÄúDan permudahlah bagi kami pintu-pintu karunia-Mu.‚ÄĚ [H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi]

    Dari Abdullah bin Mas‚Äôud dari Rasulullah SAW bersabda: ‚ÄúSesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling menyampaikan salam kepadaku dari umatku.‚ÄĚ [H.R. Nasa‚Äôi dan Hakim]

    Fathimah a.s. bercerita: Rasulullah SAWW pernah bertanya kepada para sahabat mengenai wanita apakah dia?

    ‚Äú(Wanita adalah) sebuah rahasia (yang harus dijaga)‚ÄĚ, jawab mereka pendek.

    ‚ÄúKapankah ia lebih dekat kepada Tuhannya?‚ÄĚ, tanya Rasulullah SAW kembali.¬†Mereka tidak dapat menjawab. Ketika ia (Fathimah a.s.) mendengar hal itu, spontan ia menjawab: ‚ÄúKetika ia berada di dalam rumahnya‚ÄĚ.‚ÄúFathimah a.s. adalah penggalan tubuhku‚ÄĚ,¬†sabda Rasulullah SAW menimpali.

    Segala Sesuatu yang Keluar dari Hati, maka akan Kembali ke Hati

    Semoga dapat diambil hikmahnya, cerita nyata dari seseorang di belahan Indonesia Timur.

    Bismillahirrahmanirrahim..

    Abi cinta Ummi

    Penyesalan memang selalu datang terlambat pada kehidupan kita, dan penyesalan terkadang hanya memberi duka yang mendalam pada kita, disaat mengenang kembali sejarah silam yang menjadi penyebab penyesalan itu muncul…, demikan yang aku alami saat ini. Duka yang teramat mendalam itu kini masih mendera dalam lubuk hatiku yang paling dalam, saat menyadari bahwa saat ini aku tengah kembali menyendiri, setelah setahun silam orang yang sangat mengasihi aku, orang yang sangat peduli padaku telah dipanggil oleh Allah.

    Aku adalah seorang lelaki yang telah membina mahligai rumah tangga bersama seorang wanita sholehah sejak tahun 2004 silam, kuakui, memang pernikahan itu terjadi karena perjodohan yang diinginkan oleh Orang tua kami masing-masing, sebab orang tuaku dan orang tua maryam (Nama istriku,-samaran) adalah memiliki ikatan keluarga, meskipun ikatan itu tidak terlalu dekat, akan tetapi masa kecil mereka hingga dewasa dan menikahnya hampir selalu bersama (Ayahku dan ayahnya maryam berteman sejak kecil) sehingga kesepakatan untuk menjodohkan kami selaku anak-anaknya tak bisa dielakkan lagi. Jujur aku sendiri awalnya tidak begitu respek dengan perjodohan itu, dan ketidak respekan itu bukan tanpa alasan, betapa tidak, pertama usiaku dan maryam terpaut 4 tahun, saat menikah saat itu usia maryam memasuki 28 tahun sementara aku masih berusia 24 tahun. Yang kedua maryam memiliki latar belakang pemahaman agama yang sangat kuat, sementara aku mengenal islam hanya dari kulitnya saja (Islam KTP). Maka dari perbedaan itulah membuat aku jadi tidak respek dengan rencana perjodohan itu, sementara kudengar dari beberapa teman kampusku yang mengenal organisasi dimana maryam bernaung, katanya hampir semua bahkan mungkin semua wanita seperti maryam yang taat dalam memegang syariat islam, memiliki impian bisa menikah dengan lelaki  yang memiliki ketaatan yang sama seperti mereka, lelaki sholeh, berjenggot dengan celana diatas mata kaki. Dan aku sendiri yakin saat perjodohan itu direncanakan, ada sejuta protes dihati maryam menyadari bahwa lelaki seperti akulah yang dijodohkan dengannya, tetapi kondisilah yang tidak membuatnya sanggup untuk melawan keinginan orang tuanya, apalagi aku juga sangat mengenal watak orang tua maryam yang keras.

    Begitulah.., tak pernah terlintas dalam benak kami berdua bahwa justru berbagai perbedaan itu menyatukan kami berdua dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci, dan setuju atau tidak, ikhlas atau tidak akhirnya tahun 2004 itulah awal kebersamaan kami menjalani biduk rumah tangga.

    Usai pernikahan tersebut dilaksanakan, terasa ada banyak hal yang lain kurasakan, betapa tidak, aku lelaki yang tidak memiliki bekal pengetahuan agama lantas harus menikah dengan seorang gadis muslimah yang taat pada Allah dan RasulNya, banyak hal berkecamuk dalam benakku, haruskah aku hidup dalam bayang-bayang istriku dan turut ikut arus dengan kehidupannya yang kental dengan agama itu?, atau sebaliknya haruskah aku memaksanya untuk ikut arus dengan kehidupanku yang santai dan apa adanya?, fikiran2 itulah mulai muncul dalam benakku diawal pernikahan kami, dan aku sendiri bingung mau dibawa kemana biduk rumah tangga kami yang dibangun dengan banyak perbedaan ini, jujur, sebenarnya aku melihat dan menyaksikan sendiri bahwa istriku adalah istri yang sangat baik, melayaniku sepenuh hati dalam segala hal, meskipun aku tahu mungkin tidak ada cinta dihatinya untukku, tetapi tak sedikitpun kata-kata protes keluar dari bibirnya. Setiap hari aktifitas ibadahnya pun masih terus berlangsung tanpa sedikitpun mengusik ketenanganku, maksudku, tak sedikitpun dia mengoceh memintaku untuk sholat bila tiba waktu sholat, semuanya berlalu begitu saja. Demikian pula aku sering mendapatinya selalu eksis mendirikan sholat malam dan akupun tak pernah memprotesnya.

    Waktu terus berlalu dan tanpa terasa pernikahan kami telah membuahkan hasil, dimana setahun setelahnya lahirlah bayi mungil hasil pernikahan kami, bayi laki-laki yang akhirnya kuberi nama frans meskipun ibunya cenderung memanggilnya ahmad, lucu memang, bila bayi itu berada ditanganku, maka aku memanggil dia dengan sebutan frans, biar keren dan ikut perkembangan zaman (Cara pandangku terhadap nama-nama anak dizaman modern ini), sementara bila sikecil mungil itu berada dalam buaian maryam, maka namanya berubah menjadi ahmad, pernah bebrapa kali aku menegurnya: ‚ÄėHei.., dizaman semodern ini koq masih pakai nama ahmad sih..yang keren dikit dong, seperti nama yang sudah kukasi padanya ‚ÄúFRANS‚ÄĚ, supaya gak malu-maluin.., zaman modern koq masih pakai nama ahmad, apa kata dunia‚Ķ‚Äô¬† itulah celotehku setiap kali mendengar istriku memanggil frans sikecil jagoanku dengan sebutan ahmad. Tetapi tak ada sedikitpun maryam menanggapi celotehku, dan semua berlalu begitu saja.

    Jujur, ada satu hal yang paling membuat aku jengkel dari istriku, ditengah aktifitas kantorku yang padat, dari dulu sampai memasuki setahun pernikahan kami pasti setiap hari selasa dia selalu meminta diantarkan kerumah Gurunya (Murobbiyah-), katanya tarbiyah, dan pasti setiap hari selasa itu pertengkaran pun sering terjadi, betapa tidak, aku yang sibuk dengan pekerjaan kantor harus menerima telepon dan sms darinya meminta diantarkan kerumah gurunya itu, dan kalau telepon dan sms2nya gak dibalas pasti akan disusul dengan telepon dan sms susulan ‚ÄúAbi, tolong antarkan ummi ngaji dong, tinggal sejam lagi ngaji akan dimulai‚ÄĚ begitu gambaran smsnya padaku menjelang waktu ngaji nya dimulai, dan selalu dikirimnya dengan sms susulan yang bunyinya tambah memelas penuh pengharapan, dan akhirnya membuatku mau tidak mau harus pulang kerumah dan mengantarnya ketempat ngaji nya, pokoknya sejak saat itulah setiap hari selalsa pasti masalah yang timbul itu2 saja, dan aku sangat jengkel sekali bila haru pulang rumah dari kantor hanya untuk mengantar dan menjemputnya lagi. Jadinya sebelum mengantar dan menjemputnya pasti selalu diawali dengan pertengkaran kecil. aku sendiri sudah pernah memperingatnya untuk berhenti menekuni ngaji nya itu, tetapi disetiap permintaan itu kulontarkan, pasti air matanya akan mengucur deras sambil berujar ‚Äúabi, maafkan ummi, bukannya ummi tidak mentaati perintah abi, tapi ummi mohon jangan putuskan tarbiyah ummi, sebab bila itu terjadi, pasti hati ummi akan terasa gersang karenanya, sebab dari waktu sepekan, hanya ada satu hari ummi berkumpul dengan teman-teman ummi dan membicakan kondisi ummat saat ini serta hal-hal lain yang bisa membuat ummi merasa damai dalam menjalani hidup ini‚ÄĚ

    Hmm.., jujur mendengar permintaannya yang memelas itu sedikit membuatku tergugah dan sedikit penasaran, apa sih tarbiyah itu?, koq istriku selalu memberi alasan bahwa hatinya akan selalu tenang dan damai kalau ikut tarbiyah, maksudnya apa sih, gak faham deh‚Ķ‚Äô ujarku dalam hati. Dan hal lain yang membuatku tidak suka adalah panggilan sayangnya padaku ‚ÄúAbi‚ÄĚ, huhhggg..apa gak ada panggilan yang lebih keren apa??, papi kek, kang mas kek, koq panggil Abi‚Ķ, pernah beberapa kali saat tamuku dari kantor datang kerumah kupanggil dia dengan sebutan mami saat aku minta dibuatkan minuman, tetapi malah di jawabnya iya abi, huuhhgg jengkelnya aku saat itu, entahlah, mungkin karena sudah terbiasa jadinya dia selalu keceplosan, padahal sudah ada kesepakatan sebelumnya bahwa panggilan abi dan ummi itu kuizinkan diberlakukan saat berdua saja, selebihnya harus komitmen dengan panggila papi dan mami, tetapi dasar dikarenakan apa, selalu saja dia lupa dengan kesepakatan itu.

    Kuakui bahwa istriku begitu baik padaku, bahkan dimataku hampir-hampir tak ada cacat dan celahnya kebaktiannya padaku, dari sisi biologis aku selalu dipenuhi, keperluan hariankupun tak sedikitpun terlalaikan olehnya, tetapi yang membuat aku sangat jengkel aktifitas dakwahnya masih terus jalan, bahkan teman-temannya selalu datang kerumah

    untuk menimba ilmu darinya, katanya Mutarrobbinya, jujur aku sebenarnya gak masalah bila ada yang datang bertamu kerumah, tetapi kalau sudah ditentukan hari yang rutin kemudian dengan jumlah tamu yang berpakaian sama dengan jumlah yang tidak sedikit, apa nantinya tanggapan para tetangga, dan hal itupun menjadikan pertengkaran kecil diantara kami.

    ‚ÄúMi, aku malas jadi bahan omongan orang, katanya¬†kita memelihara aliran sesatlah, aliran yang tidak¬†jelaslah, bisa nggak sih untuk yang satu ini mami¬†ikuti permintaan papi, tolong.., jangan bawa¬†teman2 mami itu kerumah.., apalagi mereka ngumpul¬†hampir setiap pekan sekali‚Ķ‚ÄĚ celotehku disuatu¬†hari.

    ‚ÄúAstagfirullah abi, mengapa abi mempersoalkan¬†pandangan tetangga ketimbang pandangan Allah,¬†insya Allah dalam rutinitas trabiyah ummi ini¬†tidak sedikitpun kaitannya dengan aliran sesat¬†atau apalah yang mereka tuduhkan, semua ini¬†hanyalah pengajian biasa yang hanya memperdalam¬†hafalan al-qur‚Äôan dan hadist dan mengevaluasi¬†diri-diri kita melalui majelis ilmu seperti ini,¬†tidak lebih abi..demi Allah‚Ķ‚ÄĚ

    ‚ÄúHahh.., pokoknya papi tidak setuju, apapun¬†alasannya‚Ķ, kalau mami mau menghidupkan majelis-majelis ilmu seperti yang mami bilang itu, maka¬†silahkan cari tempat lain, jangan dirumah ini‚Ķ‚ÄĚujarku lagi

    ‚ÄúTapi abi.., kalau ummi mencari tempat lain itu¬†artinya akan menjadi 2 hari dalam sepekan ummi¬†keluar rumah, dan itu artinya akan menyita waktu¬†abi untuk antar-jemput ummi, bukankah abi tidak¬†suka direpotkan..?, ummi mohon sama abi.., mohon¬†diizinkan.., semoga dengan berlalunya waktu para¬†tetangga perlahan-lahan akan faham, dan insya¬†Allah ummi pula akan bersilaturahim kerumah ibu-ibu tetangga untuk bersosialisasi dengan mereka¬†tentang hal ini, insya Allah mereka faham dan akan¬†balik mendukung majelis ini, ummi hanya memohon¬†dukungan abi..‚ÄĚ

    ‚Äúhah..terserah mami saja deh..pokoknya papi tidak¬†akan ikut campur bila ada para tetangga yang¬†mengamuk gara-gara masalah ini.., dan kalaupun itu¬†terjadi, silahkan mami sendiri yang berurusan¬†dengan mereka..!!‚ÄĚ celotehku sambil berlalu¬†meninggalkan istriku yang tertunduk diam, kudengar¬†suara paraunya berujar ‚ÄúInsya Allah abi..‚ÄĚ

    Perjalan waktu semakin membawa pernikahan kami pada usia yang lebih dewasa, dan Alhamdulillah ditahun ke 3 pernikahan kami, lahir lagi bayi mungil kecil dari rahim istriku, bayi mungil berjenis kelami perempuan itu kuberi nama Jesica (agar lebih keren), meskipun seperti halnya frans, istriku memberi nama lain jesica dengan panggilan fatimah, aduhh…kuno bangett..ujarku dalam hati mendengar panggilan fatimah dari mulut istriku saat menggendong jesica. Dan begitulah, terasa aneh memang, persatuan kami dalam sebuah ikatan pernikahan tidak lantas membuat kami bersatu dalam hal-hal yang prinsip, termasuk pada pemberian nama putra-putri kami, jadilah 2 nama sekaligus disandang oleh Putra-putri kami, FRANS dan JESICA sapaan akrabku untuk kedua permata hatiku, sementara AHMAD dan FATIMAH sapaan akrab ibunya untuk keduanya, terasa aneh memang tetapi itulah yang telah terjadi dalam pernikahanku, tidak hanya itu saja, dalam panggilan aku dan istrikupun sering ada perbedaan yang kontras diantara kami, aku terbiasa menggunakaan sapaan PAPI dan MAMI untuk kami berdua, sementara istriku terbiasa dengan gelar ABI dan UMMI, pokoknya aneh banget kalau di bayangkan, tetapi itu realita.

    Suatu hari terjadi pertengkaran hebat antara aku¬†dan maryam, seperti biasa masalahnya adalah¬†mengantarnya ketempat tarbiyahnya, saking¬†jengkelnya karena sudah kuperingati agar berhenti¬†dari aktifitas itu, akhirnya aku tidak menggubris¬†permintaannya, kumarahi dia dengan kemarahan yang¬†luar biasa marahnya menanggapi permintaan itu,¬†bahkan kepadanya kulontarkan makian tak layak¬†dilontarkan karena saking ngototnya istriku¬†meminta diantarkan ketempat tarbiyahnya. ‚Äúdasar¬†istri durhaka, ditaru dimana ilmu yang kau¬†pelajari hah sampai-sampai begitu kerasnya¬†membatah keinginan suami?, atau memang kau mau¬†cari-cari alasan ya supaya papi murka dan naik¬†pitam?, bukankah papi sudah ingatkan kalau masalah¬†mengantar saja yang selalu jadi soal, maka¬†berhenti‚Ķ, apa susahnya sih?, tapi kalau mami mau¬†ngotot ikut tarbiyah itu lagi, silahkan.., jalan¬†sendiri dan pulang kerumah juga sendiri,¬†amankan..?, jujur sebenarnya papi dari dulu tidak¬†rspek dengan aktifitasmu ini, tapi karena setiap¬†kali kau memohon dengan tetean air mata maka¬†papipun mengizinkannya, tapi kalau begini caranya¬†kayaknya papi sudah tidak respek lagi deh, jadi¬†untuk kali ini mami dengarkan papi ‚ÄėTOLONG¬†BERHENTI IKUT TARBIYAH itu, titik..!!!‚ÄĚ ujarku¬†dengan kemarahan yang sudah memuncak sampai¬†keubun, hingga akhirnya dia melontarkan kata-kata¬†yang membuatku sedikit terdiam tak berkutik.

    ‚ÄúAbi, andai tidak menjaga kehormatanku sebagai¬†seorang istri yang tak pantas keluar rumah tanpa¬†mahrom, maka mungkin ummi tidak akan pernah¬†memelas seperti ini pada abi, dan mungkin ummi¬†sudah keluyuran sendiri sesuka hati ummi layaknya¬†wanita-wanita lain yang kelayapan sesuka hati¬†mereka mesti tanpa sepengtahuan suami-suami¬†mereka, ummi hanya ingin, agar kemurkaan Allah¬†tidak menimpa ummi mana kala ummi harus bepergian¬†tanpa mahrom, padahal ummi telah memiliki mahrom,¬†apalagi kantor abi sangat dekat dengan rumah kita¬†dan waktu tarbiyah ummipun selama ini bertepatan¬†dengan waktu istirahat kantor abi, apa ummi salah¬†bila ummi meminta sedikit waktunya abi untuk¬†sekedar mengantar ummi ketempat tarbiyah. Maafkan¬†ummi bila sudah membuat abi marah, hukum ummi bila¬†salah..cambuk ummi bila ummi khilaf.., tapi sekali¬†lagi semua ini ummi lakukan untuk menjaga¬†kehormatan ummi sebagai seorang istri, terus¬†terang ummi sering merasa cemburu dengan teman-teman tarbiyah ummi, ummi cemburu melihat¬†keahagiaaan mereka yang begitu datang tarbiyah¬†diantar oleh suami-suami mereka dengan penuh¬†cinta, dikecup sebelum mereka berpisah, dan¬†dijemput lagi dengan penuh kesabaran meskipun¬†suami-suami mereka jauh lebih sibuk dari abi.¬†Bahkan ummi sangat cemburu melihat salah seorang¬†teman ummi yang rumahnya tidak jauh dari tempat¬†tarbiyahnya, tetapi suaminya tak sedikitpun¬†membiarkan istrinya keluar rumah tanpa¬†didampinginya lalu ditinggalkalah pekerjaannya¬†hanya untuk mengantar istrinya ketempat tarbiyah¬†yang sebetulnya tak jauh dari rumahnya, sekali¬†lagi maafkan ummi abi‚Ķ‚ÄĚ jawab istriku dengan¬†deraian air mata, mendengar semua itu hatiku¬†sedikit tersentuh, ada semacam kaeharuan mengalir¬†dari dalam hatiku, akan tetapi buru-buru perasaan¬†itu kutepis dan berlalu meninggalkannya.

    Hingga suatu hari ketika usia pernikahan kami¬†memasuki tahun ke lima, terjadi kejadian tragis¬†pada istriku, sebuah kejadian yang membuat mata¬†hatiku terbuka dan menyadari kekhilafanku selama¬†ini, yah, suatu hari istriku meminta diantarkan¬†tarbiyah dan dengan hati yang menggerutu aku¬†mengantarnya ketempat tarbiyahnya, tetapi¬†sebelumnya aku sudah ingatkan dia agar setelahnya¬†dia naik angkot sendiri untuk pulang kerumah, pada¬†hari itu aku sebetulnya tidak sedang banyak¬†kerjaan, bahkan saat itu aku sedang santai dirumah¬†bersama kedua permata hatiku yang memang hari itu¬†aku minta pada istriku untuk meninggalkan mereka¬†dirumah bersama ibuku (nenek dari anak-anakku),¬†hingga beberapa waktu kemudian datang sebuah sms¬†di hpku, ya, sebuah sms dari istriku yang berbunyi¬†‚ÄúAssalamu ‚Äėalaikum, afwan abi, alhamdulillah ummi¬†sudah selesai tarbiyah, bisa jemput ummi sekarang??‚ÄĚ begitulah isi sms dari istriku yang hanya akubaca saja lalu kuletakkan kembali hpku.

    Beberapa¬†menit kemudian masuk lagi sms darinya dengan bunyi¬†‚Äúafwan abi, semua teman-teman ummi sudah dijemput¬†suami-suaminya, tinggal ummi sendiri disini, tuan¬†rumahnya mau keluar sekelurga (maksudnya¬†murobbiyahnya sekeluarga), sementara waktu mau¬†maghrib, tolong jemput ummi ya..?‚ÄĚ isi sms itu¬†lagi, tapi lagi-lagi sms itu hanya kubaca dan¬†kuletakkan kembali hpku di meja TV, beberapa kali¬†kudengar hpku berdering dan aku berfikir bahwa itu¬†telepon dari istriku, hingga sms terakhir darinya¬†kembali masuk ke hpku ‚Äúafwan abi, abi sakit ya, ya¬†udah kalau gitu, ummi mohon izin naik angkot aja,¬†doakan ummi semoga sampai dengan selamat kerumah¬†ya, uhibbuka fillah‚ÄĚ isi sms istriku yang ke tiga¬†kalinya, hatiku lega saat membaca sms itu, dan itu¬†artinya aku tak perlu lagi menjemputnya, aku¬†sendiri berharap bahwa ini adalah awal yang baik¬†baginya, supaya kedepannya dia bisa mandiri dan¬†berangkat sendiri ke tempat tarbiyahnya sendiri.

    Malam semakin larut namun istriku tak kunjung tiba¬†kerumah, padahal prediksiku dua jam yang lalu¬†seharunya dia tiba dirumah, tapi kok hingga 2 jam¬†berlalu dia tak kunjung tiba, ada apa gerangan??,¬†apa dia tidak tahu jalan pulang?, aduh gimana¬†nih..? ujarku dalam cemas, beberapa kali aku¬†hubungi nomor hpnya tapi tidak dijawab-jawab dan¬†itu membuat aku lebih bertambah cemas, ditambah¬†lagi dengan frans yang mulai rewel karena mungkin¬†rindu dengan ibunya, sebab memang hari ini adalah¬†hari pertama ibunya tarbiyah tannpa mengajak frans¬†dan jesica, ada apa dengan maryam ya.., ya Allah¬†ada apa dengan istriku?, ujarku semakin cemas, dan¬†entah mengapa mala itu perasaanku sedikit berbeda¬†dari biasanya, aku merasakan seperti sangat¬†mencinta istriku dan begitu takut kehilangnnya,¬†bahkan aku merasa bahwa hari itu entah mengapa¬†rasa rinduku tiba-tiba mulai menyelinap dalam¬†bathinku, ada apa ini. hingga beberapa jam¬†kemudian hpku berdering dan Alhamdulillah ternyata¬†nomor istriku menelpon, hatiku sangat girang saat¬†itu, dengan buru-buru kuangkat¬† teleponnya¬†‚Äúhallo..,mami dimana..?, koq belum nyampe-nyampe?‚Ä̬†tanyaku dengan nada cemas, tetapi alangkah¬†kagetnya aku ketika kudengar bukan suaranya yang¬†menjawab melainkan suara seorang wanita yang¬†sangat asing ditelingaku.

    ‚Äúmaaf pak, hp ini milik istri bapak ya?, begini¬†pak, tadi sore sekita 3 jam yang lalu istri bapak¬†menalami kecelakaan, beliau di tabrak mobil saat¬†keluar dari mesjid dan tubuhnya menghatam tembok¬†pagar mesjid, sepertinya beliau lagi nunggu angkot¬†dan singgah sebentar untuk sholat magrib dimesjid,¬†mobil yang menabraknya sudah melarikan istri bapak¬†kerumah sakit terdekat tetapi ditengah perjalanan¬†karena banyaknya darah yang keluar istri bapak¬†meninggal dunia, sekarang istri bapak di RS FULAN¬†tepatnya dikamar jenazah, mohon bapak segera¬†datang‚ÄĚ jawab wanita itu terbata memberikan¬†keterangan atas kondisi istriku, dengan sedikit¬†gemetar seakan tak percaya tiba-tiba HP yang ada¬†dalam genggamanku terlepas dan terjuntal kelantai,¬†air mataku tiba-tiba turun dengan deras dari¬†kelopak mataku, sedih.., menyesal atas semua¬†tindakanku selama ini padanya, dan dengan masih¬†perasaan tak percaya aku segera bergegas menuju RS¬†yang telah ditunjukan padaku, bergegas aku kekamar¬†zenajah mengikuti arahan salah seorang petugas¬†jaga, dan Subhanallah, kusaksikan dengan mata¬†kepalaku sendiri tubuh istriku yang terbaring kaku¬†bersimbah darah, ditubuhnya masih lengkap dengan¬†pakaian syar‚Äôi, menurut salah seorang wanita yang¬†berdiri tak jauh dari ranjang dimana istriku¬†dibaringkan (Wanita yg menelpon aku dan¬†mengabarkan istriku kecelakaan), menurutnya mereka¬†dan tim medis sengaja tidak membuka pakaian yg¬†dikenakan wanita itu atas permintaannya saat¬†sekarat manakala dilarikan ke RS, beliau meminta¬†agar jangan sampai ada lelaki yang menyentuhnya¬†dan membuka auratnya sampai keluarganya datang¬†menjemputnya, wanita tersebut menuturkan dengan¬†deraian air mata, menurutnya lagi saat sekarat¬†takan ada sedikitpun tanda-tanda kesakitan pada¬†wajah istriku, bahkan hingga nyawanya berpisah¬†dari raganya.

    Ya Allah, betapa mulianya hati istriku, hingga dalam keadaan sekaratpun dia masih meminta agar kehormatannya tetap dijaga, perlahan bayangan masa lalu kami kembali terpampang dalam benakku, betapa istriku takut bepergian sendiri tanpa ada mahrom, bahwa betapa kuatnya dia menjaga kehormatannya sebagai seorang muslimah, tetapi aku telah lalai dari menjaganya, ya Allah ampuni aku…, ampuni aku…, terlalu banyak dosa yang telah kuperbuat selama hidupku. Hingga saat ini kesedihan itu masih terus menggerogoti perasaanku, meskipun sebuah kesyukuran sendiri buatku sebab setelahnya Hidayah itu menyapaku. Tetapi sungguh, hanya Allah yang tahu isi hati ini, bahwa hingga hari ini aku belum bisa melupakannya dan memafkan diriku sendiri, apalagi mengingat betapa mulianya hati istriku, jujur selama pernikahan kami, tak pernah satupun dia kuberikan uang gajiku, bahkan dia tidak tahu berapa penghasilanku setiap bulannya, subhanallah, begitu sabarnya dia padaku, dan yang lebih membuatku sangat bersedih lagi adalah tak pernah satu kalipun selama pernikahan kami aku membelikannya pakaian yang syar’i, seingatku pakaian muslimah syar’i yang dipakainya selama menikah denganku adalah pakaian yang memang telah dimilikinya sebelum menikah denganku dan lagi-lagi dia tidak pernah mengeluh padaku, kudapati pula jilbab yang dipakainya saat kecelakaan itu telah sobek dibagian punggungnya, dan dari sobekan itu sudah ada jahitan-jahitan sebelumnya yang telah lapuk, andai saja dia tidak memakai jilbab besar, mungkin sobekan itu akan terlihat jelas. dan hal lain yang mebuat aku semakin pilu adalah dokter memberikan keterangan bahwa ada janin yang diperkirakan berusia 6 pekan dalam kandungan istriku, Yaa Allah ampuni aku…ampuni aku ya Allah..kasihan istriku..betapa sabarnya dia menghadapiku selama ini.

    Alhamdulillah saat ini aku telah aktif tarbiyah, andai istriku masih ada, pasti dia akan bahagia melihat aku saat ini yang Alhamdulillah telah tersentuh oleh hidayah-Nya, tetapi sayang dia telah tiada, yang tersisa hanyalah kenangannya dan juga Ahmad dan Fatimah. Duhai mujahidaku tersayang, maafkan abi yang telah melalaikanmu.. Abi tahu berlarut-larut dalam kesedihan ini tak baik.., tetapi kesedihan ini entah mengapa tak pernah lekang dari perasaan abi.. Abi janji pada ummi, akan menjaga Ahmad dan Fatimah, mujahid dan mujahidah kitatercinta…, insya Allah mereka akan tumbuh dengan akhlak seperti umminya atau mungkin lebih dari abi dan umminya..

    Selamat jalan wahai mujahidahku tersayang, semoga Allah menerima semua amal ibadahmu dan menempatkanmu di Jannahnya yang tertinggi…Aamiin

    Palestine, emang Gue Pikirin?

    Judul : Palestine, Emang Gue Pikirin?
    Penulis : Shofwan Al-Banna
    Penerbit : Proumedia ‚Äď Yogyakarta.
    Cetakan ke : II
    Tahun Terbit : September 2006
    Tebal Buku : xii + 308 halaman

    Cover buku “Palestine, Emang Gue Pikirin?”

    dakwatuna.com ‚ÄstKonflik Palestina-Israel, hingga kini belum berujung. Konflik yang bermula sejak berdirinya Negara (tidak sah) bernama Israel di tanah Palestina pada 14 Mei 1948 itu sampai kini belum berakhir. Bahkan, Sidang Umum tahunan PBB September lalu, seakan tak bermakna apa-apa bagi Palestina. Israel berhasil melobi Amerika sehingga Negeri Paman Sam itu menggunakan hak vetonya. Dan hingga kini, Palestina yang kita cintai tetap berada dalam cengkeraman Zionis Israel yang tidak tahu diri.

    Berbagai makar dilakukan oleh kaum Zionis ini. Mereka menghalalkan bermacam cara demi ambisi mereka : menduduki Palestina dan mengubahnya menjadi Israel. Mereka berdalih beraneka rupa, mulai dalih agama sampai dalih sejarah. Mereka mengklaim bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan oleh dewa-dewa mereka. Dalam segi sejarah, mereka mengatakan bahwa di Palestina terdapat peninggalan-peninggalan sejarah milik nenek moyang mereka yang berarti bahwa dahulu Zionis Israel pernah tinggal dan menetap di bumi Palestina.

    Secara fakta, semuanya bohong. Kedua dalih tersebut hanyalah isapan jempol yang tidak terbukti. Ya. Israel kehabisan cara karena hampir semua negara pernah menolak keberadaan warga zionis untuk tinggal di dalamnya. Mulai dari Italia, Spanyol, Jerman, Rusia, bahkan Amerika, pada zaman dahulu pernah mengusir bangsa kera ini. Hal ini terjadi karena sikap Zionis Israel yang selalu merasa super. Mereka mengklaim bahwa mereka adalah kaum terbaik. Sehingga, mereka merasa layak menghuni bumi ini sendirian. Sedangkan selain mereka, tidaklah layak menghuni bumi ini. Ya. Mereka menghendaki ‚Äėhengkangnya‚Äô kita dari bumi ini. Dalam kamus mereka : Bumi ini hanya milik golongan kami.

    Adalah wajar bagi Bangsa Palestina untuk membela diri. Bagaimanapun, penjajahan haruslah dihapuskan. Maka perlawanan demi perlawanan digalakkan oleh warga Palestina untuk mengusir Zionis dari tanah suci mereka. Mulai dari perang dengan bersenjatakan batu  (intifadhah ), dengan bom Molotov, bom mobil, hingga jalur diplomasi tidak luput dilakukan oleh warga Palestina dan pemerintahan Palestina yang mendambakan kemerdekaan. Meskipun, hingga kini belum berhasil. Palestina tetap dalam cengkeraman penjajahan zionis yang keji.

    Mereka melakukan berbagai cara pembantaian dan pembunuhan terhadap warga Palestina. Di manapaun dan kapan pun. Mulai dari pembantaian massal, meratakan sebuah perkampungan dengan tanah untuk kemudian dibangun pemukiman yahudi, membunuh warga yang tengah khusyu‚Äô melakukan shalat subuh, sampai para pengungsi pun dibasmi, termasuk di dalamnya bayi ¬†dalam kandungan, anak-anak balita yang tak berdosa, pelajar, kaum ibu-ibu, pun para jompo, semuanya dibasmi oleh Zionis jika label mereka ‚ÄėWarga Palestina‚Äô.

    Dunia Islam pun diam. Mereka tidak bisa berkutik. Hanya mengecam dan mengancam. Belum ada upaya pasti dari pemimpin negeri mayoritas muslim untuk membantu Palestina secara sungguh-sungguh.

    Apalagi dunia internasional. PBB dan Amerika sengaja diam. Karena mereka termasuk dalang di balik perang ini. Lihat saja sebuah statistik, Amerika secara rutin mengguyurkan dananya sebesar 620an juta dolar per tahun kepada Israel untuk memerangi warga Palestina. Belum lagi dana terselubung dari penjualan produk-produk Zionis dan Amerika yang bertebaran di seluruh penjuru dunia.

    Dukungan Amerika terhadap yahudi adalah keniscayaan. Karena kejayaan (semu) mereka adalah hasil dari sokongan warga-warga Zionis Yahudi di balik layar. Ya, singkatnya : Dunia berada dalam cengkeraman keji Zionis Yahudi. Na’udzubillah.

    Meski diteror dengan beraneka rupa pembantaian dan pembunuhan, warga Palestina tidaklah menyerah. Bahkan, mereka merasa bangga ketika bisa syahid saat melawan penjajah zionis. Mereka yakin bahwa kematian mereka adalah sarana untuk menebus surga yang Allah janjikan kepada siapa saja yang berjihad di jalan Allah. Warga Palestina, dengan segala keterbatasannya membuat kita belajar tentang makna pengorbanan yang sesungguhnya. Berkorban atas nama bangsa, berkorban atas nama agama Islam, meski dengan nyawa yang mereka miliki.

    Paparan di atas adalah sekilas mengenai konflik Palestina-Israel yang belum juga berujung. Paparan ini, bisa pembaca lihat lebih lanjut dalam buku bertajuk ‚Äú Palestina Emang Gue Pikirin.‚ÄĚ Buku yang ditulis dua jilid ( side A dan side B ) dalam satu buku ( bolak balik ) terbitan Proumedia- Yogyakarta ‚Äď merupakan sebuah buku yang sangat disayangkan untuk dilewatkan oleh siapa pun yang merasa peduli dengan saudaranya. Entah saudara sesama muslim, pun saudara sesama umat manusia. Pasalnya, pembantaian Zionis terhadap warga Palestina tidak berhenti pada pembunuhan warga muslim, melainkan juga warga nasrani. Bangunan yang diratakan dengan tanah pun, bukan hanya masjid melainkan juga gereja. Zionis, bukan hanya musuh Islam. Mereka adalah mush kemanusiaan.

    Yang membuat menarik dari buku ini adalah kemasan yang ‚Äėciamik‚Äô. Sajian dengan bahasa gaul, bentuknya yang sedang dan covernya yang ‚Äėjihadi‚Äô membuat buku ini tidak kehilangan makna ilmiahnya karena dilengkapi dengan data-data akurat seputar kebengisan Zionis.

    Pembaca akan juga mendapatkan sebuah gambaran lengkap terkait sejarah Palestina dari awal. Termasuk jenis-jenis perlawanan rakyat Palestina, hingga sejarah para Penyelamat Palestina seperti Umar bin Khattab dan legendaris Shalahuddin Al Ayyubi. Pembaca juga akan disajikan sebuah suguhan bergelora tentang syahidnya para Pejuang Palestina. Sebut saja  Imaduddin Zanki, Imad Aqil, Syeikh Izzudin Al Qosam, Sang Insinyur Yahya Ayyash, hingga siswi SMA bernama Akhyat Akhras yang mengorbankan nyawanya demi Palestina, sementara calon suaminya sudah menunggunya di hari perkawinan keduanya. Serta pejuang-pejuang lain yang bangga ketika peluru Zionis berhasil bersarang dan melukai tubuh-tubuh mereka.

    Buku ini juga menyajikan bermacam pembantaian yang dilakukan oleh Zionis, hingga produk-produk Amerika yang terbiasa dikonsumsi ¬†oleh umat Islam Indonesia yang muaranya adalah dana perang untuk Israel melawan Palestina. Buku ini benar-benar membuka cakrawala berpikir kita sehingga kita tidak mudah mengekori opini publik yang cenderung ‚Äėkontra‚Äô Palestina dan Islam.

    Dalam buku ini, diterangkan pula perbedaan antara Zionis sebagai Ideologi, Israel sebagai sebuah negara ( tidak syah ) dan Yahudi sebagai induk dari keduanya. Karena kebanyakan kita tidak tahu dan menyamakan ketiganya. Padahal, ketiganya serupa, tapi tidaklah sama.

    Bagian akhir dari buku ini merupakan sebuah langkah pasti¬† yang tidak hanya bicara. Penulis ‚Äď Shofwan Al Banna ‚Äď benar- benar mengajak kita untuk tidak hanya berpangku tangan. Agar kita tidak hanya diam, apalagi sekedar bertepuk tangan ketika melihat saudara-saudara kita dihujani peluru dan bom. Lebih jauh, penulis benar-benar menyajikan langkah-langkah pasti bagi kita untuk memberikan apa yang kita punya demi tegaknya Palestina Merdeka. Ada langkah-langkah praktis seperti Persiapan diri, Penyebaran informasi, Mendukung ormas Pro Palestina, hingga sumbangan dan darah demi tegaknya Al Aqsha dan Palestina dalam naungan keadilan Islam.

    Akhirnya, buku ini sangatlah disayangkan jika tidak di baca oleh siapa saja yang merasa peduli Al Aqsha, Palestina, Islam dan Dunia. Karena Dunia ini, nampak lebih indah tanpa adanya Zionis yang keji.

    Sebagi sebuah karya tulis, tentunya buku ini tidaklah luput dari kekurangan. Kekurangan pertama adalah kurang tebalnya buku ini, sehingga pembaca merasa kurang puas untuk menelusuri lebih jauh tentang kelanjutan konflik yang tak kunjung usai ini. Jika saja ditulis buku kedua, bisa jadi akan lebih seru dan komprehensif. Kekurangan kedua, pada buku ini ada beberapa cetakan yang perekatnya kurang lekat, sehingga halamannya berguguran ketika dibalik menuju halaman berikutnya. Jika yang berguguran adalah tentara Zionis, tentunya itu yang kita harapkan.

    Akhir kata, saya sangat menikmati buku ini karena paduan antara keilmiahan dan kekocakan Penulisnya. Salah satu contohnya adalah sebuah pertanyaan retoris dalam buku ini. Ketika penulis bertanya, ‚Äú Mengapa Israel Berdiri?‚ÄĚ tentunya, kita akan mengkreasi beraneka jawab untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tapi dengan kecerdasan penulis, ia menjawab santai, ‚Äú Israel berdiri bukan karena bisulan atau karena tidak kebagian tempat duduk ‚Ķ.¬† Hehehehe.‚ÄĚ

    Selamat membaca, semoga berkah.

    Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15628/palestine-emang-gue-pikirin/#ixzz1bbBtAvZz