Nafkah, dahulukan Istri & Anak atau Keluarga Suami?

Assalamualaikum wr. Wb.
Ustad/ustdzah saya Iva, wanita dan sudah menikah. Saya bekerja dan memiliki anak 1 masih balita. Saya ingin bertanya, bagaimana islam memandang apabila dalam rumah tangga istri harus memenuhi kebutuhan sendiri & anak, dikarenakan suami harus membyar cicilan pinjaman di bank & memberikan nafkah ke ibunya, sedangkan ibu mertua mampu & msih dapat nafkah dari bapak mertua & dari kakak ipar setiap bulannya.
Suami takut ibunya marah jika tidak dikasih. Jadi suami tidak bisa menafkahi istri dan anak. Apakah dalam islam berdosa ustad/ustdzah ? Apakah islam memandang apabila tidak memberi nafkah ke ibunya, suami saya berdosa ? Apakah tidak bisa memberi nafkah istri dan anak termasuk mendzalimi istri & anak ? Mana yang harus didahulukan istri & anak atau ibunya? Sblm menikah saya seorang yatim & saya juga msih menjadi tulang punggung keluarga untuk menafkahi ibu saya dan adik saya sampai saat ini. Bagaimana islam memandang permasalahan ini, mohon jwabanya ustad/ustadzah. Sukron. Wassalam,

Jawaban
Assalamu alaikum wr.wb Alhamdulillahi Rabbil alamin. Washshalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du:
Dalam Islam jelas bahwa seorang suami bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surat an-Nisa ayat 34 dan al-Baqarah 233. 

Meskipun kondisi isteri mampu, berkecukupan, bahkan kaya, kewajiban untuk memberikan nafkah keluarga tetap menjadi tanggung jawab suami, kecuali kalau isteri ridha dg keadaan yang ada. Namun jika tidak, dan suami tetap tidak mau memberikan nafkah kepada isteri dan anak, maka sang suami berdosa. 

Rasul saw bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Jika seorang suami tidak pernah memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, bisa dilihat berapa banyak dosa yang ia tanggung sampai menjadi pertanggungjawaban di akhirat karena dituntut oleh Allah SWT.

Selanjutnya seorang suami memang dituntut untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak, serta kepada kedua orang tuanya jika mereka berada dalam kondisi membutuhkan dan kekurangan. Kalau suami bisa memenuhi kebutuhan mereka semua, maka wajib baginya untuk memenuhi.  
Namun jika penghasilan atau hartanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, maka harus ada prioritas. Yaitu yang harus didahulukan adalah isteri dan anak yang memang berada dalam tanggung jawab utamanya sebagai seorang suami.

Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw, “Mulailah dari dirimu dengan bersedekah (memberikan nafkah) untuknya. Lalu jika ada yang tersisa maka untuk keluargamu (isteri dan anakmu). Jika masih ada yang tersisa, maka untuk karib kerabatmu (orang tua, saudara dst), dan begitu seterusnya.”

Imam an-Nawawi berkata, “Apabila pada seseorang berhimpun orang-orang membutuhkan dari mereka yang harus ia nafkahi, maka bila hartanya cukup untuk menafkahi semuanya, ia harus menafkahi semuanya, baik yang dekat maupun yang jauh. Namun apabila sesudah ia menafkahi dirinya, yang tersisa hanya nafkah untuk satu orang, maka ia wajib mendahulukan isteri daripada karib kerabatnya yang lain.(Raudhah ath-Thalibin).

Melihat pada kasus Anda, hendaknya suami mendahulukan yang menjadi kewajibannya, yaitu menafkahi isteri dan anak. Jika kondisinya benar-benar tidak mampu menafkahi ibunya, maka suami tidak berdosa karena Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Hanya saja, hal ini harus dibicarakan secara baik-baik disertai dg pemberian pemahaman. Kalau ibu masih tetap bersikeras untuk mendapat nafkah suami, sementara Anda sebagai isteri ridha demi untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga, maka Anda mendapatkan pahala yang besar insya Allah. Namun jika tidak ridha, Anda berhak untuk menuntut suami.  
Semoga Allah memberikan keberkahan dan jalan keluar terbaik bagi Anda sekeluarga.

Wallahu a’lam.
Wassalamu alaikum wr.wb.

Tim syariahonline.com 

Petuah Orang Tua

Pernah ya dapat pesan dari orang tua kita? Pastinya dooong, setiap orang tua pasti akan memberikan pesan-pesan nya ke semua anaknya.

Karena dari mereka lah pengalaman dan perjalanan hidupku dimulai.

Karena dari mereka lah lahir aku.

Karena dari mereka lah aku bisa seperti ini.

Karena dari mereka lah, Allah mengirimkan Ar-Rahman dan Ar-Rahim Nya untukku.

Alhamdulillah sejak aku kecil, aku dilatih mandiri dan dilatih untuk survive di suatu tempat. Beberapa pesan yang tidak akan aku lupakan dari orang tuaku adalah:

  • Ucapkan TERIMA KASIH kepada orang yg telah membantu kita. Baik materi atau sekedar motivasi. Dan hal ini juga disampaikan oleh Rasulullah, dalam hadistnya:

” من لم يشكر الناس لم يشكر الله ”
“Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka dia tidak bersyukur kepada Allah” (HR. Ahmad)


Dalam hadits yang lain disebutkan :

” أشكر الناس لله أشكرهم للناس ”
“Orang yang paling bersyukur kepada Allah adalah mereka yang paling bersyukur kepada manusia” (HR. Al Baihaqi)


Dalam hadits yang lain disebutkan :

وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ
“dan barangsiapa yang berbuat kebaikan kepadamu maka balaslah dia” (HR. Abu Daud no. 1672, An-Nasai: 5/82, dan Ahmad dalam Al-Musnad: 2/68,99)


Kalau ingat dulu waktu kecil, apapun yang dikasih ke kita dari orang/ saudara harus mengucap terima kasih. Mau itu pertolongan, material atau apapun itu. Dan kalo kata ayah & ibu, kita harus bisa membalas jasa orang tersebut. Misal, dulu waktu kecil aku sering dititip Bude karena orang tuaku kerja. Pastinya dong banyak yg dikeluarkan Bude buatku, sekarang Bude udah meninggal. Nah gimana coba membalas kebaikan Bude?

Caranya sebisa mungkin Kita ucapkan terima kasih sama semua anak-anaknya Bude. Bude dan Pakde juga pasti punya cucu kan. Beberapa waktu kalau kita punya rezeki lebih karena hasil gaji kita, balaslah kebaikan-kebaikan Bude dulu kepada anak-anaknya dan cucu-cucunya. Kasih Lah 100ribu atau sekedar makanan buatan kita yang enak. Insya Allah suatu saat nanti Allah akan membalas kebaikan untuk anak-anak dan cucu-cucu kita.

Begitupun sebaliknya, kalau kita pelit, masa bodo sama yang sudah pernah menolong kita, lebih parah lagi tidak peduli. Udah dapat keenakan hidup di dunia, gaji besar, tapi tidak mau membalas kebaikan orang, suatu saat nanti anak-anak dan cucu-cucu kita tidak akan peduli sama kita. Believe or Not, IF you do It, you Will get it.



  • Mencoba untuk CARE dengan orang lain. Apalagi dengan orang dekat. Contoh: istri/suami, saudara (nenek, kakek, adik, kakak, tante, om, pakde, budhe), tetangga, dll. Care disini dalam arti kalau tidak bisa memberikan bentuk materi, coba untuk rasa empati. Menanyakan, bukan berarti ikut campur urusan orang. SMS/Telp/BBM dan sebagainya, karena sekarang banyak media sosial yang bisa dipakai hanya untuk sekedar bertanya.

“Anak yatim bukanlah anak yang ditinggal mati oleh kedua orang tua hingga ia menjadi miskin. Akan tetapi, anak yatim yang sebenarnya ialah seorang anak yang menemukan ibunya yang kurang mendidiknya dan menemukan ayah yang sibuk dengan pekerjaannya.” (baca kitab Tarbiyatu al-Aulaad Fii al-Islaam halaman 103-104)

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)


Apalagi kalau kita di rumah orang, dulu waktu mbah masih ada dan kalau lagi nginep di rumah mbah, ayah & ibu selalu bilang: “bangun pagi, cuci piring, nyapu, ngepel.. Kamu jangan enak-enakan aja, udah jadi gadis Ga boleh males harus rajin. Apalagi nginep di rumah orang. Masih mending kamu nginep di rumah mbah, kalau kami nginep di rumah orang lain, Temen kamu atau siapapun itu kamu harus rajin bantu-bantu. Jangan tidur terus, emang ya kamu raja di sini..”

Mak jleb ya kata2 nya.. Tapi itu yang jadi Ingatanku sampai sekarang bahwa dari kecil diajarkan harus rajin. Kalau perlu Ga boleh tuh berdiam diri di kamar. Harus silaturahim, keluar rumah, sosialisasi dengan saudara dan tetangga. Karena kata Rasul, “Barangsiapa yang rajin silaturahim, akan dipanjangkan umurnya. Aaamiiin.. 😊



  • Biasakan ucapkan MAAF pada siapapun baik itu keluarga dekat apalagi keluarga jauh, teman, orang yg tidak kita kenal sekalipun.

    PASTINYA dong semua manusia tidak luput dari yang namanya salah. Sengaja ataupun tidak disengaja. Bercanda ataupun serius. Itu bisa menyebabkan yang namanya sakit hati. 

     “Tidak halal seorang muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (Riwayat Abu Daud).

     Jadi kita tidak usah takut resiko meminta maaf, sebab jika kita sudah meminta maaf maka kita justru terbebas dari dosa karena kita tidak minta maaf. Dimaafkan atau tidak, kita telah mengaku bersalah dan meminta maaf.

    Minta maaf adalah hal terpenting yang harus diajarkan setiap orang tua kepada anaknya. Kakak salah harus minta maaf kepada adik. Orang tua salah harus minta maaf kepada anak. Suami salah harus minta maaf kepada istri. Presiden salah harus minta maaf kepada rakyat. Guru salah harus minta maaf kepada murid.

    Orang tua yang mengaku salah pada anak adalah orang tua yang baik. Orang tua bukan Tuhan yang tidak ada salah. Kita semua akan menjadi orang tua dan jika kita salah, minta maaf Lah pada anak-anak kita.

    Apa sih susahnya minta maaf? Mungkin terdengar kalau kita minta maaf duluan, berarti kita yang salah begitu. Belum tentu, orang yang minta maaf duluan akan dimuliakan Allah. Waktu kecil setiap melakukan kesalahan fatal aku hampir dikurung dikamar mandi kalau belum minta maaf sama orang. ^_^

    Rasulullah bersabda:

    “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab, tentu. Rasul bersabda, ‘Kamu bersikap sabar (hilm) kepada orang yang membencimu, memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim denganmu.’” (HR Thabrani)


    Membangun sikap mental pemaaf bukanlah perkara yang mudah. Munculnya kualitas pribadi pemaaf membutuhkan proses panjang dan pembinaan diri terus menerus. Maaf dan memaafkan biasannya terkait dengan telah tersakitinya harga diri dan fisik kita oleh orang lain. Merupakan watak khas manusia dan mungkin sebagian besar makhluk hidup lainnya, bahwa mereka cenderung tidak suka disakiti. Orang – orang yang matang dan sehat jiwanya akan memiliki perilaku yang dikendalikan oleh pertimbangan akalnya yang sehat.

    Sebaliknya banyak pula orang yang gagal atau belum mampu menggunakan sumber daya akalnya secara maksimal, sehingga seluruh hidupnya di kendalikan oleh hawa nafsu dan instingnya saja. Kecenderungan nafsu yang gemar dengan hal – hal yang mengenakkan dan memuaskan diri, kalau tidak diimbangi dengan kemampuan akal untuk menghasilkan pertimbangan yang sehat akan menjerumuskan manusia pada perilaku rendah yang tidak sesuai dengan martabat kemanusiaan.

    Sangat disayangkan orang tua yang tidak mengajarkan 3 hal diatas kepada anaknya waktu kecil. Yang membuat anak tersebut ketika dewasa bersikap apatis, egois, dan keras kepala. Nauzubillahimindzalik, semoga kita dan anak cucu kita dijauhkan dari hal-hal buruk.

    By: Arvina Irkantini

    Jakarta, 070715

    BSD

    Alhamdulillah hari yang cukup melelahkan bagiku untuk bekerja hari ini. Pulang ke rumah langsung selonjoran kaki. Anakku sudah tidur terlelap di kamar. Begitulah dilema ibu bekerja. Semoga Allah selalu me- rahmati kita. Karena dalam hadist Rasul:

    Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll). (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

    Meeting seharian di Telkomsel BSD yang jaraknya Subhanallah jauh nya dari kehidupan. Hehe.. Lebay sih.. 😉

    Jadi para suami yang istrinya bekerja setidaknya harus memberi kelonggaran waktu ya. ^_^

    Kadang terpikir dalam benakku kalau jadi Ibu rumah tangga itu enak ya. Bisa dekat dengan anak kapan saja dan 24 jam. Hati ini juga pasti tidak bisa dipungkiri karena fitrah wanita sebenarnya adalah Di rumah. Tapi menurutku Ibu yang bekerja di luar pun (baca: wanita karir) dan Insya Allah niatnya baik untuk mencari rezeki yang halalan toyyiban akan mendapatkan pahala juga dari Allah. Insya Allah

    Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli).  Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang  mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)


    Jadi jangan sedih ya untuk para istri yang membantu suaminya bekerja di luar rumah. Doakan selalu suami dan anak kita agar selalu mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Dan untuk para istri yang di rumah juga pasti mendapatkan pahala. Kita tidak tahu yang mana yang terbaik, karena pastinya semua Allah yang menilai.

    Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad)


    Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah- payahan dalam mencari nafkah. (HR. Ath-Thabrani)


    Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang  halal. (HR. Ad-Dailami)



      

    Ketika…

    Ketika

    1. KETIKA AKAN MENIKAH
    Janganlah mencari isteri, tetapi carilah ibu bagi anak-anak kita Janganlah mencari suami, tetapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

    2. KETIKA MELAMAR
    Kita bukan sedang meminta kepada orang tua/wali si gadis, tetapi meminta kepada Allah melalui orang tua/wali si gadis.

    3. KETIKA AKAD NIKAH
    Kita berdua bukan menikah di hadapan penghulu, tetapi menikah di hadapan Allah

    4. KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
    Catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendo’akan kita, karena kita harus berfikir untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila kita berfikir untuk BERCERAI karena menyia-nyiakan do’a mereka.

    5. SEJAK MALAM PERTAMA
    Bersyukur dan bersabarlah. Kita adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.

    6. SELAMA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA
    Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui tidak melalui jalan bertabur bunga, tetapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.

    7. KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA OLENG
    Jangan saling berlepas tangan, tapi sebaliknya justru semakin erat berpegang tangan.

    8. KETIKA BELUM MEMILIKI ANAK.
    Cintailah isteri atau suami anda 100%. Kita bukan menikah karena fisik, tapi karena Allah memilihnya untuk membuat kita lebih sabar.

    9. KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK.
    Jangan bagi cinta kita kepada (suami) isteri dan anak kita, tetapi cintailah isteri atau suami kita 100% dan cintai anak-anak kita masing-masing 100%.

    10.KETIKA EKONOMI KELUARGA BELUM MEMBAIK.
    Yakinlah bahwa pintu rizki akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan suami dan isteri.

    11.KETIKA EKONOMI MEMBAIK
    Jangan lupa akan jasa pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita. Karena tanpa istri/suami kita, kita tidak akan menjadi lebih baik, karena suami/istri kita selalu mengingatkan kita kepada Allah.

    12.KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
    Boleh bermanja-manja kepada isteri tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri membutuhkan pertolongan kita.

    13.KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
    Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.

    14.KETIKA MENDIDIK ANAK
    Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak, karena orang tua yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak .

    15.KETIKA ANAK BERMASALAH
    Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orangtua, yang ada adalah anak yang merasa tidak didengar oleh orang tuanya.

    16.KETIKA ADA PIL.
    Jangan diminum, cukuplah suami sebagai obat.

    17.KETIKA ADA WIL
    Jangan dituruti, cukuplah isteri sebagai pelabuhan hati.

    18.KETIKA MEMILIH POTRET KELUARGA
    Pilihlah potret keluarga sekolah yang berada dalam proses pertumbuhan menuju potret keluarga bahagia karena Allah.

    19.KETIKA INGIN LANGGENG DAN HARMONIS
    Gunakanlah formula 7 K
    1 Ketaqwaan
    2 Kasih sayang
    3 Kesetiaan
    4 Komunikasi dialogis
    5 Keterbukaan
    6 Kejujuran
    7 Kesabaran

    Muslimah (Akhwat) Sejati

    Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang Akhwat sejati?”

    Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.

    Anakku…
    Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.

    Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa banyak laki-laki yang menyukainya, tetapi dilihat dari sejauh mana ia dapat menjaga hati untuk tidak berpacaran dan menjaga hatinya untuk tidak mencintai lawan jenisnya yang belum menjadi muhrim / suaminya.

    Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.

    Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.

    Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

    Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.

    Akhwat sejati bukan dilihat dari kelembutan suaranya pada orang lain, tetapi dilihat dari seberapa lembut hatinya untuk banyak menolong orang lain.

    Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.
    “Lantas apa lagi Abi?” sahut putrinya.

    Ketahuilah putriku…
    Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian, tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.

    Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari Kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.

    Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang
    ia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

    Dan ingatlah…
    Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.

    Setelah itu sang anak kembali bertanya, “Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?”

    Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka!” Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan “Istri Rasulullah”.

    Muslimah

    Bersabarlah!

    kesedihan itu hanya sesaat
    agar kita lebih mendekatkan diri padaNya
    kelemahan kita adalah seringnya kita lupa, akan janji tulusNya

    dibalik segala kesedihan
    ada hikmah yang dapat di ambil

    dibalik segala kesusahan
    ada kemudahan yang telah disediakan olehNya

    lantas kapankah kita akan bersyukur?
    akan nikmat,rahmat,dan segala yang telah di berikan
    olehNya?

    lantas akankah kita bahagia?
    ketika kita lupa membahagiakan orang lain?

    apakah kita dapat mengerti?
    akan semua yang telah tersedia untuk kita

    kini saatnyalah
    memulai sesuatu dari hal yang kecil
    memulainya sejak sekarang

    janganlah lupa karena dunia yang sementara.

    kembali ke niat, kembali ke niat, kembali ke niat..

    karena semua akan diminta pertanggungan oleh Nya,

    Ya Rabb,, jaga tolong jaga diri ini untuk selalu mencintaiMu, hingga diujung waktuku..

    “Semua” ku serahkan pada Mu ya Rabb, hanya kepada Engkaulah aku mengadu dan hanya kepada Engkaulah aku berserah diri..

    Nabi Ayub yang diberi penyakit bertahun-tahun, tetap beriman..

    Nabi Ibrahim yang belum di beri anak bertahun-tahun, tetap beriman..

    Nabi Nuh yang keluarganya kafir, tetap beriman..

    Lalu, apa yang aku keluhkan?

    Ya Allah, ampuni aku untuk kehidupanku yang lebih baik..

    My Third Blog…

    Sudah kesekian kalinya aku membuat blog. Mulai dari blogspot, multiply, dan yang ketiga ya, wordpress ini.. Terkadang aku menjadi orang yang tidak konsisten dengan suka berpindah-pindah. Aku termasuk orang yang suka bosen dengan 1 pekerjaan. Hihihi,,maklumlah, masih muda (hah, muda??). Masih mau mencari-cari yang terbaik..Ingin mencoba ini dan itu. Mudah-mudahan semua yang aku lakukan, semua kata-kataku yang ku gores di berbagai blog akan menjadi tasbih-tasbih cintaku kepanya Nya. Amin,, saling mendoakan ya..Baru belajar..

    ^_____^