Tanggung Jawab Ayah terlepas setelah Anak Gadisnya Menikah

By: Udztad Felix Siauw

seorang anak perempuan itu milik ayahnya sampai dia dinikahi | maka datangilah ayahnya bila engkau betul-betul berani

karena ayahnya yang telah mengajarinya, memberinya makan | melindunginya, dan membuatnya mengenal Allah

karenanya ayahnya pula yang paling tahu perihal putrinya | jelas-jelas lebih tahu lelaki mana yang sanggup menggantikannya

karena menikahi seorang perempuan itu berarti menggantikan ayahnya | mengambil semua tanggungan ayahnya atas diri perempuan itu

memberinya makan, pakaian, kediaman, bersama-sama kita | mencintai, menyayangi, melindungi, jadi sandaran baginya

suami itu pemimpin dalam taat, yang harus lebih ibadahnya | pembimbing di jalan surga dan pengawal dari murka Allah

kesemuanya itu, segalanya itu, adalah ayah yang menilainya | Allah berikan kepada ayah, penilaian cocoknya calon suami

bukan berarti tak ada hak pada putrinya, hanya ayahnyalah wali | maka lelaki sejati, mendatangi dan meyakinkan walinya

bahwa dia pantas menjadi wali menggantikan ayahnya | bahwa tugas berat itu hendak dia pikul dengan sama baiknya

maka awalnya suami baik itu dari yang taat pada Allah | yang mendatangi walinya bukan hanya sibuk dengan putrinya

dan calon suami yang baik itu, tak pernah mengajak maksiat | berpacaran dan berkhalwat, atau amal nista sebelum menikah

yang meminang dengan hamdalah pada ayahnya | itulah yang bakal mengajak pada jalan bahagia 🙂

Nafkah, dahulukan Istri & Anak atau Keluarga Suami?

Assalamualaikum wr. Wb.
Ustad/ustdzah saya Iva, wanita dan sudah menikah. Saya bekerja dan memiliki anak 1 masih balita. Saya ingin bertanya, bagaimana islam memandang apabila dalam rumah tangga istri harus memenuhi kebutuhan sendiri & anak, dikarenakan suami harus membyar cicilan pinjaman di bank & memberikan nafkah ke ibunya, sedangkan ibu mertua mampu & msih dapat nafkah dari bapak mertua & dari kakak ipar setiap bulannya.
Suami takut ibunya marah jika tidak dikasih. Jadi suami tidak bisa menafkahi istri dan anak. Apakah dalam islam berdosa ustad/ustdzah ? Apakah islam memandang apabila tidak memberi nafkah ke ibunya, suami saya berdosa ? Apakah tidak bisa memberi nafkah istri dan anak termasuk mendzalimi istri & anak ? Mana yang harus didahulukan istri & anak atau ibunya? Sblm menikah saya seorang yatim & saya juga msih menjadi tulang punggung keluarga untuk menafkahi ibu saya dan adik saya sampai saat ini. Bagaimana islam memandang permasalahan ini, mohon jwabanya ustad/ustadzah. Sukron. Wassalam,

Jawaban
Assalamu alaikum wr.wb Alhamdulillahi Rabbil alamin. Washshalatu wassalamu ala Rasulillahi wa ala alihi wa shahbih ajmain. Amma ba’du:
Dalam Islam jelas bahwa seorang suami bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Alquran surat an-Nisa ayat 34 dan al-Baqarah 233. 

Meskipun kondisi isteri mampu, berkecukupan, bahkan kaya, kewajiban untuk memberikan nafkah keluarga tetap menjadi tanggung jawab suami, kecuali kalau isteri ridha dg keadaan yang ada. Namun jika tidak, dan suami tetap tidak mau memberikan nafkah kepada isteri dan anak, maka sang suami berdosa. 

Rasul saw bersabda, كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa karena ia telah menyia-nyiakan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.” (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Jika seorang suami tidak pernah memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, bisa dilihat berapa banyak dosa yang ia tanggung sampai menjadi pertanggungjawaban di akhirat karena dituntut oleh Allah SWT.

Selanjutnya seorang suami memang dituntut untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anak, serta kepada kedua orang tuanya jika mereka berada dalam kondisi membutuhkan dan kekurangan. Kalau suami bisa memenuhi kebutuhan mereka semua, maka wajib baginya untuk memenuhi.  
Namun jika penghasilan atau hartanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, maka harus ada prioritas. Yaitu yang harus didahulukan adalah isteri dan anak yang memang berada dalam tanggung jawab utamanya sebagai seorang suami.

Hal ini berdasarkan sabda Rasul saw, “Mulailah dari dirimu dengan bersedekah (memberikan nafkah) untuknya. Lalu jika ada yang tersisa maka untuk keluargamu (isteri dan anakmu). Jika masih ada yang tersisa, maka untuk karib kerabatmu (orang tua, saudara dst), dan begitu seterusnya.”

Imam an-Nawawi berkata, “Apabila pada seseorang berhimpun orang-orang membutuhkan dari mereka yang harus ia nafkahi, maka bila hartanya cukup untuk menafkahi semuanya, ia harus menafkahi semuanya, baik yang dekat maupun yang jauh. Namun apabila sesudah ia menafkahi dirinya, yang tersisa hanya nafkah untuk satu orang, maka ia wajib mendahulukan isteri daripada karib kerabatnya yang lain.(Raudhah ath-Thalibin).

Melihat pada kasus Anda, hendaknya suami mendahulukan yang menjadi kewajibannya, yaitu menafkahi isteri dan anak. Jika kondisinya benar-benar tidak mampu menafkahi ibunya, maka suami tidak berdosa karena Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Hanya saja, hal ini harus dibicarakan secara baik-baik disertai dg pemberian pemahaman. Kalau ibu masih tetap bersikeras untuk mendapat nafkah suami, sementara Anda sebagai isteri ridha demi untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga, maka Anda mendapatkan pahala yang besar insya Allah. Namun jika tidak ridha, Anda berhak untuk menuntut suami.  
Semoga Allah memberikan keberkahan dan jalan keluar terbaik bagi Anda sekeluarga.

Wallahu a’lam.
Wassalamu alaikum wr.wb.

Tim syariahonline.com 

Beberapa Sikap

By : Uztad Felix Siaw

1. perkataan yang kasar dari suami tidak menjadikannya jantan | justru itu perlihatkan sikap terlihat kejam tanpa perasaan
2. wanita dicipta dari lekuk rusuk agar disayangi | tentu lebih layak dicintai setelah jadi istri
3. meluruskannya dengan paksa hanya mematahkannya | kesabaran dan kelembutan adalah kuncinya
4. istri diambil dengan amanah serta kalimat yang baik dari walinya | jaga dan berlakulah baik padanya sebagaimana Nabi meminta
5. siapa yang tak luluh hatinya bila memiliki suami | yang santun lisannya dan sabar dalam menasihati?
6. bukan agar istri takut pada suami lalu istri takut berlaku salah | namun agar dia enggan melihat suaminya sedih maka dia berlaku benar
7. maka ancaman apalagi pukulan bukanlah jalan | coba kata-kata lembut sejuk penuh pengertian pelan-pelan
8. sebetulnya bila istri senantiasa berbuat salah | maka sejatinya suaminya itu bermasalah
9. karena tugas suami bukan hanya menafkahi lahir | namun terutama agar dalam kebaikan dia jadi mahir
10. membimbing dan mengajari kebaikan adalah tugasnya suami | memimpinnya dalam kebenaran adalah kewajiban suami
11. jagan tuduh istrimu tidak sempurna melakukan kewajibannya | mungkin suaminya yang tidak penuh tunaikan haknya?
12. atau mungkin kedua-duanya selama ini bermasalah? | tanpa iman dan ilmu lantas nekat untuk menikah?
13. bagaimanapun suami adalah pemimpin atas istrinya | tak layak pemimpin tidak berlaku baik pada yang dipimpinnya
14. pandangilah dia bila memasak bagi anak-anakmu | dengarkan senandungnya saat menidurkan anak-anakmu
15. lisan yang baik itu merubah akal dan pikiran | lisan kasar dan amal kasar tanda cacat pikiran
16. perbanyak memahami kisah Rasulullah memerlakukan istri-istrinya | niscaya kita temukan hikmah pelajaran kaya pekerti
17. “sesungguhnya yang paling baik diantara laki-laki | adalah yang paling baik kepada istri-istrinya” (HR Ahmad)
18. kenyataannya jarang kita temukan suami dzalim pada istrinya | lantas Allah berikan kemudahan hidupnya di dunia
19. sayangi dan muliakan istrimu | bahagia dan berharga hidupmu

Sepertinya…

By: Uztad Felix Siaw

“wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu” (QS 5:1) | penuhi janji kepada Allah dan manusia

penuhi janji, atau jangan berjanji | bila sudah tak mampu penuhi, jangan menambah janji | hanya akan mengiris luka lagi
benar-benar pada janji terdapat asa bagi yang terjanji | dan asa akan berubah jadi luka bila belum tertunai
dan bila syahadat adalah janji setia pada Allah Tuhan Semesta | maka pernikahan adalah janji setia pada istri sang buah mata
untuk lelaki menunaikan janji bukan prestasi | namun sebuah kewajiban yang harus dipenuhi
karena setiap janji yang tak tertunai adalah aib | yang menjadi rekam jejak atas tanggung jawab
maka lelaki yang sejati | tak pandai umbar janji | karena setiap janji bernilai | pertanda harga diri
lelaki dilihat dari kata-katanya | bila sudah berdusta | tiada apa yang bisa dipercaya
==================================================================
aku menemani istriku seolah-olah itu perjumpaan terakhir | dan meninggalkan anakku seolah-olah takkan bertemu lagi
aku takut melampiaskan amarah pada anak-anak | karena aku khawatir itu yang terakhir mereka ingat
aku benci pergi dari istriku dalam keadaan marah | karena bisa jadi itu yang terakhir yang dia kenang
aku menulis agar anak-anakku mengenal persis siapa ayahnya | bukan dari lisan orang lain tapi dari tulisan ayahnya
aku meninggalkan istriku karena aku tahu persis | bahwa yang dia dan aku cari tiada ada di rumah
di medan perang ada nikmat yang tak disediakan ranjang | di medan dakwah ada bahagia yang tak didapat di rumah
mencintaimu itu anugerah | membencimu itu musibah

“Bila seorang lelaki berlaku baik pada istriya”

By : Ustad Felix Siauw

01. saat saya berbisnis dengan seseorang yang sudah menikah | biasanya saya selidiki dulu kualitas kebaikannya pada istrinya 
02. bila seorang lelaki berlaku baik pada istriya | maka dia partner bisnis yang kemungkinan besar terpercaya
03. tapi bila lelaki memperlakukan istrinya dengan kasar atau jahat | kemungkinan besar dalam bisnis pun akan berkhianat
04. logikanya, istri adalah orang yang paling dekat dengan suami | bahkan Allah berikan kedekatan lebih dari yang lain
05. “mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka” (QS 2:187) | begitu firman Allah Swt
06. bahkan didepan orangtua pun kita tidak diperkenankan telanjang | namun seorang suami diperkenankan begitu didepan istri
07. artinya, Allah Swt memberikan kedekatan suami-istri | kedekatan yang tiada bandingannya dari yang lain
08. logikanya, bila pada yang terdekat pun perlakuannya kasar | bagaimana perlakukannya dengan yang lain?
09. logikanya, bila dengan yang terdekat pun masih berdusta | maka bagaimana jadi partner bisnis yang bisa dipercaya?
10. lelaki yang dzalim dan kasar pada istrinya | cepat atau lambat pasti akan menghancurkan bisnis
11. karena elemen paling penting dalam partnership | ialah integritas dan bertanggungjawab | dan keduanya ciri penting suami salih 
12. tentang partner bisnis | skill bisa dilatih, pengetahuan bisa dicari | integritas dan tanggungjawab? nggak sehari dua hari
13. logikanya lagi, bagaimana lelaki yang hanya istri saja tidak bisa di-manage | lantas bisa me-manage bisnis dengan baik?
14. sabda Rasul dalam riwayat Imam Ahmad, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka..”
15. “… Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya” (HR Ahmad) | nah, ini lebih jelas lagi 
16. jadi menurut Rasulullah | mukmin sempurna = baik akhlaknya = baik terhadap istrinya | see? 
17. jadi carilah partner bisnis yang baik pada istrinya | yang baik rumah tangganya 
18. “terus gimana kalo yang belum nikah?” | ya makanya nikah dulu, hehe.. XP
19. nggak, nggak, serius nih | kalo yang belum nikah | lihat bagaimana cara dia perlakukan ibunya 
20. logikanya | anak taat orangtua = taat Allah = integritas dan tanggungjawab | nah, itu dia 
21. apalagi suami yang sayang istri dan sayang orangtua | keduanya nggak ada cekcoknya | cocoklah itu jadi partner bisnis yang baik 
22. jadi perbaikilah perlakuan pada istri | insyaAllah akan mengalir pula rezeki
23. juga jangan lupa hubungan dengan ibu dijaga | maka doa ibu insyaAllah berserta kita dan mencukupi
24. mulai dari berusaha melatih lisan yang baik | lalu lengkapi dengan amal yang baik | baik pada ibu ataupun istri
25. begitulah integritas dan tanggungjawab | keduanya mutlak diperlukan dalam rumah tangga | begitupun rahasia dalam berusaha
26. dan apa rahasia dari segala-galanya? | tentu ketaatan kepada Allah!

~Cintai Anakmu untuk Selamanya~

Pada saatnya anak-anak akan pergi, meninggalkan kita, sepi… 

Mereka bertebaran di muka bumi utk melaksanakan tugas hidupnya; berpencar, berjauhan. 

Sebagian di antara mereka mungkin ada yg memilih utk berkarya & tinggal di dekat kita agar berkhidmat kepada kita. 

Mereka merelakan terlepasnya sebagian kesempatan utk meraih dunia krn ingin meraih kemuliaan akhirat dgn menemani & melayani kita. 
Tetapi pd saatnya, kitapun akan pergi meninggalkan mereka. 

Entah kapan. 

Pergi dan tak pernah kembali lagi ke dunia ini….
Sebagian di antara kematian adalah perpisahan yg sesungguhnya; berpisah & tak pernah lagi berkumpul dlm kemesraan penuh cinta. 

Orangtua & anak hanya berjumpa di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala, saling menjadi musuh satu sama lain, saling menjatuhkan. 

Anak-anak yang terjungkal ke dlm neraka itu tak mau menerima dirinya tercampakkan shg menuntut tanggung-jawab orangtua yg tlh mengabaikan kewajibannya mengajarkan agama.
Adakah itu termasuk kita? 

Alangkah besar kerugian di hari itu jika anak & ortu saling menuntut di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala.
Inilah hari ketika kita tak dpt membela pengacara & para pengacara tak dapat membela diri mereka sendiri. 

Lalu apakah yg sdh kita persiapkan utk mengantarkan anak-anak pulang ke kampung akhirat? 

Dan dunia ini adalah ladangnya

Sebagian di antara kematian itu adalah perpisahan sesaat; amat panjang masa itu kita rasakan di dunia, tapi amat pendek bagi yang mati. 
Mereka berpisah untuk kemudian dikumpulkan kembali oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Tingkatan amal mereka boleh jadi tak sebanding. 

Tapi Allah Ta’ala saling susulkan di antara mereka kpd yg amalnya lebih tinggi.
Allah Ta’ala berfirman:

“والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء كل امرئ بما كسب رهين”

“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath-Thuur, 52: 21).

Diam-diam bertanya, adakah kita termasuk yang demikian ini? 

Saling disusulkan kepada yg amalnya lbh tinggi. Termasuk kitakah?
Adakah kita benar-benar mencintai anak kita? 

Kita usap anak-anak kita saat mereka sakit. 

Kita tangisi mereka saat terluka. 

Tapi adakah kita juga khawatiri nasib mereka di akhirat? 

Kita bersibuk menyiapkan masa depan mereka. 

Bila perlu sampai letih badan kita. 
Tapi adakah kita berlaku sama utk “masa depan” mereka yang sesungguhnya di kampung akhirat?
Tengoklah sejenak anakmu. Tataplah wajahnya. Adakah engkau relakan wajahnya tersulut api nereka hingga melepuh kulitnya? 

Ingatlah sejenak ketika engkau merasa risau melihat mereka bertengkar dengan saudaranya. 
Adakah engkau bayangkan ia bertengkar denganmu di hadapan Mahkamah Allah Ta’ala krn lalai menanamkan tauhid dlm dirinya?

Ada hari yg pasti ketika tak ada pilihan untuk kembali. 

Adakah ketika itu kita saling disusulkan ke dalam surga atau saling bertikai?
Maka, cintai anakmu untuk selamanya! 

Bukan hanya utk hidupnya di dunia. 

Cintai mereka sepenuh hati utk suatu masa ketika tak ada sedikit pun pertolongan yang dapat kita harap kecuali pertolongan Allah Ta’ala. 

Cintai mereka dgn pengharapan agar tak sekedar bersama saat dunia, lebih dari itu dapat berkumpul bersama di surga. 

Cintai mereka seraya berusaha mengantarkan mereka meraih kejayaan, bukan hanya utk kariernya di dunia yg sesaat. Lebih dari itu utk kejayaannya di masa yg jauh lebih panjang. 

Masa yang tak bertepi.

(Mohammad Fauzil Adhim)

Sudahlah..

⭕️ Suka mengungkit kebaikannya || Padahal Allah mencintai amal yang tersembunyi :

وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
“Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 271)

⭕️ Tidak bersyukur diberi pekerjaan || Padahal dapat kerjaan itupun ditolong orang:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

⭕️ Sudah dapat pekerjaan yang layak dan gaji diatas UMR || Padahal sholat tahajjud dan Dhuha pun jarang, bahkan tidak pernah
⭕️ Selalu minta anak-anaknya diberi pekerjaan yang layak ke Allah || Padahal kewajiban orang lain pun tidak dipenuhi

مَطْلُ الْغَنِ ظُلْمٌ
“Menunda penunaian kewajiban (bagi yang mampu) termasuk kezholiman” (HR. Bukhari no. 2400 dan Muslim no. 1564)

⭕️ Ingin mempunyai istri sholehah || Padahal dia sendiri tidak sholeh
⭕️ Ingin mempunyai suami sholeh || Padahal dia sendiri tidak sholehah
⭕️ Suka menyuruh khodimat mengerjakan pekerjaan yang banyak || Padahal gaji yang diberikan tidak sesuai:

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
“Berikan kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering.” (HR. Ibnu Majah, shahih).

⭕️ Suka menggunakan fasilitas orang lain || Padahal itu bukan miliknya :

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu (dengan jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (Al-Baqarah:188)

⭕️ Tidak suka mengucapkan terima kasih || Padahal menurut Rasul tanda bersyukur ke Allah adalah dia yang berterima kasih kepada manusia

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

⭕️ Ingin di doakan lancar rezekinya || Padahal kewajiban orang lain belum dipenuhi:

لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ
“Orang yang menunda kewajiban, halal kehormatan dan pantas mendapatkan hukuman” (HR. Abu Daud no. 3628, An Nasa-i no. 4689, Ibnu Majah no. 2427, Hasan)

⭕️ Suka berjanji manis di depan, namun realisasinya NOL || Padahal Allah akan meminta pertanggungjawabannya:

“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.’ SQ. Al-Isra’: 34. ‘dan penuhilah janji Allah.’” (QS. Al-An’am: 152)

⭕️ Suka meminta dan memakai harta orang lain || Padahal sudah punya harta dari gajinya sendiri
⭕️ Tidak memberi nafkah keluarga lantaran istri bekerja || Padahal Dosa besar sedang mengintai Anda.

Abu Daud dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata; Rasulullah saw bersabda: “Cukuplah dosa bagi seseorang dengan ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” Didalam sabdanya yang lain yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan : “Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa orang-orang yang menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya.”

⭕️ Senang berbohong dan sumpah palsu || Padahal Itu adalah ciri orang munafik

Nabi Muhammad SAW: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat. “(HR. Muslim)

⭕️ Suka cari perhatian atasan || Padahal jarang cari perhatian Allah
⭕️ Suka mengkritik orang lain || Padahal dirinya sendiri tidak mau dan marah di kritik

Umar bin Khaththab berkata, “Jangan menyangka buruk terhadap saudaramu apabila masih mungkin dimaknai dengan makna yang baik”.

Bukan bermaksud menyindir seseorang, tapi ini adalah kesimpulan dari beberapa cerita sahabat. Sudahlah.. Mungkin kita sedang lelah. Hanya Allah yang akan membalas.

#Fastabiqul Khairat

@vinpun

Jakarta, 28 May 2015

👉 Kita Mengetahui, Tapi Sayang, Kita Tidak Mengamalkan 👈

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengisahkan: “Seorang anak perempuan meninggal karena Thoun, kemudian ayahnya melihatnya di dalam mimpi, maka ayahnya berkata kepadanya: “Wahai anakku kabarkan kepadaku tentang akhirat!”

Anak perempuan itu menjawab: “Kami telah melewati perkara yang sangat besar, dan sesungguhnya kita telah mengetahui, tapi kita tidak mengamalkannya. Demi Allah, sesungguhnya satu ucapan tasbih atau satu rakaat sholat yang tertulis dalam lembaran amalku lebih aku sukai daripada dunia dan seluruh isinya”..

Berkata Ibnul Qayyim: “Anak perempuan itu telah mengatakan perkataan yang dalam maknanya (sesungguhnya kami mengetahui, tapi kita tidak mengamalkan), akan tetapi banyak diantara kita yang tidak memahami maknanya..”

Kita mengetahui, bahwa ucapan سبحان الله وبحمده Subhanallahi wa bihamdihi sebanyak 100 kali  akan  menghapuskan dosa-dosa kita, walaupun dosa kita sebanyak buih di lautan. Akan tetapi sayang.. Berapa banyak hari kita yang berlalu tanpa kita mengucapkannya sedikitpun..

Kita mengetahui, bahwa pahala  dua rakaat Dhuha setara  dengan pahala 360 shodaqah, akan tetapi sayang.. Hari berganti hari tanpa kita melakukan sholat Dhuha…

Kita mengetahui, bahwa orang yang berpuasa sunnah karena Allah satu hari saja, akan dijauhkan wajahnya dari api  neraka sejauh 70 musim atau 70 tahun perjalanan. Tapi sayang, kita tidak mau menahan lapar..

Kita mengetahui, bahwa siapa yang menjenguk orang sakit akan diikuti oleh 70ribu malaikat yang memintakan ampun untuknya.. Tapi sayang, kita belum juga menjenguk satu orang sakit pun pekan ini..

Kita mengetahui, bahwa siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya sebesar sarang burung, akan dibangunkan sebuah rumah di surga. Tapi sayang, kita tidak tergerak untuk membantu pembangunan masjid walaupun hanya dengan beberapa puluh ribu..

Kita mengetahui, bahwa siapa yang membantu janda dan anak yatimnya, pahalanya seperti berjihad di jalan Allah, atau seperti orang yang berpuasa sepanjang hari tanpa berbuka, atau orang yang sholat sepanjang malam tanpa tidur.  Tapi sayang, sampai saat ini kita tidak berniat membantu seorang janda pun..

Kita mengetahui, bahwa orang yang membaca satu huruf dari Al Qur’an, baginya sepuluh kebaikan dan satu kebaikan akan dilipatgandakan sepuluh kali. Tapi sayang, kita tidak pernah meluangkan waktu membaca Al Qur’an dalam jadwal harian kita…

Kita mengetahui, bahwa haji yang mabrur, tidak ada pahala baginya kecuali surga, dan akan diampuni dosa-dosanya sehingga kembali suci seperti saat dilahirkan oleh ibunya. Tapi sayang,  kita tidak bersemangat untuk melaksanakannya, padahal kita mampu melaksanakannya..

Kita mengetahui, bahwa orang mukmin yang paling mulia adalah yang yang paling banyak sholat malam, dan bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya tidak pernah meremehkan sholat malam di tengah segala kesibukan dan jihad mereka. Tapi sayang kita terlalu meremehkan sholat malam..

Kita mengetahui, bahwa hari kiamat pasti terjadi, tanpa ada keraguan, dan pada hari itu Allah akan membangkitkan semua yang ada di dalam kubur. Tetapi sayang, kita tidak pernah mempersiapkan diri untuk hari itu..

Kita sering menyaksikan orang-orang yang meninggal mendahului kita, tetapi sayang, kita selalu larut dengan senda gurau  dan permainan dunia seakan kita mendapat jaminan hidup selamanya dan tidak akan akan menyusul mereka..

Wahai Saudaraku yang dirahmati Allah.. Semoga kita segera merubah keadaan kita mulai detik ini, dan mempersiapkan datangnya hari perhitungan yang pasti akan kita hadapi..

Hari dimana kita mempertanggung jawabkan setiap perbuatan kita di dunia..

Hari ketika lisan kita dikunci, sedangkan mata, kaki, dan tangan kita yang menjadi saksi..

Dan pada  hari itu, setiap orang akan lari dari saudaranya, ibu dan bapaknya, teman-teman dan anaknya, karena  pada hari itu setiap orang akan disibukkan dengan urusannya masing-masing..

📝 Diterjemahkan oleh Ummu Sholih
Di kota Madinah

  

By moslemsmiles Posted in HikMah

Wasiat Rasulullah kepada Fatimah

“coba ingat kembali Wasiat Rosulullah SAW kepada Fatimah putri Beliau, yang dipersunting Ali Bin Abi Thalib yang sangat miskin, yang ketika itu juga sedang mengeluh kepada Ayahnya Rosulullah SAW karena tangannya yang dulunya halus kini berubah menjadi kasar dan lecet-lecet karena setiap hari harus menumbuk gandum sendiri, mengolah dan memasaknya. Ada 10 WASIAT Beliau kepada Putrinya :

1. Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, kelak Allah akan tetapkan baginya kebaikan dari setiap biji gandum yang diadonnya, dan juga Allah akan melebur kejelekan serta meningkatkan derajatnya.

2. Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah akan menjadikan antara neraka dan dirinya tujuh tabir pemisah.

3. Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan kemudian mencuci pakaiannya, maka Allah akan tetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

4. Wahai Fatimah ! Sesungguhnya wanita yang membantu kebutuhan tetangga-tetangganya, maka Allah akan membantunya untuk dapat meminum Telaga Kautsar pada hari kiamat nanti.

5. Wahai Fatimah ! Yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu,maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah Fatimah, Kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.

6. Wahai Fatimah ! Disaat seorang wanita hamil, maka malaikat memohonkan ampunan baginya, danAllah tetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan, serta melebur seribu kejelakan. Ketika seorang wanita merasa sakit akan melahirkan, maka Allah tetapkan pahala baginya sama dengan pahala para Pejuang Allah. Disaat seorang wanita melahirkan kandungannya, makabersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Disaat seorang wanita meninggal karena melahirkan, maka dia tidak akan membawa dosa sedikit pun, didalam kubur akan mendapat taman yang indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah memberikan padanya pahala yang sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.

7. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri melayani suaminya selama sehari semalam, dengan rasa senang dan ikhlas, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya dihari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allahpun akan memberikan kepadanya pahala seratus kali ibadah haji dan umrah.

8. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri tersenyum dihadapan suaminya, maka Allah akan memandangnya dengan pandangan penuh kasih.

9. Wahai Fatimah! Disaat seorang istri membentangkan alas tidur untuk suaminya dengan rasa senang hati, maka para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wanita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.

10. Wahai Fatimah! Disaat seorang wanita meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggotnya dan memotong kumisnya serta kuku-kukunya, maka Allah akan memberi minuman yang dikemas indah kepadanya, yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah pun akan mempermudah sakaratul maut baginya, serta menjadikan kuburnya bagian dari taman surga. Allah pun menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal mustaqim dengan selamat.

By moslemsmiles Posted in HikMah

KEMBALIKAN ANAK LELAKIKU

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya:“Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!”
Suamiku menjawab:“Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku.”
Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:

“Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.”
Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”
Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.
Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan. Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima.
Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah. Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.
Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:

“Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!” Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!”
Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu.
Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!” Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.
Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.
Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: “Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!”
Allahumma Shalii ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?”
Aku memandang suamiku yang terpaku.
Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu? Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, “Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta.
Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan. Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya.
Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: “Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang.”
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan. Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu
Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu.

Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu.
Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu! Amin, Alhamdulillah.
👆Itu Sepenggal Kisah Nyata Kehidupan Bunda Neno Warisman utk para Ayah Indonesia dalam buku “Izinkan Aku Bertutur”